Jumat, 09 Desember 2011 0 komentar

Hmmmm....

Awan gelap masih menggantung di langit soreku, menitikkan air jernih butir demi butir. Hujan..., ya hujan sejak beberapa saat yang lalu tak beranjak dari sekelilingku...
Tak ada angin... hanya hujan yang terus turun seolah mengingatkanku pada seorang anak yang selalu merasa dirinya kecil atau dianggap anak kecil. Pernah kukatakan padanya bahwa kamu adalah sosok yang kuat, sorot matamu mengisyaratkan bahwa sesuatu yang besar sedang menantimu yang akan membuatmu menjadi 'besar' dan tak dipandang anak kecil lagi...
Waktu..., ya... waktu. Waktu yang akan membuktikan pada mereka jika kamu bukan anak kecil lagi, karena waktulah yang akan mendewasakanmu, membebaskanmu dari sangkar kecil yang mengurungmu, melepaskanmu dari jerat yang mengikatmu...
Terlepas dari waktu... tetap saja membutuhkan kesabaran untukmu menanti sebuah 'pengertian' seperti yang selalu kau inginkan... tapi jangan terburu-buru untuk mendapatkannya, tetaplah berjalan pada koridormu... karena hidup itu sendiri merupakan bagian dari sebuah proses menunggu...
Percaya dan yakin bahwa hari itu akan datang padamu...
"I UNDERSTAND YOU"
Selasa, 29 November 2011 0 komentar

Ruang Tunggu ke-2 Jelang Shalat Jumat


“Eh, bu prof ada ya?” tanyaku pada Andi
            “Iya, dari tadi… lagi banyak yang ngantri tuh depan ruangannya, kesana saja… paling tidak setor muka dululah” jawabnya.
            “Tapi, banyak tuh yang lagi konsul RPP di ruangannya… kamu tunggu saja sana, paling juga nggak lama” lanjutnya.
            “Siiip lah…”
            Kutarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diriku. Entah kenapa sering saja kurasa ada ketegangan-ketegangan tak beralasan yang menghampiriku saat ingin masuk ke ruangan itu. Ruangan yang dingin plus cacing di perut yang sudah minta asupan seolah menambah lengkap keteganganku siang itu. Langsung saja ku masuk dalam ruangan itu dan duduk di kursi tunggu menunggu di panggil.
            “Kalau kamu ada keperluan apa? Kalau cuma tanda tangan, sini cepat saya tanda tangani” tanya dosenku padaku.
            “Ini bu, mau konsultasi judul yang waktu itu suruh diperbaiki redaksi kata-katanya” jawabku.
            “Oh, iya… tapi kayaknya masih perlu dipikir-pikir kata-katanya kalau itu, sepertinya saya tidak bisa dulu, karena ini juga masih banyak yang konsultasi, kamu kembali saja lagi nanti… lagian sekarang juga sudah hampir shalat Jumat, nanti kamu terlambat” jawabnya.
            “Oh, iya bu… permisi kalau begitu”
            “Makasih bu…”
            “iya…”
            Nihil. Perburuanku hari ini untuk mendapatkan persetujuan atas judul yang kuajukan belum membuahkan hasil. Sepertinya aku masih harus menunggu hari ketiga untuk tanda tangan blanko ‘USULAN JUDUL PENELITIAN’ku.
Selasa, 25 Oktober 2011 0 komentar

