December rain. Yah, Desember yang penuh hujan. Menyingkap beberapa kenangan di waktu lalu, beberapa hanya singgah kemudian pergi lagi tetapi ada sebagian kecil yang memilih untuk tinggal. Mungkin saja 'dipilih' untuk tinggal. Hujan sepertinya tak pernah kehabisan cerita, entah itu tentangmu, tentangnya, tentang mereka, bahkan tentang aku sendiri. Terkadang aku dengan sengaja menyelinap diam-diam dalam beberapa kenangan itu, tapi untung saja tidak terlarut. Aku masih bisa menahan diri.
Entah karena iseng atau mungkin memang sengaja, kembali kulihat-lihat fotomu setahun yang lalu. Ya, setahun yang lalu. Ketika kamu masih tampak kekanakan atau mungkin tampak seperti anak kecil dengan tawa lepas. Aku suka melihatnya.
Ah, sudahlah. Itu setahun yang lalu, sebelum kita saling mengenal. Lagipula sekarang kan kita juga belum saling mengenal. Hahaha... aku bahkan tak tahu kamu siapa, hanya tahu namamu, itupun dari berbagai sumber. Yah, tahulah... zaman sekarang kan sudah canggih.
Tapi, melihat fotomu yang sekarang memang tampak sangat berbeda. Kamu sudah tampak dewasa, tambah cantik pula. Aku ingin mengenalmu sejak dulu, lebih dari setahun yang lalu. Kurasa ada keunikan dalam dirimu yang mungkin menarik untuk kukenal. Tapi, lagi-lagi nyaliku ciut dan kemudian kupendam saja niatku itu. Mungkin sekarang aku sudah jadi pengagum rahasiamu. Yah, sebatas pengagum. Tenang saja, aku tak pernah sampai memikirkan akan membuat fanbase untukmu.
Ah, sudahlah. Itu setahun yang lalu, sebelum kita saling mengenal. Lagipula sekarang kan kita juga belum saling mengenal. Hahaha... aku bahkan tak tahu kamu siapa, hanya tahu namamu, itupun dari berbagai sumber. Yah, tahulah... zaman sekarang kan sudah canggih.
Tapi, melihat fotomu yang sekarang memang tampak sangat berbeda. Kamu sudah tampak dewasa, tambah cantik pula. Aku ingin mengenalmu sejak dulu, lebih dari setahun yang lalu. Kurasa ada keunikan dalam dirimu yang mungkin menarik untuk kukenal. Tapi, lagi-lagi nyaliku ciut dan kemudian kupendam saja niatku itu. Mungkin sekarang aku sudah jadi pengagum rahasiamu. Yah, sebatas pengagum. Tenang saja, aku tak pernah sampai memikirkan akan membuat fanbase untukmu.
Aku masih suka bolak balik membaca tulisanmu. Meski itu tetaplah tulisan yang sama dan telah kubaca berulang-ulang. Ya, tulisan pada selembar kertas yang kamu tujukan untukku saat kau tiba-tiba menghilang, tanpa berita. Seolah petir yang tiba-tiba saja menyambar meski tak ada hujan, badai, bahkan awan mendung sekalipun. Hari ini tepat sebulan ketika kutemukan surat itu di rumahmu dan sampai sekarang pun aku tak tahu pasti kapan kamu pergi dan dengan alasan apa. Semoga saja kamu punya alasan terbaik ketika kita masih ada kesempatan untuk bertemu di lain waktu.
Hei, kamu tahu? Ingin sekali kubalas suratmu itu, tapi tak tahu harus mengirimnya kemana, kamu pun tak meninggalkan alamat, bahkan nomor handphone-mu pun tak lagi aktif. Kamu benar-benar pergi ya? Kenapa? Apa aku telah berbuat salah? Begitu banyak pertanyaan dalam kepalaku yang kurasa tak akan menemui jawab. Apa aku menyerah terhadapmu? Kemudian membiarkan semua rasa, semua kisah menguap seiring waktu? Yah, mungkin. Mungkin tidak, lagipula ini baru sebulan 'kan? Belum terlalu lama. Atau mungkin, kamu sengaja menjebakku dalam penantian yang tak pasti? Ah, begitu banyak prasangka dalam kepalaku ini.
Hei, kamu tahu? Ingin sekali kubalas suratmu itu, tapi tak tahu harus mengirimnya kemana, kamu pun tak meninggalkan alamat, bahkan nomor handphone-mu pun tak lagi aktif. Kamu benar-benar pergi ya? Kenapa? Apa aku telah berbuat salah? Begitu banyak pertanyaan dalam kepalaku yang kurasa tak akan menemui jawab. Apa aku menyerah terhadapmu? Kemudian membiarkan semua rasa, semua kisah menguap seiring waktu? Yah, mungkin. Mungkin tidak, lagipula ini baru sebulan 'kan? Belum terlalu lama. Atau mungkin, kamu sengaja menjebakku dalam penantian yang tak pasti? Ah, begitu banyak prasangka dalam kepalaku ini.
Sudah lama rasanya kita tak bertemu. Tapi, akhirnya waktu mempertemukan kita hari ini. Kutahu, semua rencana Tuhan. Meski entah, aku yang menemukanmu atau kamu yang menemukanku. Aku tak pernah betul-betul peduli tentang itu semua. Atau mungkin saja kita sama-sama berjalan ke arah yang sama? hingga akhirnya kita dipertemukan. Sampai malam ini, aku terkadang masih tersenyum sendiri, seolah tak percaya jika itu kamu. Inikah yang namanya takdir?
Tentang perasaanku, perlu kuutarakan? ataukah kamu sudah cukup mengerti? Aku telah menunggumu sekian lama. Ya, perasaanku ini nyata, apa adanya dan ada sejak dulu. Hanya saja ada waktu yang membuatnya tertahan hingga tak kuucap padamu. Aku mencintaimu, dan tentu saja aku merindukanmu. Aku tak akan memaksamu untuk percaya, karena aku yakin hatimu pun akan menuntunmu untuk menemukanku.
Ini seolah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Seperti harap yang kemudian terwujud dan seperti jalan yang akhirnya tiba pada ujungnya. Ya, kamu adalah ujung perjalananku. Perjalananku menemukan cinta. Mungkin terdengar melankolis bagimu. Tapi, aku tak peduli. Aku hanya ingin bersamamu. Selamanya. Dan kamu nyata untukku. Jika boleh kuminta satu hal, izinkan aku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Karena aku yakin kamulah satu-satunya yang ada dalam hatiku.
Kita terakhir bertemu dua tahun lalu. Sejak saat itu, tak pernah kudengar kabar darimu. Tapi, aku tak pernah merasa kamu begitu jauh. Semesta. Sepertinya ini konspirasi semesta yang akhirnya mempertemukan kita. Tanpa kusadari, dua tahun lalu saat kau pergi, kau bawa serta kunci hatiku. Sekarang silakan kau buka kembali. Karena hati ini memang hanya untukmu.
Malam ini, kuharap kau tidur lelap. Biar kusampaikan rindu pada malam, agar ia menyampaikannya padamu. Masuk ke mimpimu. Hingga esok, ketika mentari kembali menyinari bumi. Kau membawa cahayanya ke hatiku, menyinarinya. Dan kau telah siap untuk mendampingiku. Selamanya. Aku mencintaimu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tentang perasaanku, perlu kuutarakan? ataukah kamu sudah cukup mengerti? Aku telah menunggumu sekian lama. Ya, perasaanku ini nyata, apa adanya dan ada sejak dulu. Hanya saja ada waktu yang membuatnya tertahan hingga tak kuucap padamu. Aku mencintaimu, dan tentu saja aku merindukanmu. Aku tak akan memaksamu untuk percaya, karena aku yakin hatimu pun akan menuntunmu untuk menemukanku.
Ini seolah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Seperti harap yang kemudian terwujud dan seperti jalan yang akhirnya tiba pada ujungnya. Ya, kamu adalah ujung perjalananku. Perjalananku menemukan cinta. Mungkin terdengar melankolis bagimu. Tapi, aku tak peduli. Aku hanya ingin bersamamu. Selamanya. Dan kamu nyata untukku. Jika boleh kuminta satu hal, izinkan aku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Karena aku yakin kamulah satu-satunya yang ada dalam hatiku.
Kita terakhir bertemu dua tahun lalu. Sejak saat itu, tak pernah kudengar kabar darimu. Tapi, aku tak pernah merasa kamu begitu jauh. Semesta. Sepertinya ini konspirasi semesta yang akhirnya mempertemukan kita. Tanpa kusadari, dua tahun lalu saat kau pergi, kau bawa serta kunci hatiku. Sekarang silakan kau buka kembali. Karena hati ini memang hanya untukmu.
Malam ini, kuharap kau tidur lelap. Biar kusampaikan rindu pada malam, agar ia menyampaikannya padamu. Masuk ke mimpimu. Hingga esok, ketika mentari kembali menyinari bumi. Kau membawa cahayanya ke hatiku, menyinarinya. Dan kau telah siap untuk mendampingiku. Selamanya. Aku mencintaimu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Sabtu, 09 Agustus 2014
humor,
mikir,
sisi yang berbeda,
tentang 'ngeles'
0
komentar
Perempuan yang Manis
Bukankah setiap manusia itu berbeda? Dan bukankah setiap manusia itu masing-masing punya kelebihan dan kekurangan? Tak ada manusia yang sempurna 'kan? Lalu kenapa ada manusia yang suka menyombongkan diri dan ada juga manusia yang suka merendahkan dirinya? Ah, namanya juga manusia. Dan kemudian mereka menyebutnya manusiawi. Sebuah pembenaran.
