Rabu, 30 Oktober 2013 1 komentar

setelah 24 tahun...

Ini postinganku yang ke-100 di blog ini. Kenapa saya harus menunggu hari ini untuk menuliskannya? ya, hanya sekedar kilas balik perjalanan hidupku setelah 24 tahun.

Yap, hari ini di tanggal yang sama, dua puluh empat tahun yang lalu, aku dilahirkan. Aku pernah, tidak sekali mendengar cerita mama tentangku. Katanya aku lahir hari Selasa tanggal seperti hari ini, tiga puluh Oktober, tapi setelah kupastikan dengan kalender digital, tiga puluh Oktober dua puluh empat tahun yang lalu itu ternyata hari Senin, dan bukan Selasa. Aku menyimpulkan bahwa aku terlahir Senin malam sehingga mama menyebutku lahir hari Selasa dimana pertama kali siang menjumpaku. Tapi, sudahlah persoalan hari tidak usah dibahas karena aku tak tahu keadaan waktu itu dan au tidak punya alasan jika kemudian aku harus mempertanyakannya.

Baiklah, sebenarnya ada cerita dibalik kelahiranku. Aku anak kedua dari enam bersaudara. Menurut cerita mama, diantara saudara-saudaraku yang lain, akulah yang paling sulit dilahirkan. Mmmm... mungkin seperti antara ingin dan tidak untuk terlahir, apakah saat ingin dilahirkan saja aku sudah ragu? Tapi, aku bisa membayangkan apa yang dirasakan mamaku waktu itu. Meski jelas aku tak mungkin bisa merasakannya. Love you mama. Mama bercerita bahwa pada saat aku dilahirkan, kepalaku sempat keluar dan kemudian masuk lagi, tapi entah berapa kali seperti itu. Aku tahu, kalian pasti bisa membayangkan bagaimana sakitnya apalagi itu adalah sebuah persalinan normal tanpa operasi. Mama sempat berpikir bahwa mungkin aku besar dan mungkin nantinya yang paling besar diantara saudara-saudaraku yang lain. Tapi, faktanya aku seperti bayi-bayi yang lain dengan berat normal dan sekarang aku telah dua puluh empat tahun dengan berat badan hanya dikisaran 44-48 kg. Tergolong paling kecil diantara saudara-saudaraku yang lain. Tapi, itu tidak masalah. Papaku malah pernah bercanda bahwa mungkin beratku badanku banyak diserap ke otak sehingga aku kecil... hahaha.

Minggu, 27 Oktober 2013 0 komentar

[5]

Mari sini sejenak. Mungkin beberapa jenak. Duduk di sampingku. Aku ingin bercerita banyak hal denganmu. Iya, banyak sekali. Tentang mimpiku, tentang harapku. Dan semoga saja aku tak bercerita tentang keluh dan resahku. Apa kamu ingin mendengarku? Jika pun tidak, tak apa. Biarkan saja aku sendiri disini.

Beberapa hari terakhir, aku masih memikirkanmu. Iya, padahal aku tidaklah mengenalmu. Bisakah kamu beralih dari imajiku? atau mungkin masih ingin disana mengukir senyum, meninggalkan jejak yang tak mudah hilang. Segala rindu lah, segala harap lah, dan segalanya yang seolah tampak bersatu serasa ingin membunuh. Yah, membunuh rasa.

Oh iya, maaf. Kadang aku terbawa suasana. Tadi aku ingin bercerita tentang mimpiku kan? Baiklah, kamu masih ingin mendengarku? Terima kasih atas kesediaanmu. Ah, iya aku punya mimpi lebih tepatnya impian menjadi seseorang yang menjelajahi negeri yang indah ini, melihat segala keragamnya dan kemudian menyampaikan pada dunia tentang negeriku. Aku juga ingin membuat sebuah sekolah dimana anak-anak yang bersekolah didalamnya bebas berkreasi, berekspresi, hingga kemudian menjadi anak-anak bangsa yang patut dan layak dibanggakan.

Tentang harap, aku masih punya banyak harap yang menggunung. Tak perlu bercerita padamu, takutnya kamu bosan mendengarnya. Salah satunya sih, aku berharap bisa mengenalmu di kemudian hari. Entah kapan waktunya tiba. Semoga saja ada waktu yang tersisa untuk itu.

"Kamu, siapa?"
Minggu, 13 Oktober 2013 0 komentar

[4]

"Haloo 13 oktober..., delapan bulan setelah sidang komisi proposalku dan belum ada tanda-tanda konkrit akan selesainya skripsi ini. Tentu sebuah tanggungjawab yang besar dan berat mengingat begitu banyak waktu yang telah terlewat. Semoga saja masih ada manfaat yang kuambil dalam waktu yang telah terlewat itu". 

Semoga saja skripsi ini segera terselesaikan.
Kamis, 10 Oktober 2013 0 komentar

[3]

"Selamat pagi sepuluh oktober..."
Ya, hari ini oktober telah menampakkan harinya untuk yang kesepuluh kali. Masih ada banyak cerita yang tak sempat terurai. Masih banyak kenangan yang masih membayang. Tapi, kenangan tetaplah kenangan tak mungkin jadi masa depan. Seperti namanya, memang hanya untuk dikenang.

Pagi ini awan mendung menggantung di langitku, tapi tak begitu kelam. Dan tak begitu gelap. Berharap hari ini hujan. Tentu saja hujan yang sesungguhnya. Menyusul hujan pertama yang datang empat hari yang lalu. Semoga tak ada kisah pakaian yang basah hari ini. 

Dan sekarang pertanyaannya adalah, "Apa yang bisa kita dapat hari ini?'"
Pertanyaan itu sering terlontar dari guruku dulu sewaktu SMA ketika akan memulai pelajaran. Tentu saja maksudnya adalah pelajaran apa yang bisa kita dapat setiap harinya, jika diartikan secara luas. Dan jika kita ingin yang lebih luas lagi, bertanyalah "Apa yang bisa kita bagi/beri hari ini?" Sudahkan kita memberi kepada orang lain? Ataukah manfaat apa yang telah kita berikan kepada orang lain? Tanya itu tentu saja hanya kita yang bisa menjawabnya.

Sembari mencari jawab atas tanya itu, bergegaslah untuk berbuat yang lebih banyak dan lebih baik lagi, untuk sesama. Sesama manusia, sesama makhluk hidup dan sesama ciptaan Tuhan yang masih menumpang di semesta ini. Jawabannya dikumpul saat menjelang tidurmu malam nanti. Dan jangan khawatir akan nilainya, karena dirimu sendiri lah yang akan menilainya. 

#Selamat Beraktivitas


Rabu, 09 Oktober 2013 0 komentar

[2]

"Yang ada sekarang hanya sisa hujan, jejak basah yang sebentar lagi mengering, dan petrichor yang sebentar lagi juga akan menguap hilang di telan terik. Jadi, untuk apa aku tinggal? Tak ada lagi hujan disini. Lagipula aku tak menginginkannya".

Tentu saja aku berucap sendiri, tanpa kata. Hanya tatapan kosong pada senja di langit barat yang sebentar lagi juga akan hilang di telan gelap. Kelam. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang dan kemudian tersenyum. Lalu kubuka mata. Semua masih sama dalam pandanganku. Hanya perasaanku saja yang berbeda. Merasa jauh lebih baik.

"Akhirnya ya... kamu bisa juga melakukannya. Lepas dari tahun-tahun yang tak tentu. Lepas dari waktu yang kadang habis tak berguna. Kamu bisa melakukan itu seterusnya. Menikmati hidupmu dan membahagiakan orang-orang di sekitarmu yang memang seharusnya kamu lakukan dari dulu".

Aku bodoh, tapi aku bisa belajar banyak dari itu semua. Dari apa yang telah terjadi padaku. Dari sekian waktu yang telah kujalani. Aku puas, begitu banyak pelajaran berharga untukku. Juga menjadi proses pendewasaan bagiku. Semoga.

"Oia, jika esok atau entah kapan kamu merasa gundah atas apa yang terjadi padamu, datang lagi lah kesini. Cukup diteras ini, pada saat senja menjelang. Lakukan lagi hal yang sama, pejamkan matamu, tarik nafas panjang, tersenyum, dan kemudian buka matamu. Dan kamu akan sadar, bahwa semua akan baik-baik saja dan segalanya akan berlalu seperti berlalunya hari ini".


Selasa, 08 Oktober 2013 0 komentar

[1]

"Hei, kamu... terus menulis ya... tak usah hiraukan apa kata orang tentangmu. Ini hidupmu dan kamu berhak atas itu. Dan lagi, apa yang dikatakan orang-orang tentangmu belum tentu benar. Ayo, berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi setiap harinya. Jadi orang penting itu baik, tapi lebih penting menjadi orang baik".
 
;