Ruang Tunggu ke-1


Berusaha menenangkan diri dan mengatur napasku siang ini. Kulanjutkan lagi pelajaranku hari ini yaitu menunggu. Menunggu bagiku dan mungkin bagi sebagian besar orang adalah pekerjaan paling membosankan, tapi mau tak mau harus kulakukan untuk mengakhiri apa yang telah kumulai empat tahun lalu.
            Hari ini perlahan aku mulai menyusuri setiap lembaran-lembaran yang akan menuntunku menuju apa yang aku cita-citakan, menuju mimpi-mimpi yang telah lama aku jaga. Dan masih di kursi tunggu itu. Masih dengan tarikan nafas yang coba untuk kuatur.
            Udara dingin yang berhembus dari pendingin ruangan itu seolah menguji nyaliku hanya untuk mengajukan judul penelitian. Sesak dan dingin semakin menusukku kurasa. Kurang lebih lima belas menit aku menunggu di ruangan itu sampai dipersilahkan untuk konsultasi judul. Kulihat senyum dari wajah dosen itu semakin menguatkanku meski dingin terus menusuk.
            “Ini bu, judul penelitian yang mau saya ajukan” kataku membuka percakapan.
            “Yang mana nak?” tanyanya.
            “Yang ini bu, tentang pengembangan website” lanjutku.
            “Kamu mampu tidak? Jangan sampai kamu terkatung-katung nanti mengerjakannya”.
            “insya Allah bu, saya usahakan” jawabku sedikit ngotot.
            “Tidak usah yang susah-susah,  ambil yang mudah saja…” katanya dengan lembut.
            Tak mampu rasanya ku menolak saran yang diberikannya. Meskipun aku ingin sekali berekplorasi dengan pengembangan web itu, tapi akhirnya aku harus mengalah dengan berbagai pertimbangan.
            “Kamu ambil yang ini saja, yang penting bagaimana distribusi medianya ke siswa” lanjutnya.
            “Sekarang, perbaiki redaksi kata-katanya dulu ya baru nanti kembali konsultasikan lagi…” tutupnya.
            “Oh iya bu, makasih…” jawabku seraya pamit meninggalkan ruangan yang dingin itu.
Selasa, 27 September 2011 0 komentar

Terlalu Banyak 'Presiden'nya

Ada hal yang menarik perhatianku siang tadi. Saat aku dan temanku sedang duduk-duduk di ruangan himpunan. Kulihat seorang dosenku berjalan masuk dan berhenti di pintu himpunan.
    “Bisa minta tolong sebentar?” katanya.
    “Iya pak, kenapa?” jawab kami yang sedang di himpunan.
    “Tolong carikan saya mahasiswa angkatan yang baru kelas ICP, satu biji saja” lanjutnya.
    “Iya pak, nanti kami panggilkan” jawabku dan teman-teman.
    Belum sempat kami keluar dari himpunan, ada seorang mahasiswa yang memang mahasiswa baru dan dari kelas yang dicari oleh dosenku tadi dan menyapanya.
    “Saya pak, kelas ICP angkatan 2011” kata mahasiswa itu.
    “Ooo… kamu, sekarang kamu kuliah apa?”
    “Biologi Dasar, pak” jawabnya.
    “Periksa baik-baik jadwalmu!” sambung dosenku yang kulihat mulai menampakkan wajah tak ramah. Beliau memang dikenal sebagai dosen yang tak bisa nego dan dosen yang paling konsisten terhadap jadwal perkuliahan yang ada. Tak pernah terlambat. Jika ada kuliah yang akan dibawakannya dan dia tak datang dalam waktu sepuluh menit, bisa dipastikan dia tak akan masuk pada hari itu dikarenakan ada hal yang sangat penting.
    “Sudah lihat jadwalnya?” lanjutnya.
    Mahasiswa baru itu kemudian mengeluarkan selembar kertas yang berupa jadwal kuliah dan memperlihatkannya kepada dosen. Dan memang benar saat itu jadwalnya kuliah Biologi Dasar berdasarkan jadwal yang mereka pegang.
    “Kenapa jadwal yang saya pegang berbeda? Seharusnya sekarang kuliah Filsafat Pendidikan” kata dosenku. Dan semakin tampak wajah tak ramah itu serta senyum mengejek yang sering kulihat dari wajahnya.
    “Kami juga tidak tau pak” jawab mahasiswa baru itu.
    “Kalian tau? Tadi saya mengajar Filsafat Pendidikan di belakang sana setengah jam lebih sebelum saya disadarkan oleh seorang mahasiswa yang bilang kami bukan calon guru pak!” keluhnya pada kami yang sedang duduk di himpunan.
    “Hah… susah memang kalau terlalu banyak ‘presidennya’…” lanjutnya.
    “Oke, sebagai dendanya… kalian tidak akan mendapat kuliah dari saya selama tiga kali pertemuan” lanjutnya seraya meninggalkan para mahasiswa baru itu.
    Entah apa yang harus kukatakan saat itu. Ingin rasanya tertawa melihat para mahasiswa baru itu mendapatkan shock therapy di minggu keduanya kuliah. Tapi, di sisi lain ada rasa kasihan melihat mereka yang tak tahu apa-apa menjadi korban dari sebuah sistem yang tidak beres. Terlalu banyak yang ingin mengatur. Terlalu banyak yang membuat jadwal sehingga ada yang tumpang tindih. Sudah menumpang, menindih lagi…
    Begitulah yang terjadi di jurusanku. Banyak orang yang tak tahu apa-apa menjadi korban sebuah sistem yang belum mereka mengerti. Paling tidak mereka akan terbiasa dengan hal itu. Pikirku.
Senin, 30 Mei 2011 0 komentar