Okeh, abaikan paragraf di atas... karena tulisan di bawah ini sama sekali tak akan ada hubungannya dengan paragraf di atas... hahaha...
Jadi, seperti ini ceritanya...
Ini mungkin sedikit cerita untuk laki-laki, tapi bisa juga untuk perempuan. Syarat untuk membaca tulisan ini hanyalah 'bisa membaca'. Itu saja cukup.
Pernah dengar atau menjumpai seorang perempuan yang 'mengaku' manis atau mungkin banyak orang yang bilang dia manis? Pernah kan ya... masa iya gak pernah. Tapi yang ini sama sekali tak ada juga hubungannya dengan Si Manis Jembatan Ancol. Oke, kalau pernah... maka saya akan mengajak kalian berpikir.
Jadi begini... mereka (baca: perempuan) yang mengaku manis atau kebanyakan orang bilang mereka manis, apa pernah kalian melihat mereka dikerumuni oleh semut? Mungkin pernah, kalau yang kalian lihat kebetulan sedang duduk di atas sarang semut.:p Selain itu, tak ada yang pernah dikerumuni semut jika mereka tak mengganggu semutnya kan? Oke, anggap saja kita satu pikiran. Atau kalau tidak, samakan saja pikiran kalian dengan saya. Jadi, kita anggap saja tak pernah ada perempuan yang dikerumuni semut. Bahkan yang mengaku manis sekalipun.
Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mereka tidak dikerumuni semut? Apa karena tidak manis? Bukan, sama sekali bukan. Hanya saja mereka itu manisnya asli. Jadi tidak dikerumuni semut. Ibarat madu, kalau madu itu asli maka madu itu tak akan dikerumuni oleh semut.
Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah, mereka (baca: perempuan) itu manisnya asli, dan tidak perlu gula. Jadi, mungkin bisa dijadikan 'madu'.
Untuk laki-laki yang sudah menikah, mereka lebih tahu mana madu yang asli dan mana yang bukan. Ketika mereka membawa 'madu' ke rumahnya dan kemudian istrinya marah, maka bisa dipastikan 'madu' itu asli.
Sekian. Mungkin bisa jadi renungan. Kalau tidak, abaikan sajalah. Hahaha... :p
Okeh, abaikan paragraf di atas... karena tulisan di bawah ini sama sekali tak akan ada hubungannya dengan paragraf di atas... hahaha...
Jadi, seperti ini ceritanya...
Ini mungkin sedikit cerita untuk laki-laki, tapi bisa juga untuk perempuan. Syarat untuk membaca tulisan ini hanyalah 'bisa membaca'. Itu saja cukup.
Pernah dengar atau menjumpai seorang perempuan yang 'mengaku' manis atau mungkin banyak orang yang bilang dia manis? Pernah kan ya... masa iya gak pernah. Tapi yang ini sama sekali tak ada juga hubungannya dengan Si Manis Jembatan Ancol. Oke, kalau pernah... maka saya akan mengajak kalian berpikir.
Jadi begini... mereka (baca: perempuan) yang mengaku manis atau kebanyakan orang bilang mereka manis, apa pernah kalian melihat mereka dikerumuni oleh semut? Mungkin pernah, kalau yang kalian lihat kebetulan sedang duduk di atas sarang semut.:p Selain itu, tak ada yang pernah dikerumuni semut jika mereka tak mengganggu semutnya kan? Oke, anggap saja kita satu pikiran. Atau kalau tidak, samakan saja pikiran kalian dengan saya. Jadi, kita anggap saja tak pernah ada perempuan yang dikerumuni semut. Bahkan yang mengaku manis sekalipun.
Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mereka tidak dikerumuni semut? Apa karena tidak manis? Bukan, sama sekali bukan. Hanya saja mereka itu manisnya asli. Jadi tidak dikerumuni semut. Ibarat madu, kalau madu itu asli maka madu itu tak akan dikerumuni oleh semut.
Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah, mereka (baca: perempuan) itu manisnya asli, dan tidak perlu gula. Jadi, mungkin bisa dijadikan 'madu'.
Untuk laki-laki yang sudah menikah, mereka lebih tahu mana madu yang asli dan mana yang bukan. Ketika mereka membawa 'madu' ke rumahnya dan kemudian istrinya marah, maka bisa dipastikan 'madu' itu asli.
Sekian. Mungkin bisa jadi renungan. Kalau tidak, abaikan sajalah. Hahaha... :p
Aku mulai lelah. Meski tahu, pasrah bukanlah pilihan. Apa aku salah? Menyerah pun bukan pilihan. Selalu saja ada resah yang mengelilingi, tapi... jauh... jauh di dalam hati kecilku ada keyakinan yang sangat kuat. Meronta, berontak ingin terlepas. Tak pernah ada yang tahu ujung dari kisah ini. Mungkin akan kutulis nantinya. Mungkin kujadikan hadiah untuk kalian. Mungkin juga hanya kusimpan sebagai kenangan.
Masihkah ada waktu? Masih. Pertanyaan yang dengan mudah kujawab sendiri. Sampai kapan? Aku terdiam. Tak banyak yang tersisa. Lalu, kenapa berhenti? Entah. Aku terjebak, dalam ego dan idealisme yang kubangun. Aku tak ingin kalah, tak pernah mau mengaku kalah sebelum akhir. Aku keras kepala. Dan tak jarang, aku enggan untuk mendengar. Dimana susahnya? Entah. Sekali lagi kujawab seperti itu. Lalu, untuk apa berhenti? Apa yang kau tunggu? Tak ada. Ah, maksudku... aku tak tahu.
Masihkah ada waktu? Masih. Pertanyaan yang dengan mudah kujawab sendiri. Sampai kapan? Aku terdiam. Tak banyak yang tersisa. Lalu, kenapa berhenti? Entah. Aku terjebak, dalam ego dan idealisme yang kubangun. Aku tak ingin kalah, tak pernah mau mengaku kalah sebelum akhir. Aku keras kepala. Dan tak jarang, aku enggan untuk mendengar. Dimana susahnya? Entah. Sekali lagi kujawab seperti itu. Lalu, untuk apa berhenti? Apa yang kau tunggu? Tak ada. Ah, maksudku... aku tak tahu.
Tiga belas hari telah berlalu sejak Dini memutuskan untuk pergi. Pergi dengan sebuah atau mungkin dengan beberapa alasan yang tak pernah ia sampaikan pada Adit. Hanya meninggalkan selembar surat. Ya, hanya selembar. Surat itu masih tergeletak di atas meja di kamar Adit, melihat segala hal yang terjadi pada Adit. Tapi, ia hanya sebuah surat yang tak bisa berucap sepatah kata pun. Hanya diam, sesekali bergerak ketika diterpa angin.
Ia hanya mengamati Adit. Laki-laki yang kehilangan senyum di wajahnya. Laki-laki yang tak bisa lagi menampakkan ceria dari sorot matanya. Laki-laki yang sepertinya tak dapat lagi menemukan kata bahagia. Seberapa besar arti perempuan itu untukmu? Dia hanya seorang di antara banyaknya perempuan. Apakah bahagiamu hanya berasal darinya? Ingat Tuhanmu. Bahkan perempuan itu saja percaya bahwa jika Tuhanmu berkehandak, kalian akan bertemu lagi bukan? Hei, lepaskanlah semua resahmu. Ikhlaskan dan bersabarlah, semua akan baik-baik saja. Tapi, aku hanya selembar surat yang tak pernah kau dengar.
Ia hanya mengamati Adit. Laki-laki yang kehilangan senyum di wajahnya. Laki-laki yang tak bisa lagi menampakkan ceria dari sorot matanya. Laki-laki yang sepertinya tak dapat lagi menemukan kata bahagia. Seberapa besar arti perempuan itu untukmu? Dia hanya seorang di antara banyaknya perempuan. Apakah bahagiamu hanya berasal darinya? Ingat Tuhanmu. Bahkan perempuan itu saja percaya bahwa jika Tuhanmu berkehandak, kalian akan bertemu lagi bukan? Hei, lepaskanlah semua resahmu. Ikhlaskan dan bersabarlah, semua akan baik-baik saja. Tapi, aku hanya selembar surat yang tak pernah kau dengar.
Laki-laki itu berjalan pelan, menyusuri jalan beraspal sembari tertunduk. Sesekali nampak senyum getir di wajahnya. Sesekali menggeleng seolah tak percaya. Tak ia pedulikan kendaraan yang berlalu satu persatu di sampingnya. Pun dengan rintik hujan yang perlahan turun, ia tak peduli. Mendung pun sepertinya tak cukup mampu menerjemahkan apa yang ia rasakan.
Beberapa jam yang lalu ia berniat menemui seseorang. Seorang perempuan yang sudah lama dekat dengannya. Sudah seminggu lebih tak ada kabar darinya. Banyak pesan singkat yang tak terbalas, bernasib sama dengan banyaknya panggilan yang tak pernah menemui jawab. Ia hendak memastikan apakah perempuan itu baik-baik saja. Ia begitu bersemangat, ia begitu bahagia. Sembari menjaga harap akan menemui senyum manis perempuan itu. Ya, masih perempuan yang sama. Perempuan berkacamata itu.
Bahkan aku tak sadar, dan aku tak pernah tahu sejak kapan jatuh cinta padamu. Perkenalan kita berlangsung cepat. Tiga bulan lalu. Tak ada uluran tangan, hanya senyum yang terurai. Pertemuan tanpa sengaja dan kita tak pernah bertemu sebelumnya. Tahukah apa yang dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta? Ya, ia tak pernah bisa memilih diksi yang tepat untuk mengungkap perasaannya. Hanya berdiam dengan puluhan, bahkan mungkin ratusan balon kata seperti yang ada dalam komik. Ingin memecah balonnya agar semua kata terburai, berhambur, tapi takut menjadikan suasana menjadi lebih diam. Lebih dingin. Menyisihkan dingin yang diantarkan oleh hujan yang menderas di tengah malam.
Padahal itu hanya sejumput ragu dalam benakku. Tapi lebih memilih berdiam dan berlaku seolah tak ada apa-apa. Menikmati setiap percakapan dengan balon kataku. Bermonolog dalam diam. Seolah-olah.
Kamu tak pernah tahu, setiap kali di sampingmu aku lebih sibuk menata detak jantungku daripada memikirkan apa yang harus kuucap padamu. Lucu, mungkin. Tapi, masih dalam batas kewajaran daripada harus memilih menjadi gila. Menjadi gila atas hal-hal yang tak perlu kupahami. Hanya merasa.
Aku hanya tahu satu hal, merapal doa pada Tuhanku. Meyakinkan diri atas cinta yang hanya kumiliki. Sembari menikmati rekaman suaramu yang berisik di kepalaku sejak tadi. Hei, kapan kita bersepakat? Maksudku, kapan hati kita akan sepakat?
Kamu. Berkacamata. Rambut terurai hingga di bawah bahu. Berwajah oriental. Sosok imajinatif. Huhh!!
Padahal itu hanya sejumput ragu dalam benakku. Tapi lebih memilih berdiam dan berlaku seolah tak ada apa-apa. Menikmati setiap percakapan dengan balon kataku. Bermonolog dalam diam. Seolah-olah.
Kamu tak pernah tahu, setiap kali di sampingmu aku lebih sibuk menata detak jantungku daripada memikirkan apa yang harus kuucap padamu. Lucu, mungkin. Tapi, masih dalam batas kewajaran daripada harus memilih menjadi gila. Menjadi gila atas hal-hal yang tak perlu kupahami. Hanya merasa.
Aku hanya tahu satu hal, merapal doa pada Tuhanku. Meyakinkan diri atas cinta yang hanya kumiliki. Sembari menikmati rekaman suaramu yang berisik di kepalaku sejak tadi. Hei, kapan kita bersepakat? Maksudku, kapan hati kita akan sepakat?
Kamu. Berkacamata. Rambut terurai hingga di bawah bahu. Berwajah oriental. Sosok imajinatif. Huhh!!
Mengenalmu adalah anugrah tak ternilai yang pernah diberikan oleh Tuhan untukku. Dulu. Banyak waktu yang kita habiskan bersama, bercerita tentang apa saja. Membuatku merasa sangat nyaman di sampingmu. Apalagi kau bilang bahwa kau bahagia bersamaku. Sampai aku benar merasa bahwa kamu adalah pilihan yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku benar merasa bahwa kamu yang terbaik untukku.
Setelah banyak waktu yang kita lewati, kamu mampu membuatku percaya bahwa aku jatuh cinta padamu. Dan dengan lugunya, aku percaya itu semua. Sampai aku kemudian merasakan sepi yang mencekat ketika bersamamu. Banyak hal yang berubah, entah apa itu. Aku tak pernah tahu. Kamu pun tak pernah bicara. Kita mulai terbiasa diam, tak banyak lagi cerita. Sakit memang, kurasa bukan cinta namanya jika tak pernah merasakan sakit. Dan aku sakit, karena ternyata aku cinta.
Kita mulai berjalan sendiri-sendiri. Ketika kamu memutuskan hubungan kita. Hubungan? Ah, apa memang kita pernah punya hubungan? Mungkin tidak. Karena kurasa hanya aku yang memiliki cinta untukmu. Dan tidak sebaliknya. Harusnya dari awal aku sadar bahwa konsekuensi dari sebuah pertemuan tentu saja perpisahan. Perpisahan yang bisa mencipta rasa sakit. Ah, aku bahkan mulai akrab dengan rasa sakit itu sendiri.
Hati kecilku merasa bahagia bahwa hubungan kita pada akhirnya harus berakhir. Mungkin kita tak lagi bisa saling memahami. Mungkin kita bisa berteman saja. Yah, berteman seperti orang lain. Tapi, kenapa sikapmu begitu berubah? Ketika kita bertemu, kamu seolah tak kenal denganku atau bahkan orang yang baru pertama kali kamu temui. Tapi tetap saja kamu menjadi anugrah Tuhan yang pernah kukenal. Terima kasih telah mengajariku tentang rasa sakit.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Setelah banyak waktu yang kita lewati, kamu mampu membuatku percaya bahwa aku jatuh cinta padamu. Dan dengan lugunya, aku percaya itu semua. Sampai aku kemudian merasakan sepi yang mencekat ketika bersamamu. Banyak hal yang berubah, entah apa itu. Aku tak pernah tahu. Kamu pun tak pernah bicara. Kita mulai terbiasa diam, tak banyak lagi cerita. Sakit memang, kurasa bukan cinta namanya jika tak pernah merasakan sakit. Dan aku sakit, karena ternyata aku cinta.
Kita mulai berjalan sendiri-sendiri. Ketika kamu memutuskan hubungan kita. Hubungan? Ah, apa memang kita pernah punya hubungan? Mungkin tidak. Karena kurasa hanya aku yang memiliki cinta untukmu. Dan tidak sebaliknya. Harusnya dari awal aku sadar bahwa konsekuensi dari sebuah pertemuan tentu saja perpisahan. Perpisahan yang bisa mencipta rasa sakit. Ah, aku bahkan mulai akrab dengan rasa sakit itu sendiri.
Hati kecilku merasa bahagia bahwa hubungan kita pada akhirnya harus berakhir. Mungkin kita tak lagi bisa saling memahami. Mungkin kita bisa berteman saja. Yah, berteman seperti orang lain. Tapi, kenapa sikapmu begitu berubah? Ketika kita bertemu, kamu seolah tak kenal denganku atau bahkan orang yang baru pertama kali kamu temui. Tapi tetap saja kamu menjadi anugrah Tuhan yang pernah kukenal. Terima kasih telah mengajariku tentang rasa sakit.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Aku pergi. Bukan, bukan untuk selamanya. Aku pergi karena ini yang terbaik untuk kita. Kurasa. Ada mimpi yang ingin kukejar dan percayalah ini juga untukmu. Kuharap tak ada tangis yang mengiringi kepergianku.
Sebuah keputusan yang telah kupikir matang-matang dan itu sudah bulat. Bukan aku tak memikirkanmu, justru ini karena aku begitu peduli padamu. Bukankah kamu juga punya mimpi yang masih ingin diraih? Kita masih sama, meski jalan yang kita tempuh berbeda. Kuharap di penghujung jalan nanti kita akan bertemu.
Percayalah, aku pergi bersama rasa yang kumiliki untukmu. Selalu. Percayalah, ada mimpi besar yang ingin kuwujudkan denganmu nanti. Karena aku yakin kamu yang terbaik meski jarak menjadi sesuatu yang tak bisa dielakkan.
Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Banyak hal yang telah memupuk keyakinanku bahwa kamulah yang terbaik. Semua yang telah kamu lakukan untukku tak pernah bisa tergantikan oleh orang lain. Maka, untuk apa aku berpaling? Hei.., jangan lupa berdoa, agar Tuhan mempertemukan kita nanti.
Sejauh apapun jarak yang memisahkan kita nanti, aku yakin bahwa hati kita akan selalu dekat. Karena aku bukan hanya memiliki dirimu, tapi juga hatimu. Begitu pun sebaliknya. Tak perlu ada ikrar yang terucap. Karena semuanya hanya butuh satu kata. Percaya.
Sampai jumpa. Aku pergi bersama rasa untukmu yang telah dititipkan Tuhan padaku. Percayalah, aku selalu dan akan selalu menjadi milikmu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Sebuah keputusan yang telah kupikir matang-matang dan itu sudah bulat. Bukan aku tak memikirkanmu, justru ini karena aku begitu peduli padamu. Bukankah kamu juga punya mimpi yang masih ingin diraih? Kita masih sama, meski jalan yang kita tempuh berbeda. Kuharap di penghujung jalan nanti kita akan bertemu.
Percayalah, aku pergi bersama rasa yang kumiliki untukmu. Selalu. Percayalah, ada mimpi besar yang ingin kuwujudkan denganmu nanti. Karena aku yakin kamu yang terbaik meski jarak menjadi sesuatu yang tak bisa dielakkan.
Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Banyak hal yang telah memupuk keyakinanku bahwa kamulah yang terbaik. Semua yang telah kamu lakukan untukku tak pernah bisa tergantikan oleh orang lain. Maka, untuk apa aku berpaling? Hei.., jangan lupa berdoa, agar Tuhan mempertemukan kita nanti.
Sejauh apapun jarak yang memisahkan kita nanti, aku yakin bahwa hati kita akan selalu dekat. Karena aku bukan hanya memiliki dirimu, tapi juga hatimu. Begitu pun sebaliknya. Tak perlu ada ikrar yang terucap. Karena semuanya hanya butuh satu kata. Percaya.
Sampai jumpa. Aku pergi bersama rasa untukmu yang telah dititipkan Tuhan padaku. Percayalah, aku selalu dan akan selalu menjadi milikmu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tanpa sengaja, kulihat sepasang mata yang sangat mirip dengan matamu. Caranya menatap, begitu teduh. Sepertimu. Dulu. Tapi tentu saja berbeda, dia mengenakan hijab ke seluruh tubuhnya. Aku takut menatapnya terlalu lama, lagipula aku tak tahu namanya siapa. Dan sepertinya lebih baik begitu.
Bukan, sama sekali aku tak ingin menggali lagi rasa yang telah kukubur tentangmu. Hanya saja, aku terkadang rindu untuk bercerita lagi akanmu.
Hai, apa kabarmu kini? lama tak kudengar tentangmu. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kita bertukar kabar. Ingin kutulis sesuatu tentangmu, tapi aku tak pernah lagi mendengar kabarmu, bahkan keberadaanmu. Sehatkah? Baik-baik saja? atau sekarang kamu sibuk apa? Sepertinya tanya itu tak akan menemui jawab. Biarkan saja begitu. Berakhir dengan tanda tanya.
Bukan, sama sekali aku tak ingin menggali lagi rasa yang telah kukubur tentangmu. Hanya saja, aku terkadang rindu untuk bercerita lagi akanmu.
Hai, apa kabarmu kini? lama tak kudengar tentangmu. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kita bertukar kabar. Ingin kutulis sesuatu tentangmu, tapi aku tak pernah lagi mendengar kabarmu, bahkan keberadaanmu. Sehatkah? Baik-baik saja? atau sekarang kamu sibuk apa? Sepertinya tanya itu tak akan menemui jawab. Biarkan saja begitu. Berakhir dengan tanda tanya.
Bertanyalah pada jiwa yang terkadang kering, pada jiwa yang terkadang resah, bahkan pada jiwa yang 'terkadang' menyimpan rindu. Adakah bahagia di penghujung, ataukah bahagia hanya ada di antara orang yang saling mencari kemudian saling menemukan? Seperti apa bahagia yang diartikan jiwa-jiwa seperti itu? Bahkan mungkin kata saja tak mampu menggambarkannya. Selalu begitu, cukup dirasakan. Yah, bahagia itu cukup dirasakan. Usah ada tanya.
Kemudian bertanya pada hati, arti apa yang ia cari? Apakah memang ada? ataukah hanya ilusi yang diterjemahkan oleh imaji karena keterlaluan dalam berharap. Pada hati yang kemudian bimbang, masihkah ada tanya? bahkan ia tak tahu ingin bertanya apa dan pada siapa. Selalu begitu, usah pula ada tanya.
Bertanya pada logika, bahagia seperti apa yang dicari? apakah hanya temu yang sesaat atau lebih kepada menahan rindu karena temu yang tak kunjung ada? Bahkan ia terkadang memilih menyiksa diri untuk merasakan bahagia. Ya, seperti menahan rindu agar tak terucap. Lebih memilih menikmati rindu dalam sepinya, dalam sendirinya, tanpa ada suara apapun. Kenapa? Usah ada tanya, selalu begitu.
Tanyakan lagi pada diri. Utuh. Seperti apa bahagianya? maka yang ada bukanlah alasan atas bahagianya, melainkan pembenaran-pembenaran atas apa yang dilakukannya. Karena bahagia tak pernah sesederhana yang diartikan, namun tak rumit untuk dirasakan. Kenapa? karena akan selalu begitu. Bahagia itu cukup dirasakan, oleh diri sendiri. Usah ada tanya.
Karena bahagia itu hanya perlu dirasakan oleh hati yang menenangkan jiwa kemudian diamini oleh logika dan tampak pada diri yang merasakan. Tak perlu menafsirkannya dengan segala macam kata, cukup tersenyum dan kemudian rasakan. Usah ada tanya.
Kemudian bertanya pada hati, arti apa yang ia cari? Apakah memang ada? ataukah hanya ilusi yang diterjemahkan oleh imaji karena keterlaluan dalam berharap. Pada hati yang kemudian bimbang, masihkah ada tanya? bahkan ia tak tahu ingin bertanya apa dan pada siapa. Selalu begitu, usah pula ada tanya.
Bertanya pada logika, bahagia seperti apa yang dicari? apakah hanya temu yang sesaat atau lebih kepada menahan rindu karena temu yang tak kunjung ada? Bahkan ia terkadang memilih menyiksa diri untuk merasakan bahagia. Ya, seperti menahan rindu agar tak terucap. Lebih memilih menikmati rindu dalam sepinya, dalam sendirinya, tanpa ada suara apapun. Kenapa? Usah ada tanya, selalu begitu.
Tanyakan lagi pada diri. Utuh. Seperti apa bahagianya? maka yang ada bukanlah alasan atas bahagianya, melainkan pembenaran-pembenaran atas apa yang dilakukannya. Karena bahagia tak pernah sesederhana yang diartikan, namun tak rumit untuk dirasakan. Kenapa? karena akan selalu begitu. Bahagia itu cukup dirasakan, oleh diri sendiri. Usah ada tanya.
Karena bahagia itu hanya perlu dirasakan oleh hati yang menenangkan jiwa kemudian diamini oleh logika dan tampak pada diri yang merasakan. Tak perlu menafsirkannya dengan segala macam kata, cukup tersenyum dan kemudian rasakan. Usah ada tanya.
Aku sering berkata padamu, bahwa apa yang kita lakukan akan kembali pada diri kita, entah itu baik atau pun buruk. Tapi tentang cinta, apa bisa seperti itu? Bisakah hanya dengan cinta kepada seseorang, maka orang itu pun akan cinta juga kepada kita? Pertanyaan seperti ini bahkan tak bisa dijabarkan oleh ahli matematika sekalipun. Pikirku.
Lihatlah ke dalam mataku beberapa jenak, pandanglah lekat. Apa yang kau lihat? Benarkah kau sudah mengenalku? Apa kau lihat cinta di dalamnya? Tidak kan? Semoga tidak. Aku bukannya tak mau mengakui hadirnya cinta, bukan pula ingin menyamarkannya. Tapi, aku lebih suka untuk menyembunyikannya.
Tahukah? Ada getar yang berbeda saat aku melihat ke dalam matamu, mencoba untuk terus menipu diriku akan rasa yang kumiliki terhadapmu. Meski kau perempuan yang telah begitu terbiasa denganku, tapi rasa itu nyata hadirnya. Selalu kutolak dengan berbagai macam logika. Tapi, selalu aku yang terhempas oleh kata hatiku. Aku jatuh cinta padamu, harus kuakui itu. Apa kau merasakan hal yang sama?
Tatap matamu selalu mampu meluluhkanku, selalu. Mengungkap semua kejujuran dalam hatiku. Tapi, aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya.Aku tak tahu bagaimana mengartikannya. Hanya berharap kau merasakan hal yang sama. Bukankah itu bodoh? Aku bisa saja menyembunyikan rasa ini, darimu. Menipu orang-orang di sekelilingku bahwa aku tak jatuh cinta padamu. Tapi, tak pernah bisa menipu hatiku.
Hanya menunggu waktu saja, sampai aku mengungkap semuanya pada dunia, mengatakan semua isi hatiku padamu. Kemudian mengatakan, "aku mencintaimu".
Siapkah kamu mendengarnya?
- Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Lihatlah ke dalam mataku beberapa jenak, pandanglah lekat. Apa yang kau lihat? Benarkah kau sudah mengenalku? Apa kau lihat cinta di dalamnya? Tidak kan? Semoga tidak. Aku bukannya tak mau mengakui hadirnya cinta, bukan pula ingin menyamarkannya. Tapi, aku lebih suka untuk menyembunyikannya.
Tahukah? Ada getar yang berbeda saat aku melihat ke dalam matamu, mencoba untuk terus menipu diriku akan rasa yang kumiliki terhadapmu. Meski kau perempuan yang telah begitu terbiasa denganku, tapi rasa itu nyata hadirnya. Selalu kutolak dengan berbagai macam logika. Tapi, selalu aku yang terhempas oleh kata hatiku. Aku jatuh cinta padamu, harus kuakui itu. Apa kau merasakan hal yang sama?
Tatap matamu selalu mampu meluluhkanku, selalu. Mengungkap semua kejujuran dalam hatiku. Tapi, aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya.Aku tak tahu bagaimana mengartikannya. Hanya berharap kau merasakan hal yang sama. Bukankah itu bodoh? Aku bisa saja menyembunyikan rasa ini, darimu. Menipu orang-orang di sekelilingku bahwa aku tak jatuh cinta padamu. Tapi, tak pernah bisa menipu hatiku.
