Sabtu, 21 Juni 2014

Setelah Tiga Belas Hari

Tiga belas hari telah berlalu sejak Dini memutuskan untuk pergi. Pergi dengan sebuah atau mungkin dengan beberapa alasan yang tak pernah ia sampaikan pada Adit. Hanya meninggalkan selembar surat. Ya, hanya selembar. Surat itu masih tergeletak di atas meja di kamar Adit, melihat segala hal yang terjadi pada Adit. Tapi, ia hanya sebuah surat yang tak bisa berucap sepatah kata pun. Hanya diam, sesekali bergerak ketika diterpa angin.

Ia hanya mengamati Adit. Laki-laki yang kehilangan senyum di wajahnya. Laki-laki yang tak bisa lagi menampakkan ceria dari sorot matanya. Laki-laki yang sepertinya tak dapat lagi menemukan kata bahagia. Seberapa besar arti perempuan itu untukmu? Dia hanya seorang di antara banyaknya perempuan. Apakah bahagiamu hanya berasal darinya? Ingat Tuhanmu. Bahkan perempuan itu saja percaya bahwa jika Tuhanmu berkehandak, kalian akan bertemu lagi bukan? Hei, lepaskanlah semua resahmu. Ikhlaskan dan bersabarlah, semua akan baik-baik saja. Tapi, aku hanya selembar surat yang tak pernah kau dengar.

Sore ini kulihat Adit mengambil selembar kertas putih dan kemudian menarik sebuah pulpen yang sejak kemarin tak tersentuh di sampingku. Sepertinya ia juga akan menulis surat untuk Dini yang bahkan tak pernah ia tahu keberadaannya. Atau mungkin saja ia hanya ingin menumpahkan segala resahnya. Mungkin.


Hai... Dini. Boleh kusebut kamu rindu? Yah, aku merindukanmu. Sangat. Alasan apapun yang membuatmu pergi aku tak lagi peduli. Sekarang hari ketiga belas sejak kamu pergi entah kemana. Sejak hari itu pula tak pernah kudengar kabar tentangmu. Sampai kapan? Sampai kapan hingga rindu ini lunas oleh sebuah temu denganmu? Aku masih menunggu meski tanpa kau minta. Aku menunggu untuk diriku sendiri, untuk hal yang memang aku yakini.
Aku tak akan mengutuki keadaan, apalagi waktu. Waktu telah mengajariku banyak hal tentangmu. Tentang mengenalmu. Tentang temu yang akan selalu menunggu perpisahan. Pada akhirnya, perpisahan pun akan berujung temu kembali bukan?   
Tentu saja ada resah dalam hatiku ketika tak lagi mendengar kabarmu. Tapi aku harus terbiasa dengan itu. Aku baik-baik saja sebelum bertemu denganmu dulu. Dan aku akan tetap baik-baik saja setelah kamu pergi. Yah aku berusaha untuk baik-baik saja. Jadi, mulai hari ini kusebut saja namamu Rindu, sampai kita bertemu lagi. Seperti katamu, jika Tuhanku berkehendak. Kuharap kamu baik-baik saja disana, di tempat yang entah dimana.
Aku melihatnya tersenyum. Benar saja, ia hanya ingin menumpahkan resah yang beberapa hari terakhir ditanggungnya. Sepertinya ia akan baik-baik saja setelah ditinggal oleh perempuan berkacamata itu. Semoga.


2 komentar:

the rain drop mengatakan...

here comes good bye..
here comes the last time..
(ngutip lagu di blog) hehe..

Unknown mengatakan...

semoga dia kembali lagi nanti... hahaha

Posting Komentar

 
;