Tanpa Kata


Malam tiba..
Tak ada yang hampa..
Semua nyata..
Meski tanpa kata..

Ketika semua berebut..
Tanpa sadar ada yang terenggut...
Ingin kusebut..
Tapi semua hilang dalam kabut...

Saat malam semakin larut..
Aku tak turut..
Karena aku tlah hanyut...
Pada sesuatu yang luput..
Minggu, 13 Maret 2011 0 komentar

Tentang Hujan dan Dirimu

 Hmm.. Pagi yang cerah.
Sepertinya hari ini tak akan hujan. Sesekali kulihat langit tak ada awan hitam yang menggumpal. Hangat mentari menerpa tubuhku pagi ini. Mungkin banyak orang yang berpikiran inilah saat yang tepat untuk menghabiskan seluruh pakaian kotor yang menumpuk bak gunung itu. Ya.. pagi ini memang cerah.

Mengapa hujan? Mengapa hujan slalu kurindukan? Hujan yang selalu memberikan kesegaran pada tumbuhan yang sedang kering. Hujan yang terkadang memberikan pelangi setelahnya. Hujan yang sesekali membuat jalan-jalan tergenang bahkan sampai hujan yang terkadang membuat jemuran yang sudah hampir kering kembali basah.
0 komentar

Hanya Ingin Melihatnya Tersenyum...

Mendung di sore itu.. ketika kemudian aku menyusuri jalan beraspal. Sedikit kulihat langit yang semakin menghitam sebagai pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Resah yang kurasakan melihat seorang anak laki-laki yang dari tadi kuperhatikan terus-terusan memencet tombol Hpnya. Mungkin ia sedang menunggu seseorang. Tak berapa lama kemudian kulihat ia tersenyum ke arah belakangku.. ternyata ada seorang anak perempuan berkerudung merah dengan pakaian merah bergaris hitam tersenyum padanya. Kupikir dialah yang sedari tadi ia tunggu dengan gelisah. Dan benar saja, sesaat kemudian anak perempuan itu menghampirinya.

“Gimana?? Dah siap berangkat?” Anak laki-laki itu membuka percakapan. Namun hanya dibalas dengan anggukan dan senyuman dari anak perempuan berkerudung merah tadi.
Mereka kemudian duduk di atas pundakku dan membawaku menyusuri jalan beraspal menuju suatu tempat yang telah mereka sepakati. Kurasa waktu sangat berjalan lambat saat itu, entah karena memang aku yang lambat atau tidak. Di atasku mereka berbincang tentang masalah kampus, tentang nilai, mata kuliah, dan banyak lagi sampai kurasa setitik demi setitik air membasahiku. Ternyata langit telah menumpahkan airnya sedikit demi sedikit. Kudengar anak perempuan tadi berkata “Kak, cepatki.. hujan..”. Tapi kulihat anak laki-laki itu seakan menikmati turunnya hujan yang lama kelamaan butirannya menjadi semakin besar. Mungkin ia mempunyai perasaan yang ‘spesial’ terhadap anak perempuan ini.
 
;