Hanya menunggu waktu saja, sampai aku mengungkap semuanya pada dunia, mengatakan semua isi hatiku padamu. Kemudian mengatakan, "aku mencintaimu".
Siapkah kamu mendengarnya?
- Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Setiap temu pasti selalu menyisakan cerita, terkadang juga meninggalkan cinta.
Kita baru saja bertemu beberapa bulan lalu. Terjebak dalam kekakuan yang mungkin memang seharusnya ada di setiap pertemuan. Aku mengamatimu, mengikuti setiap gerik tingkahmu saat kita bersama. Mendengarkanmu menghabiskan cerita, tentang apa saja. Sesekali aku melihat ke dalam matamu, tanpa kau sadari tentunya. Ya, kamu berbeda dari orang-orang yang yang pernah kukenal dan kutemui sebelumnya. Kamu seperti memiliki daya tarik tersendiri meski tak kutahu apa itu.
Ah, baru saja aku berpikir tentangmu. Kurasa ada rasa yang berbeda di tiap pertemuan kita. Aku jatuh cinta padamu? Hahaha... terlalu cepat untuk menjatuhkan vonis itu padaku. Aku bahkan orang yang tak mudah jatuh cinta. Apalagi kita belum saling mengenal lebih jauh. Pun, aku tak pernah tahu apa yang kamu rasakan. Mungkin biasa saja. Ini urusan hati yang kupikir tak perlu orang lain tahu. Karena, menurutku hal seperti ini tak perlu diterjemahkan, cukup dinikmati saja keberadaannya.
Jikapun nanti aku jatuh cinta padamu, haruskah bersambut? Apa aku harus memilikimu? Aku bahkan hanya ingin menyimpannya sendiri. Egois memang. Tapi, seperti itulah aku menikmatinya. Mungkin saja aku terlalu takut untuk sakit lagi seperti yang sudah-sudah. Cinta itu selalu persoalan waktu, tak cukup hanya dengan kata 'aku cinta padamu'. Selama ini aku terbiasa sendiri, menerjemahkan cinta dengan kamusku sendiri.
Aku bahkan percaya, bahwa cinta itu bisa saja datang karena kita sudah begitu terbiasa bersama. Menghabiskan banyak waktu bersama. Tak perlu diucap, cukup dirasakan hadirnya. Karena cinta, selalu punya cara untuk menyatukan dua hati. Jika hatiku telah memilihmu, yakinlah akan selalu ada waktu untukmu. Biarkan saja kita terbiasa.
- Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Kita baru saja bertemu beberapa bulan lalu. Terjebak dalam kekakuan yang mungkin memang seharusnya ada di setiap pertemuan. Aku mengamatimu, mengikuti setiap gerik tingkahmu saat kita bersama. Mendengarkanmu menghabiskan cerita, tentang apa saja. Sesekali aku melihat ke dalam matamu, tanpa kau sadari tentunya. Ya, kamu berbeda dari orang-orang yang yang pernah kukenal dan kutemui sebelumnya. Kamu seperti memiliki daya tarik tersendiri meski tak kutahu apa itu.
Ah, baru saja aku berpikir tentangmu. Kurasa ada rasa yang berbeda di tiap pertemuan kita. Aku jatuh cinta padamu? Hahaha... terlalu cepat untuk menjatuhkan vonis itu padaku. Aku bahkan orang yang tak mudah jatuh cinta. Apalagi kita belum saling mengenal lebih jauh. Pun, aku tak pernah tahu apa yang kamu rasakan. Mungkin biasa saja. Ini urusan hati yang kupikir tak perlu orang lain tahu. Karena, menurutku hal seperti ini tak perlu diterjemahkan, cukup dinikmati saja keberadaannya.
Jikapun nanti aku jatuh cinta padamu, haruskah bersambut? Apa aku harus memilikimu? Aku bahkan hanya ingin menyimpannya sendiri. Egois memang. Tapi, seperti itulah aku menikmatinya. Mungkin saja aku terlalu takut untuk sakit lagi seperti yang sudah-sudah. Cinta itu selalu persoalan waktu, tak cukup hanya dengan kata 'aku cinta padamu'. Selama ini aku terbiasa sendiri, menerjemahkan cinta dengan kamusku sendiri.
Aku bahkan percaya, bahwa cinta itu bisa saja datang karena kita sudah begitu terbiasa bersama. Menghabiskan banyak waktu bersama. Tak perlu diucap, cukup dirasakan hadirnya. Karena cinta, selalu punya cara untuk menyatukan dua hati. Jika hatiku telah memilihmu, yakinlah akan selalu ada waktu untukmu. Biarkan saja kita terbiasa.
- Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Apa yang ada dalam pikirmu? Apa? Aku tak berani untuk sekadar menebak. Haruskah aku bertanya? Tapi, pada siapa? Tak mungkin juga padamu. Egoku sebagai perempuan masih saja mendominasi. Aku tak akan melakukan itu. Aku tak mungkin bertanya perihal perasaanmu padaku. Aku terlalu takut tanya itu akan menjadi sebab kau menjauhiku karena saat ini aku merasakan begitu nyaman di dekatmu. Ah, aku memang terkadang mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi, atau bahkan mungkin tak akan terjadi. Mungkin bisa kukesampingkan saja dulu rasa ini sejenak. Aku tak ingin terlalu berharap. Aku hanya ingin menikmati setiap waktu di dekatmu. Itu saja. Aku bahagia. Sesederhana itu.
Bisakah ada jeda sejenak? Meski aku tak menginginkannya. Aku yang dalam beberapa jenak masih saja memikirkanmu. Tentang kita esok hari. Hah? tentang kita? Mungkin saja hanya tentang egoku yang tak ingin jauh darimu. Benarkah aku menginginkanmu seutuhnya? Benarkah rasa yang masih sulit kuartikan ini? Masih terlalu banyak tanya yang berlalu lalang dalam pikiranku.
Bisakah ada jeda sejenak? Meski aku tak menginginkannya. Aku yang dalam beberapa jenak masih saja memikirkanmu. Tentang kita esok hari. Hah? tentang kita? Mungkin saja hanya tentang egoku yang tak ingin jauh darimu. Benarkah aku menginginkanmu seutuhnya? Benarkah rasa yang masih sulit kuartikan ini? Masih terlalu banyak tanya yang berlalu lalang dalam pikiranku.
Ada waktu yang tak ingin ku akhiri ketika di sampingmu. Ada spasi yang ingin kuhapus ketika bersamamu. Tapi, selalu kusadar bahwa itu tak mungkin. Karena dari awal kita memang berbeda dan aku menyadarinya. Setiap pertemuan pasti akan diikuti oleh perpisahan, cepat atau lambat perpisahan akan tiba. Aku takut, jujur aku belum mampu membayangkan jika hari-hariku nanti tanpamu. Aku telah begitu terbiasa dengan hadirmu.
Entah kenapa, tiba-tiba Adit berpikir tentang hal itu. Sejenak ia merasakan sesak ketika memikirkannya. Dia tak ingin kehilangan Dini. Perempuan berkacamata itu telah larut di setiap lekukan dalam otaknya, dalam setiap imaji yang ia bangun dalam pikirannya. Lekat.
Entah kenapa, tiba-tiba Adit berpikir tentang hal itu. Sejenak ia merasakan sesak ketika memikirkannya. Dia tak ingin kehilangan Dini. Perempuan berkacamata itu telah larut di setiap lekukan dalam otaknya, dalam setiap imaji yang ia bangun dalam pikirannya. Lekat.
Jalanan masih tampak lengang pagi itu, meski sudah pukul sembilan lewat beberapa menit. Adit dengan santai mengendarai motornya menuju rumah Dini, setelah sebelumnya dia mengabari kalau sudah berangkat kesana. Tersenyum dalam dunianya sendiri. Berteman mp3-player yang setia menemaninya. Headset hanya dipasang satu di telinga kirinya agar ia tetap konsentrasi dalam berkendara. Sebuah lagu dari Secondhand Serenade mengalun dari mp3-player kecil yang ada di saku celananya. Fall For You, mungkin cukup mewakili suasana hatinya. Menjemput secagkir teh hangat yang seharusnya ia temui semalam. Because a girl like you is impossible to find, you're impossible to find.
Tentu saja, waktu serasa melambat baginya. Mungkin ia sedang jatuh cinta. Perasaan yang masih saja selalu coba ia tepis. Menyamarkannya dalam rasa 'sayang' yang lebih sering ia ucap dalam hati. Dan sepertinya Dini tak perlu tahu tentang itu. Mungkin juga seharusnya ia tahu. Hanya pertanyaan seperti itu yang ada dalam kepala Adit setiap harinya. Pertanyaan yang sangat mudah, tapi terkadang bisa menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Hahaha... manusia aneh.
Beberapa menit kemudian Adit tiba di depan rumah Dini. Turun dari motor dan kemudian membuka pintu pagar rumah bercat putih itu. Ia langsung saja masuk dan mengetuk pintu.
"Spadaaa... morning..." kata Adit dengan isengnya menirukan orang-orang yang bertamu dalam film-film yang sudah ia tonton. Tentunya sambil mengetuk pintu. Hatinya sangat berbunga-bunga, akan bertemu seseorang yang masih sulit ia ceritakan pada orang lain. Ia masih begitu sulit untuk mendeskripsikannya.
"Iyaa... tunggu bentar..." sahut Dini dari dalam rumah.
Tentu saja, waktu serasa melambat baginya. Mungkin ia sedang jatuh cinta. Perasaan yang masih saja selalu coba ia tepis. Menyamarkannya dalam rasa 'sayang' yang lebih sering ia ucap dalam hati. Dan sepertinya Dini tak perlu tahu tentang itu. Mungkin juga seharusnya ia tahu. Hanya pertanyaan seperti itu yang ada dalam kepala Adit setiap harinya. Pertanyaan yang sangat mudah, tapi terkadang bisa menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Hahaha... manusia aneh.
Beberapa menit kemudian Adit tiba di depan rumah Dini. Turun dari motor dan kemudian membuka pintu pagar rumah bercat putih itu. Ia langsung saja masuk dan mengetuk pintu.
"Spadaaa... morning..." kata Adit dengan isengnya menirukan orang-orang yang bertamu dalam film-film yang sudah ia tonton. Tentunya sambil mengetuk pintu. Hatinya sangat berbunga-bunga, akan bertemu seseorang yang masih sulit ia ceritakan pada orang lain. Ia masih begitu sulit untuk mendeskripsikannya.
"Iyaa... tunggu bentar..." sahut Dini dari dalam rumah.
Terdiam. Bisu. Hening. Entah sudah berapa lama Nina hanya terdiam disamping Aldi. Terdiam tatkala ia menjumpai kenyataan dimana Aldi tiba-tiba saja mengungkapkan perasaan padanya. Berucap bahwa ia begitu yakin akan apa yang baru saja dikatakannya. Nina terdiam sambil sesekali mengambil nafas yang panjang. Nina masih seolah tak percaya akan apa yang didengarnya. Nina sudah begitu dekat dengan Aldi. Ia masih tak habis pikir kenapa Aldi mengucapkan itu.
"Nina... gimana?" kata Aldi memecah keheningan di antara mereka.
"Aldi, ini serius? kamu gak lagi becanda kan? atau mungkin kamu lagi sakit?' tanya Nina sembari mencoba mengendalikan perasaannya. Raut wajahnya tampak memerah.
"Iya... serius. Harus bagaimana lagi biar kamu percaya Nin? Aku tahu mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi, enam bulan belakangan aku sudah cukup mengenalmu. Aku yakin dengan pilihanku."
"Tapi, kenapa harus aku Al?"
"Kenapa? jika bertanya kenapa, aku tak bisa menjawabnya. Semuanya mengalir begitu saja. Aku tak pernah punya alasan tepat untuk mencintaimu. Aku tak butuh alasan untuk itu. Aku hanya tahu satu hal, aku mencintaimu. Itu saja."
"Apa sudah kamu pikirkan baik-baik, Al? Aku cuma perempuan biasa yang tak punya apa-apa. Tak ada hal yang patut dibanggakan dariku."
"Aku tak butuh apa-apa Nin, yang aku butuh hanya kamu. Kamu Nin. Sesederhana itu."
Nina kembali terdiam. Dalam hatinya, ia sebenarnya juga mencintai Aldi. Hanya saja ia masih begitu sulit mengartikan sebuah rasa.
"Aldi, apa kamu menerima segala kekuranganku?"
"Yah, tentu saja. Ketika aku memutuskan mencintaimu, berarti aku sudah siap akan hal itu. Ini apa adanya. Aku mencintaimu apa adanya. Tak perlu ada yang diubah darimu. Aku suka dirimu seperti ini. Jadi, maukah kamu menerimaku sebagai calon suamimu?"
"Aldi, aku siap. Segera saja temui ayahku. Aku juga mencintaimu," tuturnya lembut. Sebuah jawaban yang diharapkan Aldi terucap dari bibir perempuan berkacamata itu.
"Nina... gimana?" kata Aldi memecah keheningan di antara mereka.
"Aldi, ini serius? kamu gak lagi becanda kan? atau mungkin kamu lagi sakit?' tanya Nina sembari mencoba mengendalikan perasaannya. Raut wajahnya tampak memerah.
"Iya... serius. Harus bagaimana lagi biar kamu percaya Nin? Aku tahu mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi, enam bulan belakangan aku sudah cukup mengenalmu. Aku yakin dengan pilihanku."
"Tapi, kenapa harus aku Al?"
"Kenapa? jika bertanya kenapa, aku tak bisa menjawabnya. Semuanya mengalir begitu saja. Aku tak pernah punya alasan tepat untuk mencintaimu. Aku tak butuh alasan untuk itu. Aku hanya tahu satu hal, aku mencintaimu. Itu saja."
"Apa sudah kamu pikirkan baik-baik, Al? Aku cuma perempuan biasa yang tak punya apa-apa. Tak ada hal yang patut dibanggakan dariku."
"Aku tak butuh apa-apa Nin, yang aku butuh hanya kamu. Kamu Nin. Sesederhana itu."
Nina kembali terdiam. Dalam hatinya, ia sebenarnya juga mencintai Aldi. Hanya saja ia masih begitu sulit mengartikan sebuah rasa.
"Aldi, apa kamu menerima segala kekuranganku?"
"Yah, tentu saja. Ketika aku memutuskan mencintaimu, berarti aku sudah siap akan hal itu. Ini apa adanya. Aku mencintaimu apa adanya. Tak perlu ada yang diubah darimu. Aku suka dirimu seperti ini. Jadi, maukah kamu menerimaku sebagai calon suamimu?"
"Aldi, aku siap. Segera saja temui ayahku. Aku juga mencintaimu," tuturnya lembut. Sebuah jawaban yang diharapkan Aldi terucap dari bibir perempuan berkacamata itu.
Wajah Dio memerah, sangat tampak kemarahan di wajahnya. Namun ia masih menahannya. Perasaannya campur aduk. Ia masih begitu menyayangi Ditha. Di satu sisi, ego masih begitu menguasainya.
"Sudahlah, aku hanya ingin minta maaf. Aku tahu aku salah. Ini tak semestinya terjadi," kata Dio.
"Iya... tapi... ahhh, kamu memang tak pernah berubah. Masih saja seperti itu," ucap Ditha dengan suara yang bergetar. Ia menangis, tersedu. Memang sulit untuk mengerti laki-laki seperti Dio, apalagi membuatnya mengerti. Laki-laki pencemburu itu.
"Berubah? berubah seperti apa? Kemarin aku melihatmu jalan dengan Kai, temanku sendiri. Untuk apa? Kamu kemana? Apa aku tak selalu ada untukmu? Apa itu tak cukup?" kata Dio mencecarnya. Kemarahannya meledak.
"Tapi, apa harus marah-marah begini? Kenapa kamu tak bisa berubah? Sifat cemburumu itu berlebihan, aku tak ada apa-apa dengan Kai. Kupikir kamu telah mengerti tentangku. Ternyata aku salah, aku salah menganggapmu sebagai orang yang terbaik untuk mendampingiku," kata Ditha sambil terisak. Air matanya sudah tak dapat ia tahan lagi. Jatuh dan mengalir deras di pipinya. Sedang Dio masih saja membatu. Menatap jauh pada horison dan matahri yang sebentar lagi akan terbenam.
"Dit, ditha... kamu tahu aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Cemburuku karena aku hanya sangat takut kehilanganmu," kata Dio dengan nada yang mulai merendah. Ia tak pernah bisa melihat perempuan menangis. Apalagi perempuan yang sangat ia sayangi.
"Sudah, Dit... maafkan aku, aku akan berubah. Aku akan berusaha untuk tak menjadi pencemburu lagi."
"Dio, maafkan aku juga, aku kemarin tak memberi tahumu waktu aku jalan dengan Kai hanya karena ini," kata Ditha seraya menyodorkan sebuah syal berwarna biru hitam pada Dio. "Selamat ulang tahun, Dio."
"Sudahlah, aku hanya ingin minta maaf. Aku tahu aku salah. Ini tak semestinya terjadi," kata Dio.
"Iya... tapi... ahhh, kamu memang tak pernah berubah. Masih saja seperti itu," ucap Ditha dengan suara yang bergetar. Ia menangis, tersedu. Memang sulit untuk mengerti laki-laki seperti Dio, apalagi membuatnya mengerti. Laki-laki pencemburu itu.
"Berubah? berubah seperti apa? Kemarin aku melihatmu jalan dengan Kai, temanku sendiri. Untuk apa? Kamu kemana? Apa aku tak selalu ada untukmu? Apa itu tak cukup?" kata Dio mencecarnya. Kemarahannya meledak.
"Tapi, apa harus marah-marah begini? Kenapa kamu tak bisa berubah? Sifat cemburumu itu berlebihan, aku tak ada apa-apa dengan Kai. Kupikir kamu telah mengerti tentangku. Ternyata aku salah, aku salah menganggapmu sebagai orang yang terbaik untuk mendampingiku," kata Ditha sambil terisak. Air matanya sudah tak dapat ia tahan lagi. Jatuh dan mengalir deras di pipinya. Sedang Dio masih saja membatu. Menatap jauh pada horison dan matahri yang sebentar lagi akan terbenam.
