Laki-laki itu berjalan pelan, menyusuri jalan beraspal sembari tertunduk. Sesekali nampak senyum getir di wajahnya. Sesekali menggeleng seolah tak percaya. Tak ia pedulikan kendaraan yang berlalu satu persatu di sampingnya. Pun dengan rintik hujan yang perlahan turun, ia tak peduli. Mendung pun sepertinya tak cukup mampu menerjemahkan apa yang ia rasakan.
Beberapa jam yang lalu ia berniat menemui seseorang. Seorang perempuan yang sudah lama dekat dengannya. Sudah seminggu lebih tak ada kabar darinya. Banyak pesan singkat yang tak terbalas, bernasib sama dengan banyaknya panggilan yang tak pernah menemui jawab. Ia hendak memastikan apakah perempuan itu baik-baik saja. Ia begitu bersemangat, ia begitu bahagia. Sembari menjaga harap akan menemui senyum manis perempuan itu. Ya, masih perempuan yang sama. Perempuan berkacamata itu.
Ia tiba di depan rumah bercat warna putih yang sudah begitu akrab dengannya beberapa bulan terakhir. Tapi, hari itu rumahnya tampak tak seperti biasanya. Sepi tampak mengelilingi rumah itu. Pagar rumah itu coba dibukanya. Kebetulan, tak terkunci rupanya. Beberapa detik kemudian ia sudah berdiri di depan pintu rumah itu. Perasaannya campur aduk. Resah kemudian berkuasa atas dirinya. Banyak tanya di kepalanya ketika melihat tebalnya debu yang ada di kursi dan meja di teras itu. Ia tak mengetuk. Ia mengalihkan pandangnya ke sekeliling. Hingga matanya tertuju pada selembar kertas berwarna putih di atas meja yang ditindih batu. Mungkin itu surat. Gumamnya dalam hati.
Laki-laki itu kemudian mengambil surat itu. Ia berpikir mungkin surat itu ditujukan untuknya. Ia membuka lipatan surat itu dan kemudian membacanya.
Hai... Adit...Aku tak tahu kapan kamu akan menemukan dan membaca surat ini. Tapi, entah kenapa saat menuliskannya aku selalu yakin bahwa kamu akan membacanya.Maaf, jika aku tak pernah mengabarimu, maaf jika membuatmu khawatir, dan maaf jika aku tak menemuimu. Adit... aku harus pergi, dengan alasan yang tak bisa kujelaskan padamu. Aku sadar, beberapa bulan terakhir kita begitu dekat. Aku sadar, sepertinya ada yang salah denganku. Dan aku sadar kalau ini seharusnya tak pernah terjadi. Meski kusadar, mungkin takdir Tuhan yang mempertemukanku denganmu.Kuminta tak perlu mencariku, tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Hanya saja ada jarak yang harus kubuat denganmu. Entah sementara atau seterusnya. Karena kita berbeda. Sangat berbeda. Dan kamu pasti sadar akan hal itu.Aku tak akan memintamu untuk menungguku... karena aku sendiri tak yakin apakah akan kembali atau tidak. Aku hanya berharap semoga kamu baik-baik saja. Aku butuh waktu untuk merenungkan apa yang telah kita lalui. Itu saja. Meski aku sendiri tak tahu sampai kapan.
Hahaha... kok jadi serius begini ya...Hei, kamu laki-laki yang selalu ada untukku. Maaf yah untuk semuanya. Terima kasih telah bersedia hadir dalam hari-hariku beberapa bulan terakhir. Percayalah, jika Tuhanmu berkehendak maka kita akan bertemu lagi. Meski mungkin di waktu dan keadaan yang berbeda. Suatu hari nanti. Sekali lagi, maaf...
Dari perempuan yang selalu merepotkanmu...Dini
Jeda. Detik seolah berhenti saat itu juga. Percaya ataukah harus membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa perempuan itu hanya berniat mengerjainya? Mencoba menata detak jantungnya dengan segala macam kemungkinan-kemungkinan yang ia buat sendiri. Dia pergi. Dia meninggalkanku. Tampak senyum getir dari wajahnya. Laki-laki itu kemudian pergi. Dengan selembar kertas yang ia genggam erat di tangan kanannya.

2 komentar:
ungkin dini bukan yg terbaik untuk radit.. [sotta] hehe..
bukan radit... -__-"
Posting Komentar