Senin, 31 Maret 2014 2 komentar

"Fall For You"

Jalanan masih tampak lengang pagi itu, meski sudah pukul sembilan lewat beberapa menit. Adit dengan santai mengendarai motornya menuju rumah Dini, setelah sebelumnya dia mengabari kalau sudah berangkat kesana. Tersenyum dalam dunianya sendiri. Berteman mp3-player yang setia menemaninya. Headset hanya dipasang satu di telinga kirinya agar ia tetap konsentrasi dalam berkendara. Sebuah lagu dari Secondhand Serenade mengalun dari mp3-player kecil yang ada di saku celananya. Fall For You, mungkin cukup mewakili suasana hatinya. Menjemput secagkir teh hangat yang seharusnya ia temui semalam. Because a girl like you is impossible to find, you're impossible to find.

Tentu saja, waktu serasa melambat baginya. Mungkin ia sedang jatuh cinta. Perasaan yang masih saja selalu coba ia tepis. Menyamarkannya dalam rasa 'sayang' yang lebih sering ia ucap dalam hati. Dan sepertinya Dini tak perlu tahu tentang itu. Mungkin juga seharusnya ia tahu. Hanya pertanyaan seperti itu yang ada dalam kepala Adit setiap harinya. Pertanyaan yang sangat mudah, tapi terkadang bisa menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Hahaha... manusia aneh.

Beberapa menit kemudian Adit tiba di depan rumah Dini. Turun dari motor dan kemudian membuka pintu pagar rumah bercat putih itu. Ia langsung saja masuk dan mengetuk pintu.
"Spadaaa... morning..." kata Adit dengan isengnya menirukan orang-orang yang bertamu dalam film-film yang sudah ia tonton. Tentunya sambil mengetuk pintu. Hatinya sangat berbunga-bunga, akan bertemu seseorang yang masih sulit ia ceritakan pada orang lain. Ia masih begitu sulit untuk mendeskripsikannya. 
"Iyaa... tunggu bentar..." sahut Dini dari dalam rumah.
 
;