"Dit, ditha... kamu tahu aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Cemburuku karena aku hanya sangat takut kehilanganmu," kata Dio dengan nada yang mulai merendah. Ia tak pernah bisa melihat perempuan menangis. Apalagi perempuan yang sangat ia sayangi.
"Sudah, Dit... maafkan aku, aku akan berubah. Aku akan berusaha untuk tak menjadi pencemburu lagi."
"Dio, maafkan aku juga, aku kemarin tak memberi tahumu waktu aku jalan dengan Kai hanya karena ini," kata Ditha seraya menyodorkan sebuah syal berwarna biru hitam pada Dio. "Selamat ulang tahun, Dio."
Pagi sudah menyapa ternyata. Masih tampak sisa hujan pada tumbuhan yang hijau itu. Hujan semalam masih menyisakan hangat sepagi ini. Entah. Aneh kan? Biasanya hujan menyisakan dingin, ini malah terasa hangat. Seperti itulah Adit menjumpai paginya setelah menunaikan subuhnya. Butiran-butiran kecil sisa hujan yang masih menempel di dedaunan di halaman rumah kontrakannya pun seketika tampak indah. Tak seperti biasanya. Tampak berkilau diterpa sinar mentari. Adit masih berdiri di teras rumahnya menghirup udara pagi yang sejuk melenakan.
Hah... Dini, sepagi ini aku mengingatmu. Aku bahkan tak tahu kenapa. Tak pernah kutemukan alasan yang tepat untuk menjawab tanyaku. Tapi, bukankah setiap tanya itu tak selalu menemukan jawab? Mungkin karena memang jawabannya tak ada, atau mungkin belum waktunya untuk kutemukan. Dini... terima kasih untuk waktumu kemarin hingga malam tadi. Aku bahagia. Semoga hal yang sama juga kamu rasakan. Harapku.
Hah... Dini, sepagi ini aku mengingatmu. Aku bahkan tak tahu kenapa. Tak pernah kutemukan alasan yang tepat untuk menjawab tanyaku. Tapi, bukankah setiap tanya itu tak selalu menemukan jawab? Mungkin karena memang jawabannya tak ada, atau mungkin belum waktunya untuk kutemukan. Dini... terima kasih untuk waktumu kemarin hingga malam tadi. Aku bahagia. Semoga hal yang sama juga kamu rasakan. Harapku.
Adit... apa boleh aku memelukmu? Aku tahu kamu pasti kedinginan. Hujan ini kembali mengingatkanku saat kita pertama kali bertemu dulu. Apa kamu ingat? Semoga saja. Ternyata waktu bergulir tak terasa ya...
Adit... aku ingin kamu tahu, jika aku tak akan pernah melupakan malam itu, malam dimana pertama kali kita bertemu di bawah hujan di malam pergantian tahun. Bagiku, itu akan kutulis dalam kisah tentang perjalanan hidupku. Asal kamu tahu, sekarang pun ada rasa yang berbeda kurasakan terhadapmu. Entah kenapa aku selalu ingin ada untukmu, kapan pun itu. Apa kamu merasakannya? Semoga.
Malam semakin dingin meski matahari baru saja terbenam tiga jam yang lalu. Tapi, entah kenapa ada kehangatan tak terperi yang terbawa oleh hujan. Dan seperti itulah yang dirasakan Adit dan Dini dibawah guyuran hujan yang kedua kalinya bagi mereka. Hujan yang selalu meninggalkan cerita, merekam jejak, dan mencipta kenangan.
Hujan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan usai ketika mereka hampir tiba di rumah Dini. Hujannya awet meski tanpa tanpa bahan pengawet sekalipun. Hujannya setia menumpahkan air pada mereka yang mungkin memiliki rasa yang sama. Rasa yang sangat sulit terungkap, meski bagi sebagian orang itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tapi selalu, Adit itu pengecualian. Tak selalu sama dengan kebanyakan orang. Dia unik. Mungkin juga aneh.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Dini. Dini kemudian turun dari motor dan bergegas membuka pagar rumahnya.
"Adit, ayo masuk dulu. Hujannya masih deras itu..." kata Dini pada Adit yang masih berada di atas motornya. Jelas Adit tampak menggigil menahan dingin. Basah kuyup oleh hujan yang ia nikmati.
"Gak usah Din, lagian ini sudah jam berapa... aku juga mau langsung balik kok"
"Masuk dulu lah, bentar aja, aku bikinin teh hangat, kamu pasti kedinginan kan?" ujar Dini membujuk.
"Masih tahan kok dengan dingin yang begini, gak enak kalo aku masuk jam segini, apa kata orang nanti".
"Hmm... baiklah, tapi ini jas hujannya gimana?" tanya Dini seraya mulai melepaskan jas hujan Adit yang ia kenakan.
"Simpan dulu lah, besok pagi saja aku ambil, lagian besok kan libur. Sekalian teh hangatnya besok pagi saja... hahaha..." jawab Adit sambil tertawa.
"Serius gak mau pake jas hujan?" tanya Dini memastikan.
"Iya, lagian ini kan juga sudah basah."
"Okelah, hati-hati di jalan... jangan lupa kabarin kalo sudah nyampe rumah."
"Oke, siap bos..." kata Adit sambil tersenyum. "Ya sudah, aku balik dulu yah..." kata Adit dan kemudian berlalu pergi di tengah hujan yang masih setia menemaninya.
Malam semakin dingin meski matahari baru saja terbenam tiga jam yang lalu. Tapi, entah kenapa ada kehangatan tak terperi yang terbawa oleh hujan. Dan seperti itulah yang dirasakan Adit dan Dini dibawah guyuran hujan yang kedua kalinya bagi mereka. Hujan yang selalu meninggalkan cerita, merekam jejak, dan mencipta kenangan.
Hujan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan usai ketika mereka hampir tiba di rumah Dini. Hujannya awet meski tanpa tanpa bahan pengawet sekalipun. Hujannya setia menumpahkan air pada mereka yang mungkin memiliki rasa yang sama. Rasa yang sangat sulit terungkap, meski bagi sebagian orang itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tapi selalu, Adit itu pengecualian. Tak selalu sama dengan kebanyakan orang. Dia unik. Mungkin juga aneh.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Dini. Dini kemudian turun dari motor dan bergegas membuka pagar rumahnya.
"Adit, ayo masuk dulu. Hujannya masih deras itu..." kata Dini pada Adit yang masih berada di atas motornya. Jelas Adit tampak menggigil menahan dingin. Basah kuyup oleh hujan yang ia nikmati.
"Gak usah Din, lagian ini sudah jam berapa... aku juga mau langsung balik kok"
"Masuk dulu lah, bentar aja, aku bikinin teh hangat, kamu pasti kedinginan kan?" ujar Dini membujuk.
"Masih tahan kok dengan dingin yang begini, gak enak kalo aku masuk jam segini, apa kata orang nanti".
"Hmm... baiklah, tapi ini jas hujannya gimana?" tanya Dini seraya mulai melepaskan jas hujan Adit yang ia kenakan.
"Simpan dulu lah, besok pagi saja aku ambil, lagian besok kan libur. Sekalian teh hangatnya besok pagi saja... hahaha..." jawab Adit sambil tertawa.
"Serius gak mau pake jas hujan?" tanya Dini memastikan.
"Iya, lagian ini kan juga sudah basah."
"Okelah, hati-hati di jalan... jangan lupa kabarin kalo sudah nyampe rumah."
"Oke, siap bos..." kata Adit sambil tersenyum. "Ya sudah, aku balik dulu yah..." kata Adit dan kemudian berlalu pergi di tengah hujan yang masih setia menemaninya.
*****
Tanpa mereka sadari, perlahan bintang-bintang mulai tak tampak di langit malam. Awan mendung menutupinya. Ya, meski malam awan kelabu akan tetap tampak seolah mengirim pesan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Menumpahkan air yang sudah lama tersimpan dalam balutannya. Membasahi bumi yang entah sudah keberapa kalinya. Benar saja, gerimis. Perlahan titik-titik kecil air pun mulai turun sebagai permulaan hujan yang sepertinya akan menderas.
"Dit... hujan...", kata Dini memecah diam yang sedari tadi menemani mereka.
"Iya... semoga gak deras ya Din, kamu pegangan ya..." kata Adit yang mulai menambah kecepatan motornya.
"Hati-hati ya Dit..."
Hujan seolah tahu, kapan harus membuat mereka berhenti. Mungkin memberi kesempatan pada mereka untuk mengatakan apa yang ada dalam hati mereka masing-masing yang sedari tadi tertahan. Beberapa menit kemudian rintik hujan yang tadinya kecil perlahan menjadi butiran-butiran yang lebih besar. Menderas.
"Dini, hujannya tambah deras ini, kita berteduh saja dulu ya...". Adit pun kemudian mencari tempat yang bisa mereka singgahi agar tak kehujanan. Mereka pun akhirnya berhenti di sebuah bengkel yang sudah tutup yang bisa mereka singgahi untuk berteduh. Hujan pun semakin deras, tak tanggung-tanggung. Udara pun semakin dingin menusuk. Dan entah kenapa mereka lagi-lagi terjebak dalam diam yang menambah dingin suasana. Meski sesekali mereka saling melirik satu sama lain dan kemudian tersenyum, atau terkadang mereka saling menertawai. Entah apa arti tawa itu.
