Aku tersadar ketika mencoba membuka
mata dan melihat nuansa putih memenuhi ruangan tempatku berbaring. Pandanganku
masih kabur dan perlahan sekelilingku mulai tampak jelas. Kakiku masih terasa
sakit jika digerakkan dan kemudian menyadari bahwa kakiku terbalut perban.
Mungkin patah. Dan sepertinya memang patah. Kepalaku pun masih terasa sakit dan
ternyata juga berbalut perban. Hah, ada apa denganku? Kulihat dipinggir ranjang
tempatku berbaring ada seseorang yang kukenal. Sepertinya ia nampak lelah
sekali. Yah, dia mamaku. Tertidur di samping tempatku terbaring. Aku menghela
napas panjang dan lagi melihat benda aneh di tangan kananku. Seperti jarum yang
tertusuk menembus kulit hingga pembuluh darahku kemudian disambungkan dengan
selang plastik dan sebuah kantung berisi cairan yang menggantung di tiang dekat
kepalaku. Aku diinfus ternyata. Dan ini pertama kali seumur hidupku.
Tugu Layar itu tak lagi berdiri
tegak, disebabkan abrasi. Kemiringannya sekitar 45 derajat, dan sepertinya tak
butuh waktu lama lagi hingga Tugu itu ambruk. Di sekelilingnya tampak banyak
pondok-pondok kecil yang merusak pemandangan pantai. Pondok-pondok itu malah
sering dijadikan tempat mesum muda mudi yang dilanda asmara yang tak
terkontrol.
Lelaki itu
masih disana. Duduk diam di samping Tugu
Layar ketika senja mulai menyapa. Ya, dia masih tak beranjak, ketika perlahan
gerimis mulai menghampirinya. Tatapannya jauh ke horison. Sesekali ia menarik
nafas panjang. Dan sesekali ia tersenyum sambil menutup matanya. Menikmati
aroma laut yang ada di depannya. Baginya, hujan di kala senja adalah hujan
terindah.
Hari
ini adalah hari ketiga dia melakukannya. Mendatangi tempat yang sama, saat
matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Dan itu adalah hujan kedua yang
dirasakannya di tempat itu. Mungkin ia sedang merindukan seseorang.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact