Senin, 05 Mei 2014

Usah Ada Tanya

Bertanyalah pada jiwa yang terkadang kering, pada jiwa yang terkadang resah, bahkan pada jiwa yang 'terkadang' menyimpan rindu. Adakah bahagia di penghujung, ataukah bahagia hanya ada di antara orang yang saling mencari kemudian saling menemukan? Seperti apa bahagia yang diartikan jiwa-jiwa seperti itu? Bahkan mungkin kata saja tak mampu menggambarkannya. Selalu begitu, cukup dirasakan. Yah, bahagia itu cukup dirasakan. Usah ada tanya.

Kemudian bertanya pada hati, arti apa yang ia cari? Apakah memang ada? ataukah hanya ilusi yang diterjemahkan oleh imaji karena keterlaluan dalam berharap. Pada hati yang kemudian bimbang, masihkah ada tanya? bahkan ia tak tahu ingin bertanya apa dan pada siapa. Selalu begitu, usah pula ada tanya.

Bertanya pada logika, bahagia seperti apa yang dicari? apakah hanya temu yang sesaat atau lebih kepada menahan rindu karena temu yang tak kunjung ada? Bahkan ia terkadang memilih menyiksa diri untuk merasakan bahagia. Ya, seperti menahan rindu agar tak terucap. Lebih memilih menikmati rindu dalam sepinya, dalam sendirinya, tanpa ada suara apapun. Kenapa? Usah ada tanya, selalu begitu.

Tanyakan lagi pada diri. Utuh. Seperti apa bahagianya? maka yang ada bukanlah alasan atas bahagianya, melainkan pembenaran-pembenaran atas apa yang dilakukannya. Karena bahagia tak pernah sesederhana yang diartikan, namun tak rumit untuk dirasakan. Kenapa? karena akan selalu begitu. Bahagia itu cukup dirasakan, oleh diri sendiri. Usah ada tanya. 

Karena bahagia itu hanya perlu dirasakan oleh hati yang menenangkan jiwa kemudian diamini oleh logika dan tampak pada diri yang merasakan. Tak perlu menafsirkannya dengan segala macam kata, cukup tersenyum dan kemudian rasakan. Usah ada tanya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;