"Dit... hujan...", kata Dini memecah diam yang sedari tadi menemani mereka.
"Iya... semoga gak deras ya Din, kamu pegangan ya..." kata Adit yang mulai menambah kecepatan motornya.
"Hati-hati ya Dit..."
Hujan seolah tahu, kapan harus membuat mereka berhenti. Mungkin memberi kesempatan pada mereka untuk mengatakan apa yang ada dalam hati mereka masing-masing yang sedari tadi tertahan. Beberapa menit kemudian rintik hujan yang tadinya kecil perlahan menjadi butiran-butiran yang lebih besar. Menderas.
"Dini, hujannya tambah deras ini, kita berteduh saja dulu ya...". Adit pun kemudian mencari tempat yang bisa mereka singgahi agar tak kehujanan. Mereka pun akhirnya berhenti di sebuah bengkel yang sudah tutup yang bisa mereka singgahi untuk berteduh. Hujan pun semakin deras, tak tanggung-tanggung. Udara pun semakin dingin menusuk. Dan entah kenapa mereka lagi-lagi terjebak dalam diam yang menambah dingin suasana. Meski sesekali mereka saling melirik satu sama lain dan kemudian tersenyum, atau terkadang mereka saling menertawai. Entah apa arti tawa itu.
Hari ini, mungkin waktu belum memihak pada Adit untuk mengungkap apa yang ia rasakan pada Dini. Tapi, ia selalu percaya bahwa akan ada saat yang tepat untuk mengatakannya pada Dini. Entah itu esok, besok, minggu depan, bulan depan. Karena tak pernah ada yang bisa menebak apa yang terjadi setelah hari ini. Karena itu memang masih menjadi rahasia Tuhan. Apakah nanti setelah ia mengatakannya itu sudah terlambat atau tidak. Yah, karena sekali lagi, tak pernah ada yang tahu tentang apa yang masih menjadi rahasia Tuhan.
Sepanjang perjalanan pulang dari tempat tadi mereka hanya diam. Sesekali Adit menoleh ke kiri dan kanan jalan untuk mencari sebuah mesjid karena ia hendak sholat maghrib. Beberapa saat kemudian akhirnya ia menemukan sebuah mesjid dan kemudian berhenti disana.
"Din... tunggu disini bentar ya... aku sholat maghrib dulu," kata Adit dan kemudian berlalu meninggalkan Dini di halaman mesjid tempat ia memarkir motornya. Ia tak perlu menunggu Dini mengiyakan apa yang ia katakan. Karena itu sudah tersirat dari senyuman perempuan berkacamata itu.
Sepanjang perjalanan pulang dari tempat tadi mereka hanya diam. Sesekali Adit menoleh ke kiri dan kanan jalan untuk mencari sebuah mesjid karena ia hendak sholat maghrib. Beberapa saat kemudian akhirnya ia menemukan sebuah mesjid dan kemudian berhenti disana.
"Din... tunggu disini bentar ya... aku sholat maghrib dulu," kata Adit dan kemudian berlalu meninggalkan Dini di halaman mesjid tempat ia memarkir motornya. Ia tak perlu menunggu Dini mengiyakan apa yang ia katakan. Karena itu sudah tersirat dari senyuman perempuan berkacamata itu.
Dini… sebenarnya… aku mengajakmu kesini bukan
tanpa alasan. Aku ingin membicarakan sesuatu hal padamu. Ini penting bagiku,
entah menurutmu. Kalaupun menurutmu tak penting. Maka lupakan sajalah apa yang
aku katakan. Din…, entah kapan aku merasa seperti ini. Hidupku seolah ada yang
berubak sejak mengenalmu. Ya, di malam tahun baru itu. Sejak pertama kali kita
bertemu, hujan-hujanan… aku bahagia Din, apalagi sekarang kamu ada di
sampingku. Din…, aku tak tahu harus menyebut apa tentang rasa yang kumiliki
terhadapmu. Aku merasakannya beberapa minggu terakhir. Din, aku sayang padamu.
Entah, harus kusebut apa, inikah yang orang berani menyebutnya cinta? Atau
mungkin hanya sebatas rasa suka atau mungkin juga hanya kagum? Aku bingung
harus menyebutnya apa Din…
Oke, aku harus bisa mengatakan seperti itu pada Dini. Detak jantung Adit semakin tak beraturan. Sesekali ia menghela nafas panjang. Menatap jauh ke horison. Mencoba menenangkan perasaannya sebelum mengatakan itu semua pada Dini.
Oke, aku harus bisa mengatakan seperti itu pada Dini. Detak jantung Adit semakin tak beraturan. Sesekali ia menghela nafas panjang. Menatap jauh ke horison. Mencoba menenangkan perasaannya sebelum mengatakan itu semua pada Dini.
Setelah mengalami pergolakan batin yang cukup lama, akhirnya
ia memberanikan diri untuk menelpon Dini.
“Haloo... Dini? Hari ini sibuk gak?”
tanya Adit sembari mencoba menahan agar jantungnya tak berdegup kencang.
“Kenapa Dit? Gak sibuk kok, ada yang bisa
saya bantu?” tanya Dini.
“Mmm… bentar sore jalan yok…”
“Kemana?”
“Ah, nanti tau sendiri… pokoknya ikut
sajalah”
“Oke… jemput di rumah aja ya bentar sore…”
“Siaaapp bosss…!!” jawab Adit sambil
tertawa.
Adit
menarik napas panjang. Lega, tentu saja. Ia akhirnya bisa mengajak Dini untuk
keluar sore nanti. Ke tempat favoritnya menikmati penghujung hari.
***
Sehabis
sholat Ashar, Adit kemudian menuju rumah Dini. Jaraknya tak jauh, hanya butuh
waktu kurang lebih 15-20 menit. Itu sudah masuk hitungan padatnya kendaraan
karena jam pulang kantor. Di perjalanan yang terbayang hanya wajah Dini, meski
tak sampai membuatnya gagal fokus dalam berkendara.
“Haloo…
Din, aku sudah di depan nih”, Adit menelepon Dini sesampainya di depan rumah
Dini. Ia tak langsung masuk karena pintu pagarnya terkunci.
“Ooh… iya,
wait a minute ya Dit…”, sahut Dini.
Tak lama
kemudian Dini pun keluar dari rumahnya. Dengan kaos berwarna putih dan jins.
Lengkap dengan kacamata dan rambutnya yang ia biarkan terurai sampai punggung.
Berhasil membuat Adit terpaku dalam detik yang seolah melambat.
Tiga bulan telah berlalu sejak perkenalan mereka. Komunikasi
keduanya pun cukup intens. Sering jalan berdua. Meski begitu, Adit masih
seringkali tersenyum sendiri di kamarnya ketika mengingat awal pertemuannya
dengan Dini. Perempuan berkacamata, berwajah oriental dengan rambut terurai
sampai punggung yang terjebak di bawah hujan bersamanya saat malam pergantian
tahun. Sepertinya ada rasa yang berbeda dirasakan Adit ketika bersama Dini.
Yah, tiga bulan terakhir hari-harinya memang dipenuhi oleh Dini, smsnya,
telponnya, curhatnya, dan masih banyak lagi. Entahlah, tapi dia tak mau
terburu-buru mengartikan apa yang dia rasa. Yang dia tahu, dia merasa bahagia
jika ada Dini di dekatnya. Bahkan jika sehari saja tak ada kabar dari Dini, dia
mulai panik dan berpikiran yang tidak-tidak. Rasa khawatirnya memang terkadang
berlebihan, apalagi pada orang yang dia sayangi. Yah, dia memang menyayangi
Dini, tapi ia tak mau menyebut itu cinta. Baginya, terdapat perbedaan mendasar
antara cinta dan sayang, begitu juga dengan sebuah kata suka.
Adit
telah begitu terbiasa dengan keberadaan Dini, hingga ia lupa akan hari dimana
dia belum mengenal Dini. Dini selalu mampu mencipta jejak di hatinya dengan
segala tingkahnya yang kadang konyol, dengan gelak tawanya dan tentu saja
senyumnya. Adit memang suka melihat Dini tersenyum kemudian menatap jauh ke
dalam matanya menembus lensa yang menutupi mata indahnya. Manis sekali. Dan
sekali lagi mereka terlibat percakapan dalam diam.
“Sudahlah, kita memang tak pernah
ada. Ya, antara kita berdua memang tak pernah ada apa-apa kan?” ucap Adit pada
perempuan di sampingnya yang masih tersedu.
“Iya, tapi kan kita sudah lama
jalan bersama. Apa memang kamu tak menganggapku apa-apa?” tanya perempuan itu
dengan wajah yang sembap.
***
Namanya Dini, perempuan yang
dikenal Adit secara tak sengaja dipenghujung tahun lalu. Saat momen pergantian
tahun di Pantai Losari. Salah satu tempat teramai di kota Makassar pada saat
malam pergantian tahun. Mereka bertemu ketika hujan menderas beberapa saat
setelah detik, menit, jam, tanggal, bulan dan tahun tak lagi menunjukkan angka
yang sama. Mereka tak sengaja bertemu ketika sama-sama mencari tempat untuk
berteduh. Di keramaian orang yang berlarian, di bawah hujan yang menderas
mereka bertemu, tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut keduanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact