Aku tersadar ketika mencoba membuka
mata dan melihat nuansa putih memenuhi ruangan tempatku berbaring. Pandanganku
masih kabur dan perlahan sekelilingku mulai tampak jelas. Kakiku masih terasa
sakit jika digerakkan dan kemudian menyadari bahwa kakiku terbalut perban.
Mungkin patah. Dan sepertinya memang patah. Kepalaku pun masih terasa sakit dan
ternyata juga berbalut perban. Hah, ada apa denganku? Kulihat dipinggir ranjang
tempatku berbaring ada seseorang yang kukenal. Sepertinya ia nampak lelah
sekali. Yah, dia mamaku. Tertidur di samping tempatku terbaring. Aku menghela
napas panjang dan lagi melihat benda aneh di tangan kananku. Seperti jarum yang
tertusuk menembus kulit hingga pembuluh darahku kemudian disambungkan dengan
selang plastik dan sebuah kantung berisi cairan yang menggantung di tiang dekat
kepalaku. Aku diinfus ternyata. Dan ini pertama kali seumur hidupku.
Tugu Layar itu tak lagi berdiri
tegak, disebabkan abrasi. Kemiringannya sekitar 45 derajat, dan sepertinya tak
butuh waktu lama lagi hingga Tugu itu ambruk. Di sekelilingnya tampak banyak
pondok-pondok kecil yang merusak pemandangan pantai. Pondok-pondok itu malah
sering dijadikan tempat mesum muda mudi yang dilanda asmara yang tak
terkontrol.
Lelaki itu
masih disana. Duduk diam di samping Tugu
Layar ketika senja mulai menyapa. Ya, dia masih tak beranjak, ketika perlahan
gerimis mulai menghampirinya. Tatapannya jauh ke horison. Sesekali ia menarik
nafas panjang. Dan sesekali ia tersenyum sambil menutup matanya. Menikmati
aroma laut yang ada di depannya. Baginya, hujan di kala senja adalah hujan
terindah.
Hari
ini adalah hari ketiga dia melakukannya. Mendatangi tempat yang sama, saat
matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Dan itu adalah hujan kedua yang
dirasakannya di tempat itu. Mungkin ia sedang merindukan seseorang.
Baru sempat menyelesaikan tulisan ini (ngeles), lebih tepatnya sih baru menyempatkan diri... hahaha...
Sudah setahun ternyata. Entah cepat atau lambat berlalunya waktu. Semuanya relatif. Mungkin terlalu cepat bagi yang dikejar deadline dan terlalu lambat bagi yang menunggu. Jiaaahh... nulis apa saya ini...
"SIGi Makassar... Salam Sigi Ceriaaaaaa..."
Teriakan itu masih terngiang sejak setahun yang lalu pada tanggal 3 Nopember 2012 di sebuah panti asuhan di Takalar. Dan kemarin, 3 Nopember 2013 kami SIGi Makassar, mengadakan sebuah acara Gathering Nasional sekaligus memperingati milad kami yang pertama. Nekad? memang nekad membuat sebuah acara yang cukup besar semacam itu dan mengundang 100 komunitas di Makassar. Meskipun sempat ada ragu, tapi toh akhirnya bisa berjalan juga. Dan semua atas izin Allah.
Ini postinganku yang ke-100 di blog ini. Kenapa saya harus menunggu hari ini untuk menuliskannya? ya, hanya sekedar kilas balik perjalanan hidupku setelah 24 tahun.
Yap, hari ini di tanggal yang sama, dua puluh empat tahun yang lalu, aku dilahirkan. Aku pernah, tidak sekali mendengar cerita mama tentangku. Katanya aku lahir hari Selasa tanggal seperti hari ini, tiga puluh Oktober, tapi setelah kupastikan dengan kalender digital, tiga puluh Oktober dua puluh empat tahun yang lalu itu ternyata hari Senin, dan bukan Selasa. Aku menyimpulkan bahwa aku terlahir Senin malam sehingga mama menyebutku lahir hari Selasa dimana pertama kali siang menjumpaku. Tapi, sudahlah persoalan hari tidak usah dibahas karena aku tak tahu keadaan waktu itu dan au tidak punya alasan jika kemudian aku harus mempertanyakannya.
Baiklah, sebenarnya ada cerita dibalik kelahiranku. Aku anak kedua dari enam bersaudara. Menurut cerita mama, diantara saudara-saudaraku yang lain, akulah yang paling sulit dilahirkan. Mmmm... mungkin seperti antara ingin dan tidak untuk terlahir, apakah saat ingin dilahirkan saja aku sudah ragu? Tapi, aku bisa membayangkan apa yang dirasakan mamaku waktu itu. Meski jelas aku tak mungkin bisa merasakannya. Love you mama. Mama bercerita bahwa pada saat aku dilahirkan, kepalaku sempat keluar dan kemudian masuk lagi, tapi entah berapa kali seperti itu. Aku tahu, kalian pasti bisa membayangkan bagaimana sakitnya apalagi itu adalah sebuah persalinan normal tanpa operasi. Mama sempat berpikir bahwa mungkin aku besar dan mungkin nantinya yang paling besar diantara saudara-saudaraku yang lain. Tapi, faktanya aku seperti bayi-bayi yang lain dengan berat normal dan sekarang aku telah dua puluh empat tahun dengan berat badan hanya dikisaran 44-48 kg. Tergolong paling kecil diantara saudara-saudaraku yang lain. Tapi, itu tidak masalah. Papaku malah pernah bercanda bahwa mungkin beratku badanku banyak diserap ke otak sehingga aku kecil... hahaha.
Yap, hari ini di tanggal yang sama, dua puluh empat tahun yang lalu, aku dilahirkan. Aku pernah, tidak sekali mendengar cerita mama tentangku. Katanya aku lahir hari Selasa tanggal seperti hari ini, tiga puluh Oktober, tapi setelah kupastikan dengan kalender digital, tiga puluh Oktober dua puluh empat tahun yang lalu itu ternyata hari Senin, dan bukan Selasa. Aku menyimpulkan bahwa aku terlahir Senin malam sehingga mama menyebutku lahir hari Selasa dimana pertama kali siang menjumpaku. Tapi, sudahlah persoalan hari tidak usah dibahas karena aku tak tahu keadaan waktu itu dan au tidak punya alasan jika kemudian aku harus mempertanyakannya.
Baiklah, sebenarnya ada cerita dibalik kelahiranku. Aku anak kedua dari enam bersaudara. Menurut cerita mama, diantara saudara-saudaraku yang lain, akulah yang paling sulit dilahirkan. Mmmm... mungkin seperti antara ingin dan tidak untuk terlahir, apakah saat ingin dilahirkan saja aku sudah ragu? Tapi, aku bisa membayangkan apa yang dirasakan mamaku waktu itu. Meski jelas aku tak mungkin bisa merasakannya. Love you mama. Mama bercerita bahwa pada saat aku dilahirkan, kepalaku sempat keluar dan kemudian masuk lagi, tapi entah berapa kali seperti itu. Aku tahu, kalian pasti bisa membayangkan bagaimana sakitnya apalagi itu adalah sebuah persalinan normal tanpa operasi. Mama sempat berpikir bahwa mungkin aku besar dan mungkin nantinya yang paling besar diantara saudara-saudaraku yang lain. Tapi, faktanya aku seperti bayi-bayi yang lain dengan berat normal dan sekarang aku telah dua puluh empat tahun dengan berat badan hanya dikisaran 44-48 kg. Tergolong paling kecil diantara saudara-saudaraku yang lain. Tapi, itu tidak masalah. Papaku malah pernah bercanda bahwa mungkin beratku badanku banyak diserap ke otak sehingga aku kecil... hahaha.
Mari sini sejenak. Mungkin beberapa jenak. Duduk di sampingku. Aku ingin bercerita banyak hal denganmu. Iya, banyak sekali. Tentang mimpiku, tentang harapku. Dan semoga saja aku tak bercerita tentang keluh dan resahku. Apa kamu ingin mendengarku? Jika pun tidak, tak apa. Biarkan saja aku sendiri disini.
Beberapa hari terakhir, aku masih memikirkanmu. Iya, padahal aku tidaklah mengenalmu. Bisakah kamu beralih dari imajiku? atau mungkin masih ingin disana mengukir senyum, meninggalkan jejak yang tak mudah hilang. Segala rindu lah, segala harap lah, dan segalanya yang seolah tampak bersatu serasa ingin membunuh. Yah, membunuh rasa.
Oh iya, maaf. Kadang aku terbawa suasana. Tadi aku ingin bercerita tentang mimpiku kan? Baiklah, kamu masih ingin mendengarku? Terima kasih atas kesediaanmu. Ah, iya aku punya mimpi lebih tepatnya impian menjadi seseorang yang menjelajahi negeri yang indah ini, melihat segala keragamnya dan kemudian menyampaikan pada dunia tentang negeriku. Aku juga ingin membuat sebuah sekolah dimana anak-anak yang bersekolah didalamnya bebas berkreasi, berekspresi, hingga kemudian menjadi anak-anak bangsa yang patut dan layak dibanggakan.
Tentang harap, aku masih punya banyak harap yang menggunung. Tak perlu bercerita padamu, takutnya kamu bosan mendengarnya. Salah satunya sih, aku berharap bisa mengenalmu di kemudian hari. Entah kapan waktunya tiba. Semoga saja ada waktu yang tersisa untuk itu.
"Kamu, siapa?"
Beberapa hari terakhir, aku masih memikirkanmu. Iya, padahal aku tidaklah mengenalmu. Bisakah kamu beralih dari imajiku? atau mungkin masih ingin disana mengukir senyum, meninggalkan jejak yang tak mudah hilang. Segala rindu lah, segala harap lah, dan segalanya yang seolah tampak bersatu serasa ingin membunuh. Yah, membunuh rasa.
Oh iya, maaf. Kadang aku terbawa suasana. Tadi aku ingin bercerita tentang mimpiku kan? Baiklah, kamu masih ingin mendengarku? Terima kasih atas kesediaanmu. Ah, iya aku punya mimpi lebih tepatnya impian menjadi seseorang yang menjelajahi negeri yang indah ini, melihat segala keragamnya dan kemudian menyampaikan pada dunia tentang negeriku. Aku juga ingin membuat sebuah sekolah dimana anak-anak yang bersekolah didalamnya bebas berkreasi, berekspresi, hingga kemudian menjadi anak-anak bangsa yang patut dan layak dibanggakan.
Tentang harap, aku masih punya banyak harap yang menggunung. Tak perlu bercerita padamu, takutnya kamu bosan mendengarnya. Salah satunya sih, aku berharap bisa mengenalmu di kemudian hari. Entah kapan waktunya tiba. Semoga saja ada waktu yang tersisa untuk itu.
"Kamu, siapa?"
"Haloo 13 oktober..., delapan bulan setelah sidang komisi proposalku dan belum ada tanda-tanda konkrit akan selesainya skripsi ini. Tentu sebuah tanggungjawab yang besar dan berat mengingat begitu banyak waktu yang telah terlewat. Semoga saja masih ada manfaat yang kuambil dalam waktu yang telah terlewat itu".
Semoga saja skripsi ini segera terselesaikan.
Semoga saja skripsi ini segera terselesaikan.
"Selamat pagi sepuluh oktober..."
Ya, hari ini oktober telah menampakkan harinya untuk yang kesepuluh kali. Masih ada banyak cerita yang tak sempat terurai. Masih banyak kenangan yang masih membayang. Tapi, kenangan tetaplah kenangan tak mungkin jadi masa depan. Seperti namanya, memang hanya untuk dikenang.
Pagi ini awan mendung menggantung di langitku, tapi tak begitu kelam. Dan tak begitu gelap. Berharap hari ini hujan. Tentu saja hujan yang sesungguhnya. Menyusul hujan pertama yang datang empat hari yang lalu. Semoga tak ada kisah pakaian yang basah hari ini.
Dan sekarang pertanyaannya adalah, "Apa yang bisa kita dapat hari ini?'"
Pertanyaan itu sering terlontar dari guruku dulu sewaktu SMA ketika akan memulai pelajaran. Tentu saja maksudnya adalah pelajaran apa yang bisa kita dapat setiap harinya, jika diartikan secara luas. Dan jika kita ingin yang lebih luas lagi, bertanyalah "Apa yang bisa kita bagi/beri hari ini?" Sudahkan kita memberi kepada orang lain? Ataukah manfaat apa yang telah kita berikan kepada orang lain? Tanya itu tentu saja hanya kita yang bisa menjawabnya.
Sembari mencari jawab atas tanya itu, bergegaslah untuk berbuat yang lebih banyak dan lebih baik lagi, untuk sesama. Sesama manusia, sesama makhluk hidup dan sesama ciptaan Tuhan yang masih menumpang di semesta ini. Jawabannya dikumpul saat menjelang tidurmu malam nanti. Dan jangan khawatir akan nilainya, karena dirimu sendiri lah yang akan menilainya.
#Selamat Beraktivitas
Ya, hari ini oktober telah menampakkan harinya untuk yang kesepuluh kali. Masih ada banyak cerita yang tak sempat terurai. Masih banyak kenangan yang masih membayang. Tapi, kenangan tetaplah kenangan tak mungkin jadi masa depan. Seperti namanya, memang hanya untuk dikenang.
Pagi ini awan mendung menggantung di langitku, tapi tak begitu kelam. Dan tak begitu gelap. Berharap hari ini hujan. Tentu saja hujan yang sesungguhnya. Menyusul hujan pertama yang datang empat hari yang lalu. Semoga tak ada kisah pakaian yang basah hari ini.
Dan sekarang pertanyaannya adalah, "Apa yang bisa kita dapat hari ini?'"
Pertanyaan itu sering terlontar dari guruku dulu sewaktu SMA ketika akan memulai pelajaran. Tentu saja maksudnya adalah pelajaran apa yang bisa kita dapat setiap harinya, jika diartikan secara luas. Dan jika kita ingin yang lebih luas lagi, bertanyalah "Apa yang bisa kita bagi/beri hari ini?" Sudahkan kita memberi kepada orang lain? Ataukah manfaat apa yang telah kita berikan kepada orang lain? Tanya itu tentu saja hanya kita yang bisa menjawabnya.
Sembari mencari jawab atas tanya itu, bergegaslah untuk berbuat yang lebih banyak dan lebih baik lagi, untuk sesama. Sesama manusia, sesama makhluk hidup dan sesama ciptaan Tuhan yang masih menumpang di semesta ini. Jawabannya dikumpul saat menjelang tidurmu malam nanti. Dan jangan khawatir akan nilainya, karena dirimu sendiri lah yang akan menilainya.
#Selamat Beraktivitas
"Yang ada sekarang hanya sisa hujan, jejak basah yang sebentar lagi mengering, dan petrichor yang sebentar lagi juga akan menguap hilang di telan terik. Jadi, untuk apa aku tinggal? Tak ada lagi hujan disini. Lagipula aku tak menginginkannya".
Tentu saja aku berucap sendiri, tanpa kata. Hanya tatapan kosong pada senja di langit barat yang sebentar lagi juga akan hilang di telan gelap. Kelam. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang dan kemudian tersenyum. Lalu kubuka mata. Semua masih sama dalam pandanganku. Hanya perasaanku saja yang berbeda. Merasa jauh lebih baik.
"Akhirnya ya... kamu bisa juga melakukannya. Lepas dari tahun-tahun yang tak tentu. Lepas dari waktu yang kadang habis tak berguna. Kamu bisa melakukan itu seterusnya. Menikmati hidupmu dan membahagiakan orang-orang di sekitarmu yang memang seharusnya kamu lakukan dari dulu".
Aku bodoh, tapi aku bisa belajar banyak dari itu semua. Dari apa yang telah terjadi padaku. Dari sekian waktu yang telah kujalani. Aku puas, begitu banyak pelajaran berharga untukku. Juga menjadi proses pendewasaan bagiku. Semoga.
"Oia, jika esok atau entah kapan kamu merasa gundah atas apa yang terjadi padamu, datang lagi lah kesini. Cukup diteras ini, pada saat senja menjelang. Lakukan lagi hal yang sama, pejamkan matamu, tarik nafas panjang, tersenyum, dan kemudian buka matamu. Dan kamu akan sadar, bahwa semua akan baik-baik saja dan segalanya akan berlalu seperti berlalunya hari ini".
Tentu saja aku berucap sendiri, tanpa kata. Hanya tatapan kosong pada senja di langit barat yang sebentar lagi juga akan hilang di telan gelap. Kelam. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang dan kemudian tersenyum. Lalu kubuka mata. Semua masih sama dalam pandanganku. Hanya perasaanku saja yang berbeda. Merasa jauh lebih baik.
"Akhirnya ya... kamu bisa juga melakukannya. Lepas dari tahun-tahun yang tak tentu. Lepas dari waktu yang kadang habis tak berguna. Kamu bisa melakukan itu seterusnya. Menikmati hidupmu dan membahagiakan orang-orang di sekitarmu yang memang seharusnya kamu lakukan dari dulu".
Aku bodoh, tapi aku bisa belajar banyak dari itu semua. Dari apa yang telah terjadi padaku. Dari sekian waktu yang telah kujalani. Aku puas, begitu banyak pelajaran berharga untukku. Juga menjadi proses pendewasaan bagiku. Semoga.
"Oia, jika esok atau entah kapan kamu merasa gundah atas apa yang terjadi padamu, datang lagi lah kesini. Cukup diteras ini, pada saat senja menjelang. Lakukan lagi hal yang sama, pejamkan matamu, tarik nafas panjang, tersenyum, dan kemudian buka matamu. Dan kamu akan sadar, bahwa semua akan baik-baik saja dan segalanya akan berlalu seperti berlalunya hari ini".
"Hei, kamu... terus menulis ya... tak usah hiraukan apa kata orang tentangmu. Ini hidupmu dan kamu berhak atas itu. Dan lagi, apa yang dikatakan orang-orang tentangmu belum tentu benar. Ayo, berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi setiap harinya. Jadi orang penting itu baik, tapi lebih penting menjadi orang baik".
Penghujung September. Sedikit memaksakan diri untuk menulis hari ini. Setidaknya ada hal yang kutulis dalam bulan ini. Meski hanya sedikit.
Ya, hari ini adalah hari terakhir dibulan September. Selalu terlintas lagu "September Ends"-nya Green Day maupun yang di-cover oleh Sabrina. Dan saya, masih belum mengerti apa yang diceritakan dalam lagu itu. Hanya sekedar suka mendengarnya.
Sebagai pembuka tulisan ini, yang di atas itu mungkin tak ada hubungan sama sekali dengan apa yang akan saya tulis, tapi mungkin juga ada hubunganya. Atau... sudahlah, mungkin tak benar-benar ada hubungannya atau bisa saja sedikit berhubungan. Nah, sampai di baris ke-8 ini pun saya masih bingung tentang apa yang akan saya tulis. No idea? atau mungkin terlalu banyak hal yang ada dipikiran ini. Tolong, jangan berkata 'bingung' ketika membaca tulisan ini, karena hanya akan menambah daftar orang bingung hari ini. Cukuplah saya yang merasakannya.
Penghujung Agustus. Enam bulan lebih telah berlalu sejak sidang proposalku. Dan belum ada tanda-tanda yang signifikan akan akhir pekerjaan ini. Desain media. Sepertinya memang butuh kerja yang lebih keras lagi. Sampai sekarang, software-nya sudah lumayan tahu, tinggal kombinasi materi dan susunannya serta tautan antar file, yah, lumayanlah... sekalian belajar ActionScript.
Pelajaran-pelajaran itu sama sekali tak kudapatkan di bangku kuliah. Dan aku hanya mencoba belajar sendiri. Itu sih gara-gara nekat saja. Yah, cuma modal nekat. Bertaruh beberapa bulan hanya untuk idealisme. Ya, idealisme mungkin aku menyebutnya.
Aku tahu, aku bisa menyelesaikannya dengan segera. Aku selalu yakin bahwa kemampuanku sebenarnya di atas rata-rata. Hanya saja, selalu ada faktor X yang menghambatnya. Dan juga beribu alasan yang sering dibuat-buat. Sepertinya memang ada yang salah dengan isi kepalaku.
Target, akhir Oktober sudah harus ujian meja. Ya, itu dua bulan dari sekarang. Meski terdengar mustahil, tapi tetap mesti diusahakan. Kupikir, akan selalu ada jalan bagi setiap orang yang mau berusaha.
Yah, dan aku butuh mata yang bisa menatap lebih lama dari biasanya dan juga mental serta tekad yang lebih kuat untuk bisa menyelesaikannya.
#KeepFighting
Karena ini bukan hanya sekedar tentang penyelesaian skripsi, tapi lebih kepada tanggung jawab yang mesti ditunaikan.
Aku lelah, terkadang ingin lari dari sini, dari tempatku berpijak. Semuanya nampak gelap kulihat di langit malam. Tak ada bintang. Bahkan satu pun. Mungkin mendung menutupinya.
Hujan tak lagi datang beberapa hari terakhir. Hanya mendung yang menggantung rendah di langit siang maupun malamku. Mungkin sudah saatnya aku beranjak dari hujan yang pernah menenangkanku. Hujan yang selalu mendengarkanku. Dan hujan yang selalu membasahi jiwaku ketika kering kerontang.
Hei!! kamu. Iya, kamu. Bagaimana keadaanmu sekarang? Lama juga ya tak mendengar kabarmu. Mungkin lebih tepatnya lama tak mendengar suaramu. Aku masih rindu ternyata. Meski telah tiga bulan lebih berlalu tanpa wujud maupun suaramu. Rindu ini ternyata tak lagi begitu menyiksa. Aku bahkan merasa bahagia. Bahagia karena pernah mengenalmu.
Aku tak pernah tahu, apa kamu pernah bertanya tentang keadaanku, atau apa lah yang menyangkut diriku. Sesekali harap itu muncul, berharap kamu akan bertanya, entah pada siapa dan meski aku tak tahu. Tak ada salahnya 'kan berharap seperti itu? Lagi pula hanya sesekali. Tidak berkali-kali.
Hujan tak lagi datang beberapa hari terakhir. Hanya mendung yang menggantung rendah di langit siang maupun malamku. Mungkin sudah saatnya aku beranjak dari hujan yang pernah menenangkanku. Hujan yang selalu mendengarkanku. Dan hujan yang selalu membasahi jiwaku ketika kering kerontang.
Hei!! kamu. Iya, kamu. Bagaimana keadaanmu sekarang? Lama juga ya tak mendengar kabarmu. Mungkin lebih tepatnya lama tak mendengar suaramu. Aku masih rindu ternyata. Meski telah tiga bulan lebih berlalu tanpa wujud maupun suaramu. Rindu ini ternyata tak lagi begitu menyiksa. Aku bahkan merasa bahagia. Bahagia karena pernah mengenalmu.
Aku tak pernah tahu, apa kamu pernah bertanya tentang keadaanku, atau apa lah yang menyangkut diriku. Sesekali harap itu muncul, berharap kamu akan bertanya, entah pada siapa dan meski aku tak tahu. Tak ada salahnya 'kan berharap seperti itu? Lagi pula hanya sesekali. Tidak berkali-kali.
Rindu itu masih ada, nyata; beku; dan memaku di antara kepingan kisah yang telah lalu. Semuanya masih tentangmu. Tentang seseorang yang mencipta jeda diantara detikku. Yang mampu membuatku diam dengan tutur lembut sapanya. Terlebih dengan tatap mata dan indah senyumnya.
Aku tak tahu harus menuliskan apa lagi. Entah semua sudah kutuliskan atau aku hanya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan tentangmu. Pikirku sekarang melayang akan masa tentangmu. Tentu saja setelah kamu tak lagi disini. Pernah terpikir bahwa kisahmu akan segera usai seiring jejak yang semakin menjauh. Tapi aku salah. Malah semakin banyak kisah sepanjang jejak yang kamu tinggalkan. Sekali lagi, aku takluk. Kehilangan kendali atas diriku. Telak.
Nah, setelah kubongkar lagi berkas-berkas di memoriku, akhirnya kutemukan sebuah berkas yang mengisahkan tentangmu yang meminta didongengkan. Yah, dongeng. Aku ingat, saat itu adalah lima minggu setelah kepergianmu. Dan, akhirnya permintaanmu itu tak bisa kutolak. Lagi, aku memang tak pernah bisa menolak keinginanmu. Meski terkadang tak masuk akal. Seperti ini, mengisahkan dongeng untuk anak seusiamu yang hanya berselisih setahun denganku.
Aku tak pernah berpikir akan tiba pada hari ini. Ya, dua bulan sejak kamu pergi. Dan ternyata aku belum juga bisa melupakanmu. Aku pikir tak butuh waktu hingga dua bulan untuk melupakanmu. Tapi ternyata aku salah. Sampai hari ini usahaku untuk melupakanmu masih saja tak menuai hasil. Entah kapan berujung. Sampai hari ini, ternyata masih kamu yang duduk manis dipikiranku, dan masih jadi yang terpenting dalam hatiku. Mungkin bagimu ini terdengar berlebihan, tapi memang beginilah adanya. Seandainya kamu ada disampingku saat ini, pasti kamu bisa menebak apa yang akan kulakukan. Ya, aku akan bercerita banyak tentang hujan, rindu dan kenangan dalam diamku. Karena semua itu tak bisa terucap mudah dari lidahku.
Dua bulan seharusnya waktu yang lebih dari cukup untuk melepaskan rasaku. Perasaan terhadapmu yang sebenarnya tak pernah punya hubungan apa-apa denganku. Tapi, sekali lagi aku salah, aku kalah. Sosokmu masih saja berdiam dengan manisnya di pikiranku. Pun dalam hatiku. Mungkin karena sampai hari ini, belum pernah kulihat senyum yang mampu membuatku terdiam dalam detik yang mempunyai jeda. Belum pernah kudengar suara yang bisa membuatku duduk diam dan mendengarnya berceloteh tentang apapun yang seketika menjadi menarik. Ah, aku bodoh.
Situs jejaring sosial ini sepertinya sudah adiktif bagiku. Ya, apalagi kalau bukan facebook. Yang artinya muka buku atau buku muka jika dipenggal menjadi dua kata. Tapi, aku yakin jika pendirinya tidaklah bermaksud demikian. Entah apa maksudnya. Tapi sungguh, aku tak pernah benar-benar peduli. Setidaknya sampai hari ini.
Siang tadi aku melanjutkan lagi aktifitasku di situs itu. Memang aku menggunakannya untuk mengetahui perkembangan keadaan sekitarku, karena banyak sekali info yang bertebaran disana meski perlu dipastikan juga kebenaran dari info atau berita tersebut. Selain juga untuk main game online tentunya. Tapi, itu cuma sambilan sebagai pengusir jenuh.
Tentu saja, setiap harinya ada yang menarik perhatianku. Sama seperti hari ini, ketika ku-refresh 'beranda' FB-ku aku tak sengaja melihat fotomu. Sepertinya masih asing, tapi sepertinya juga tidak. Ya, kamu telah mendapatkan perhatianku, untuk sementara waktu tentunya. Karena aku belumlah mengenalmu. Akhirnya otak ini provokatif untuk membuka profilmu. Dan akhirnya tanganku pun mengikutinya untuk menyorot namamu dan kemudian klik. Profilmu pun terbuka.
Aku tak tahu ada angin apa yang berhembus padamu hingga kemudian sore tadi tiba-tiba saja aku menerima pesan singkat darimu. Yah, sepuluh hari setelah kita berbalas sms. Waktu yang kurasa cukup lama. Dan lagi, ini adalah yang kedua kalinya kamu memulai momen itu. Apa mungkin kamu merindukanku? Ah, kurasa tidak. Tapi, kenapa? Apa mungkin kamu tak terbiasa tanpa ada pesan singkat dariku meski hanya sebatas guyonan? Maaf, bukannya aku tak merindukanmu. Tapi aku hanya berusaha membiasakan diri tanpamu. Itu pun setelah hampir tiga bulan berlalu sejak kepergianmu dari sini.
Entah apa hubungannya dengan hujan. Selalu, dan masih saja. Sore tadi pun hujan seketika menderas. Sepertinya hujan pun tahu jika aku merindukanmu. Hanya saja aku mungkin terjebak dalam ego yang membuatku harus bertahan tanpa menyapamu lebih dulu. Asal kamu tahu aku sangat merindukanmu.
Entah apa hubungannya dengan hujan. Selalu, dan masih saja. Sore tadi pun hujan seketika menderas. Sepertinya hujan pun tahu jika aku merindukanmu. Hanya saja aku mungkin terjebak dalam ego yang membuatku harus bertahan tanpa menyapamu lebih dulu. Asal kamu tahu aku sangat merindukanmu.
"Serius?" tanyaku memastikan.
"Iya, boleh kan?"
"Tapi kan kamu tau kalo aku sukanya sama Nadia. Lagipula kamu juga sudah punya pacar" memastikan dengan degup jantung yang semakin tak berirama.
"Iya... tapi sepertinya aku jatuh cinta padamu" katamu mencoba meyakinkanku.
"Sepertinya? Fik... ini bicara masalah hati, aku gak bisa serta merta melepasnya dari hatiku. Aku sudah cukup lama mencintainya, meski aku tak punya hubungan apapun dengannya".
"Iya... aku ngerti, aku paham kok. Tapi, kasih aku kesempatan buat gantiin dia di hatimu. Boleh?"
Kutatap sorot matanya. Nampak ketulusan. Dilema. Di satu sisi aku mencintai seseorang sudah cukup lama. Di sisi yang lain dia kemudian hadir mencoba memasuki ruang hatiku yang sudah penuh, bahkan sesak.
Entah kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini. Sepertinya ini ujian akan rasa cintaku yang mungkin semu pada Nadia. Tapi, jika pun semu, kenapa rasa itu bisa bertahan sampai 2 tahun lebih? Lagian, aku kenal dengan Fika baru setahun. Ingin rasanya memutar waktu untuk menghindari hal ini. Tapi, mustahil.
Ah, mungkin saja Fika hanya ingin mengujiku. Aku masih belum bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Kenapa harus aku? Tak ada apapun yang pantas dibanggakan dariku. Secara fisik pun masih banyak laki-laki lain yang lebih pantas untuknya.
"Iya, boleh kan?"
"Tapi kan kamu tau kalo aku sukanya sama Nadia. Lagipula kamu juga sudah punya pacar" memastikan dengan degup jantung yang semakin tak berirama.
"Iya... tapi sepertinya aku jatuh cinta padamu" katamu mencoba meyakinkanku.
"Sepertinya? Fik... ini bicara masalah hati, aku gak bisa serta merta melepasnya dari hatiku. Aku sudah cukup lama mencintainya, meski aku tak punya hubungan apapun dengannya".
"Iya... aku ngerti, aku paham kok. Tapi, kasih aku kesempatan buat gantiin dia di hatimu. Boleh?"
Kutatap sorot matanya. Nampak ketulusan. Dilema. Di satu sisi aku mencintai seseorang sudah cukup lama. Di sisi yang lain dia kemudian hadir mencoba memasuki ruang hatiku yang sudah penuh, bahkan sesak.
Entah kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini. Sepertinya ini ujian akan rasa cintaku yang mungkin semu pada Nadia. Tapi, jika pun semu, kenapa rasa itu bisa bertahan sampai 2 tahun lebih? Lagian, aku kenal dengan Fika baru setahun. Ingin rasanya memutar waktu untuk menghindari hal ini. Tapi, mustahil.
Ah, mungkin saja Fika hanya ingin mengujiku. Aku masih belum bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Kenapa harus aku? Tak ada apapun yang pantas dibanggakan dariku. Secara fisik pun masih banyak laki-laki lain yang lebih pantas untuknya.
Namanya Diandra, anak jurusan sebelah yang seangkatan
denganku. Bedanya, ia sudah menjadi sarjana, sedang aku masih berkutat dengan
penyusunan proposal skripsi yang belum ada tanda-tanda akan selesai dalam waktu
dekat ditambah dengan empat mata kuliah yang masih sementara berjalan.
Pendiam.
Itu kesan pertama yang terbersit dipikiranku saat pertama kali melihatnya dari
jarak dekat. Pertama kali yang kesekian kalinya. Aku memang pernah melihat dia
sebelumnya, tapi hanya dari jauh dan tak terlalu peduli tentangnya hingga hari
ini tiba.
Aku
melihatnya ketika aku memasuki ruang pengelolaan jurnal fakultas siang tadi,
kemudian mengambil posisi duduk arah jam 10 dari tempat duduknya. Bukan tanpa
alasan, karena aku ingin memperhatikan wajahnya lebih dekat dan mencoba membaca
dirinya. Itu kebiasaanku saat ada
seseorang yang menarik perhatianku. Tak ada rasa apapun selain rasa penasaran.
Aku ingin melihat cara bicaranya dan mendengar suaranya untuk mendukung
hipotesisku bahwa dia seorang yang pendiam. Lama kutunggu, suaranya belum juga
meluncur dari bibirnya. Ia hanya sesekali berbicara dengan teman yang ada di
sampingnya, itupun suaranya pelan sekali. Rasa penasaranku pun memuncak. Tapi
masih bisa menahan diri.
Aku tak pernah suka dengan senja. Aku benci ketika hari semakin cepat berlalu dengan senja sebagai penandanya. Menuntun waktu perpisahan itu datang lebih cepat dari perkiraanku. Ah, bodoh. Mungkin juga salahku, terlalu terbuai oleh waktu sampai tak sadar bahwa akan ada waktu berpisah denganmu. Dan, sekarang aku sadar, waktu empat tahun ternyata belumlah cukup untuk mencitaimu. Aku menginginkan waktu itu kembali. Empat tahun lalu, ketika pertama kali jantungku berdebar saat melihatmu. Ketika pertama kali memegang tanganmu di pendakian itu. Ya, aku ingin itu. Tapi, mustahil.
Sebulan telah berlalu sejak kepergianmu. Semakin menyadarkanku bahwa empat tahun adalah waktu yang begitu singkat. Apa aku benar mencintaimu? Tentu saja. Tapi kamu tak pernah percaya pada perasaanku. Kamu tak pernah benar mengartikan rasaku. Kamu lebih percaya pada peranggapanmu.
Aku merindukanmu. Benarkah? Tentu saja. Tapi sekali lagi kamu tak pernah percaya akan itu. Jika boleh jujur, aku tak pernah berbohong akan rasa rindu itu padamu. Apa kamu tahu? Setiap jengkal kenangan denganmu kembali menari-nari dipikiranku sekarang. Rekam jejak yang kamu tinggalkan begitu nyata. Dan, rasa ini pun semakin lekat, mungkin juga pekat.
Sebulan telah berlalu sejak kepergianmu. Semakin menyadarkanku bahwa empat tahun adalah waktu yang begitu singkat. Apa aku benar mencintaimu? Tentu saja. Tapi kamu tak pernah percaya pada perasaanku. Kamu tak pernah benar mengartikan rasaku. Kamu lebih percaya pada peranggapanmu.
Aku merindukanmu. Benarkah? Tentu saja. Tapi sekali lagi kamu tak pernah percaya akan itu. Jika boleh jujur, aku tak pernah berbohong akan rasa rindu itu padamu. Apa kamu tahu? Setiap jengkal kenangan denganmu kembali menari-nari dipikiranku sekarang. Rekam jejak yang kamu tinggalkan begitu nyata. Dan, rasa ini pun semakin lekat, mungkin juga pekat.
Malam ini sepertinya aku harus berperang. Perang ini tak lagi bisa terhindarkan. Mereka tak mau mengibarkan bendera putih dan menerima ajakan damai dariku. Aku pun begitu, tak akan menyerah. Tapi, sebagai konsekuensinya, aku harus meracik strategi jitu untuk mengalahkan mereka. Semakin malam mereka akan semakin ganas dan menyerangku secara membabi buta. Tapi, anehnya hanya yang betina saja yang menyerangku. Sedangkan yang jantan hanya jadi pengamat saja. Mungkin juga was-was jika betinanya terbunuh di tanganku.
Perang pun dimulai sekitar jam 10 malam. Amunisiku sebenarnya sudah habis. Hanya tertinggal senjata kosong tanpa amunisi. Tapi, aku yakin bisa memenangkan pertempuran malam ini. Meskipun aku akan kewalahan menghadapi serangan mereka.
Yah, nyamuk-nyamuk betina itu pun mulai beterbangan di sekitarku dengan suara yang sudah akrab di telingaku jika mereka mendekat. Kadang tanganku refleks menyambar mereka yang mendekat atau hanya kibasan pakaian agar mereka menjauh dariku. Nah, di ruanganku ini sebenarnya ada 2 jenis anti nyamuk. Ada anti nyamuk elektrik yang selama ini jadi andalanku tapi malam ini amunisinya habis. Semoga saja nyamuk-nyamuk itu tak tahu. Ada juga anti nyamuk bakar, tapi kupikir jika menyalakannya dapat membuatku sesak karena asapnya. Dan jika telah habis terbakar, nyamuk itu dapat melihatnya dengan jelas dan akan menyerangku.
Sekarang, harus kusiapkan strategi paling ampuh untuk mengusir nyamuk-nyamuk itu. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya kuputuskan untuk tidak menyalakan anti nyamuk bakar itu. Aku lebih memilih menyalakan anti nyamuk elektrik yang tanpa amunisi itu. Paling tidak lampunya masih menyala dan terlihat merah sehingga nyamuk-nyamuk itu pasti berpikir bahwa aku punya amunisi. Dan, ternyata benar. Nyamuk-nyamuk itu pun berbondong-bondong meninggalkanku. Samar terdengar suara mereka yang terbang ketakutan. Dan aku pun bisa tertidur dengan nyenyak sampai pagi.
Perang pun dimulai sekitar jam 10 malam. Amunisiku sebenarnya sudah habis. Hanya tertinggal senjata kosong tanpa amunisi. Tapi, aku yakin bisa memenangkan pertempuran malam ini. Meskipun aku akan kewalahan menghadapi serangan mereka.
Yah, nyamuk-nyamuk betina itu pun mulai beterbangan di sekitarku dengan suara yang sudah akrab di telingaku jika mereka mendekat. Kadang tanganku refleks menyambar mereka yang mendekat atau hanya kibasan pakaian agar mereka menjauh dariku. Nah, di ruanganku ini sebenarnya ada 2 jenis anti nyamuk. Ada anti nyamuk elektrik yang selama ini jadi andalanku tapi malam ini amunisinya habis. Semoga saja nyamuk-nyamuk itu tak tahu. Ada juga anti nyamuk bakar, tapi kupikir jika menyalakannya dapat membuatku sesak karena asapnya. Dan jika telah habis terbakar, nyamuk itu dapat melihatnya dengan jelas dan akan menyerangku.
Sekarang, harus kusiapkan strategi paling ampuh untuk mengusir nyamuk-nyamuk itu. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya kuputuskan untuk tidak menyalakan anti nyamuk bakar itu. Aku lebih memilih menyalakan anti nyamuk elektrik yang tanpa amunisi itu. Paling tidak lampunya masih menyala dan terlihat merah sehingga nyamuk-nyamuk itu pasti berpikir bahwa aku punya amunisi. Dan, ternyata benar. Nyamuk-nyamuk itu pun berbondong-bondong meninggalkanku. Samar terdengar suara mereka yang terbang ketakutan. Dan aku pun bisa tertidur dengan nyenyak sampai pagi.
Tugu Layar itu tak lagi berdiri
tegak, disebabkan abrasi. Kemiringannya sekitar 45 derajat, dan sepertinya tak
butuh waktu lama lagi hingga Tugu itu ambruk. Di sekelilingnya tampak banyak
pondok-pondok kecil yang merusak pemandangan pantai. Pondok-pondok itu malah
sering dijadikan tempat mesum muda mudi yang dilanda asmara yang tak
terkontrol.
Lelaki itu
masih disana. Duduk diam di samping Tugu
Layar ketika senja mulai menyapa. Ya, dia masih tak beranjak, ketika perlahan
gerimis mulai menghampirinya. Tatapannya jauh ke horison. Sesekali ia menarik
nafas panjang. Dan sesekali ia tersenyum sambil menutup matanya. Menikmati
aroma laut yang ada di depannya. Baginya, hujan di kala senja adalah hujan
terindah.
Hari
ini adalah hari ketiga dia melakukannya. Mendatangi tempat yang sama, saat
matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Dan itu adalah hujan kedua yang
dirasakannya di tempat itu. Mungkin ia sedang merindukan seseorang.
Setelah sidang komisi proposalku 2 bulan yang lalu, tak ada perubahan berarti dalam perkembangan skripsiku, banyak waktuku yang terbuang percuma hanya untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikan instrumen penelitianku. Mungkin juga karena aku terlalu sibuk dengan duniaku hingga lupa dengan apa yang harus kuselesaikan dengan segera. Yah, skripsi. Satu kata itu yang berupa tugas akhir yang telah kukerjakan selama lebih dari setahun dengan tidak konsisten. Dan, hasilnya masih belum jelas sampai hari ini.
Kemarin, akhirnya kuputuskan untuk menutup akun FB-ku. Karena aku telah banyak membuang waktu disana dengan aktifitas yang sebagian besar tak berguna bagi kemajuan skripsiku. Aku harus lebih fokus lagi pada penyelesaian skripsiku. Jika tidak, target wisuda pun akan semakin sulit kugapai. Kemarin, aku menargetkan bisa wisuda pada bulan ini, tapi akhirnya tidak tercapai. Bukan karena apa, aku belum tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana memulainya. Yah, aku sadar ini memang resiko yang harus kutanggung karena nekat memilih jenis penelitian yang ribet.
Kemarin, akhirnya kuputuskan untuk menutup akun FB-ku. Karena aku telah banyak membuang waktu disana dengan aktifitas yang sebagian besar tak berguna bagi kemajuan skripsiku. Aku harus lebih fokus lagi pada penyelesaian skripsiku. Jika tidak, target wisuda pun akan semakin sulit kugapai. Kemarin, aku menargetkan bisa wisuda pada bulan ini, tapi akhirnya tidak tercapai. Bukan karena apa, aku belum tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana memulainya. Yah, aku sadar ini memang resiko yang harus kutanggung karena nekat memilih jenis penelitian yang ribet.
Aku tiba-tiba tersentak dari tidurku malam ini. Kulihat jam pada laptopku menunjukkan pukul 00.30. Aku juga tak tahu kenapa. Produksi hormon adrenalinku tiba-tiba meningkat drastis, jantungku berdebar kencang tak lagi dengan ritmenya. Hanya kucoba mengendalikannya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Menjaga detak jantungku untuk tetap normal. Tapi, ternyata tak bisa.
Sepertinya aku mengingat sesuatu. Yah, hari telah berganti rupanya. Sudah memasuki tanggal 10 bulan ini. hari dimana kamu berusia tepat 23 tahun. Tapi, kenapa harus aku yang gugup? kenapa harus jantungku yang berdebar kencang? Segitunya kah? Ah, pertanyaan yang sering terlontar darimu dan dari orang-orang yang tak mengerti tentangku. Atau mungkin memang aku yang penuh misteri.
Sepertinya aku mengingat sesuatu. Yah, hari telah berganti rupanya. Sudah memasuki tanggal 10 bulan ini. hari dimana kamu berusia tepat 23 tahun. Tapi, kenapa harus aku yang gugup? kenapa harus jantungku yang berdebar kencang? Segitunya kah? Ah, pertanyaan yang sering terlontar darimu dan dari orang-orang yang tak mengerti tentangku. Atau mungkin memang aku yang penuh misteri.
Kubiarkan mengusik
Ya, bayanganmu yang setiap saat mengusikku
Mampu menjeratku dalam jaring yang tak terlihat
Ya, aku terperangkap dalam rindu yang tak berbatas
Padamu.
Pernah mencoba untuk melupakanmu?
Tentu saja, aku pernah melakukannya
Hasilnya?
Tentu saja itu adalah hal bodoh yang pernah kulakukan
Seperti membiarkan diriku tersayat oleh waktu dan kemudian menorehkan luka
Ya, luka yang kemudian menyadarkanku
Ternyata, aku tak bisa berpaling darimu...
Ya, bayanganmu yang setiap saat mengusikku
Mampu menjeratku dalam jaring yang tak terlihat
Ya, aku terperangkap dalam rindu yang tak berbatas
Padamu.
Pernah mencoba untuk melupakanmu?
Tentu saja, aku pernah melakukannya
Hasilnya?
Tentu saja itu adalah hal bodoh yang pernah kulakukan
Seperti membiarkan diriku tersayat oleh waktu dan kemudian menorehkan luka
Ya, luka yang kemudian menyadarkanku
Ternyata, aku tak bisa berpaling darimu...
Derai lembut angin berteman hujan menerpa wajahku. Tersenyum aku merasanya. Aku merasakan hadirmu di hujan yang mulai kembali saat senja kembali menyapaku. Hingga senja berlalu, hujan tetap setia menemaniku. Ia sepertinya paham akan kerinduanku. Pada hujan dan tentunya padamu.
Kemarin, sengaja kutitipkan rinduku pada senja. Berharap hujan kan datang, meski lebih menyimpan harap hujan datang membawamu bersamanya. Masih dengan hujan, aku bercerita tentangmu yang belakangan sepertinya berubah atau mungkin itu hanyalah prasangkaku. Tak ada kabarmu beberapa hari terakhir. Sampai ketika hujan tadi sedikit mereda. Apa yang kuharap, akhirnya benar terjadi. Kamu datang bersama hujan. Meski bukan dalam wujud. Tapi, itulah yang meyakinkanku bahwa ternyata kamu masih disana. Berdiam dengan tenang dalam hatiku. Tak terusik.
Kemarin, sengaja kutitipkan rinduku pada senja. Berharap hujan kan datang, meski lebih menyimpan harap hujan datang membawamu bersamanya. Masih dengan hujan, aku bercerita tentangmu yang belakangan sepertinya berubah atau mungkin itu hanyalah prasangkaku. Tak ada kabarmu beberapa hari terakhir. Sampai ketika hujan tadi sedikit mereda. Apa yang kuharap, akhirnya benar terjadi. Kamu datang bersama hujan. Meski bukan dalam wujud. Tapi, itulah yang meyakinkanku bahwa ternyata kamu masih disana. Berdiam dengan tenang dalam hatiku. Tak terusik.
Senja kembali hadir menyapaku di penghujung hari ini. Di hari ketiga terakhir bulan Maret. Masih saja menyiratkan kerinduan. Aku bertanya padanya, "Kapan hujan datang lagi?". Ia menggeleng, tak tahu kapan hujan akan datang lagi. Kulihat ia menyiratkan kerinduan yang sangat dalam. Pun denganku.
Aku merindukan hujan. Sudah lama ia tak menyapa, dengan derasnya yang mampu meluruhkan gelisah maupun dengan lembut rintik gerimisnya yang menenangkan. Denganmu pun begitu. Tak kalah kurindukan. Beberapa hari tanpamu seperti melengkapi hariku yang tanpa hujan. Menyiksa. Menyisakan hati yang kering kerontang. Kapan kau membasahinya? Menghapus semua dahaga yang entah bagaimana menggambarkannya.
Sepertinya aku harus bersiap, menjalani hari tanpamu. Mungkin hanya hujan yang nantinya sesekali dapat mengobati rindu ini. Kapanpun, hati ini masih untukmu.
Aku merindukan hujan. Sudah lama ia tak menyapa, dengan derasnya yang mampu meluruhkan gelisah maupun dengan lembut rintik gerimisnya yang menenangkan. Denganmu pun begitu. Tak kalah kurindukan. Beberapa hari tanpamu seperti melengkapi hariku yang tanpa hujan. Menyiksa. Menyisakan hati yang kering kerontang. Kapan kau membasahinya? Menghapus semua dahaga yang entah bagaimana menggambarkannya.
Sepertinya aku harus bersiap, menjalani hari tanpamu. Mungkin hanya hujan yang nantinya sesekali dapat mengobati rindu ini. Kapanpun, hati ini masih untukmu.
Pagi yang gila mungkin. Tapi aku suka. Aku selalu menikmatinya. Mengawali pagiku dengan bercanda denganmu meskipun hanya melalui pesan singkat. Ini waktu yang selalu indah untukku. Entah untukmu. Seperti kemarin. Tapi kamu selalu mampu memberi perbedaan di tiap harinya. Dengan candaan yang kadang tak masuk akal sekalipun. Hahaha.. sepertinya aku harus mengakui jika aku gila.
Aku suka ketika kamu pun mulai pintar berlaku amnesia. Seperti yang kadang atau lebih tepatnya mungkin sering kulakukan. Itu berarti untukku. Aku ingat ketika dua malam yang lalu kamu menanyakan padaku bahwa apakah aku merindukanmu? Ah, itu pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar. Jawabannya pasti ya. Karena aku sangat merindukanmu. Ketika kamu bertanya lagi apa aku tak sesak nafas terus merinduimu? (mungkin maksudnya nyesekk) Sejujurnya, aku memilih sesak merindukanmu ketimbang harus melupakanmu. Itu saja. Tapi aku tak mengatakannya padamu. Dan pagi ini, kamu sukses membuatku rinduku semakin menggila.
Tak banyak yang bisa kutulis tentang pagi ini, karena aku masih ingin menikmati kegilaanku. Karenamu. Semalam kutitipkan rinduku pada bulan sabit, semoga ia menyampaikannya padamu. Jika pun ia tidak menyampaikannya, pagi ini telah kukirim pesan kerinduan padamu lewat sinar hangat sang mentari. Untukmu. Semoga kamu peka dan dapat merasakannya.
Aku suka ketika kamu pun mulai pintar berlaku amnesia. Seperti yang kadang atau lebih tepatnya mungkin sering kulakukan. Itu berarti untukku. Aku ingat ketika dua malam yang lalu kamu menanyakan padaku bahwa apakah aku merindukanmu? Ah, itu pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar. Jawabannya pasti ya. Karena aku sangat merindukanmu. Ketika kamu bertanya lagi apa aku tak sesak nafas terus merinduimu? (mungkin maksudnya nyesekk) Sejujurnya, aku memilih sesak merindukanmu ketimbang harus melupakanmu. Itu saja. Tapi aku tak mengatakannya padamu. Dan pagi ini, kamu sukses membuatku rinduku semakin menggila.
Tak banyak yang bisa kutulis tentang pagi ini, karena aku masih ingin menikmati kegilaanku. Karenamu. Semalam kutitipkan rinduku pada bulan sabit, semoga ia menyampaikannya padamu. Jika pun ia tidak menyampaikannya, pagi ini telah kukirim pesan kerinduan padamu lewat sinar hangat sang mentari. Untukmu. Semoga kamu peka dan dapat merasakannya.
Unpredictable!!
Sekali lagi, kamu berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Gemetar dalam detik-detik yang seolah melambat. Membuatku kehilangan kontrol atas tubuhku sendiri beberapa jenak. Yah, sekali lagi. Aku beruntung tak mengidap penyakit jantung yang bisa saja membuatku dilarikan ke rumah sakit.
Jadi begini kronologisnya... (ciyeehh.. sok seriusan lagi... :p)
Seperti malam-malam sebelumnya aku sering mengirimkan sms-sms yang bisa dibilang tidak penting. Yah, aku pun melakukannya lagi. Sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan isi smsnya, terpenting aku bisa tahu kalau kamu baik-baik saja. Pun jika smsku tak berbalas aku tak peduli. Yah, sejujurnya aku tak pernah benar-benar peduli entah kau peduli akan hadirku atau tidak ataupun tentang keberadaanku. Ah, sudahlah...
Awalnya semua berjalan normal dan baik-baik saja seperti biasa. Aku pun berbalas sms denganmu meski isinya hal yang tak penting sama sekali atau kadang bahkan mengejek. Jujur, aku menikmati momen-momen seperti itu dan terkadang merindukannya.
Sekali lagi, kamu berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Gemetar dalam detik-detik yang seolah melambat. Membuatku kehilangan kontrol atas tubuhku sendiri beberapa jenak. Yah, sekali lagi. Aku beruntung tak mengidap penyakit jantung yang bisa saja membuatku dilarikan ke rumah sakit.
Jadi begini kronologisnya... (ciyeehh.. sok seriusan lagi... :p)
Seperti malam-malam sebelumnya aku sering mengirimkan sms-sms yang bisa dibilang tidak penting. Yah, aku pun melakukannya lagi. Sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan isi smsnya, terpenting aku bisa tahu kalau kamu baik-baik saja. Pun jika smsku tak berbalas aku tak peduli. Yah, sejujurnya aku tak pernah benar-benar peduli entah kau peduli akan hadirku atau tidak ataupun tentang keberadaanku. Ah, sudahlah...
Awalnya semua berjalan normal dan baik-baik saja seperti biasa. Aku pun berbalas sms denganmu meski isinya hal yang tak penting sama sekali atau kadang bahkan mengejek. Jujur, aku menikmati momen-momen seperti itu dan terkadang merindukannya.
Oke, seminggu telah berlalu dari hari sidang komisi proposalku yang memberiku pelajaran yang amat berharga. Sejenak lupakan dulu masalah tentang skripsi itu. Karena, saat ini aku ingin bercerita lagi tentangmu. Ya, kamu. Bukan yang lain. Aku yakin kamu tahu jika yang kumaksud adalah dirimu. Haha... (mulai gila lagi saya...).
Kemarin... (maksud saya kemarinnya lagi... lagi-lagi kemarin, kenapa gak ditulis memang sih kemarin?)
Aku berjalan kaki ke kampus, entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi itu tak penting, aku menikmatinya. Berjalan kaki ke kampus yang entah jaraknya berapa tapi hanya membutuhkan waktu tempuh 30 menit jikalau hujan dan 20 menit kalau tak hujan.
Nah untuk yang pertama kalinya aku ke kampus dengan memakai payung besar berwarna pelangi (jadi ingat puisi waktu SD, walau hujan.. aku tetap pergi ke sekolah.. haha...).
Diperjalanan menuju kampus terdapatlah pelajaran yang berharga yang kudapatkan (kok jadi kayak nge-dongeng ya.. tapi.. sudahlah...). Maksud diriku seperti ini, yah dalam perjalanan sambil jalan kaki itu aku tersadar akan beberapa hal, seperti mulai menghormati hak pejalan kaki di kala hujan. Bayangkan jikalau kita naik motor terus ada air yang tergenang di pinggir jalan kemudian kita melaju kencang di atas air itu dan di saat bersamaan ada seorang pejalan kaki disitu... huh, yakin deh, pasti bakalan disumpahin yang jelek-jelek. Tapi, kemarin aku tak melakukannya, selain karena memang beruntung tak ada air yang menyiprat padaku. Hanya hampir saja. Sudahlah, tak penting membahas perjalananku. Dirimu masih lebih penting untuk kuceritakan sebelum aku tidur malam ini.
Kemarin... (maksud saya kemarinnya lagi... lagi-lagi kemarin, kenapa gak ditulis memang sih kemarin?)
Aku berjalan kaki ke kampus, entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi itu tak penting, aku menikmatinya. Berjalan kaki ke kampus yang entah jaraknya berapa tapi hanya membutuhkan waktu tempuh 30 menit jikalau hujan dan 20 menit kalau tak hujan.
Nah untuk yang pertama kalinya aku ke kampus dengan memakai payung besar berwarna pelangi (jadi ingat puisi waktu SD, walau hujan.. aku tetap pergi ke sekolah.. haha...).
Diperjalanan menuju kampus terdapatlah pelajaran yang berharga yang kudapatkan (kok jadi kayak nge-dongeng ya.. tapi.. sudahlah...). Maksud diriku seperti ini, yah dalam perjalanan sambil jalan kaki itu aku tersadar akan beberapa hal, seperti mulai menghormati hak pejalan kaki di kala hujan. Bayangkan jikalau kita naik motor terus ada air yang tergenang di pinggir jalan kemudian kita melaju kencang di atas air itu dan di saat bersamaan ada seorang pejalan kaki disitu... huh, yakin deh, pasti bakalan disumpahin yang jelek-jelek. Tapi, kemarin aku tak melakukannya, selain karena memang beruntung tak ada air yang menyiprat padaku. Hanya hampir saja. Sudahlah, tak penting membahas perjalananku. Dirimu masih lebih penting untuk kuceritakan sebelum aku tidur malam ini.
Finally, it's done di 13 Februari 2013. Yah, langkah pertamaku menuju akhir studi S1 selesai kemarin. Seminar proposal akhirnya kulalui juga. Banyak cerita kemarin, dan banyak pula pelajaran yang bisa kupetik. Semoga hidupku bisa lebih bermakna lagi dengan memperoleh banyaknya pembelajaran di setiap hariku.
Menunggu, lelah, perjuangan, hujan, coretan, perbaikan, tantangan, bahkan sampai dumba' pun jadi pelajaran yang begitu berharga bagiku kemarin. Bahkan sampai saat menuliskan ini pun, jantungku masih berdegup kencang. Mungkin masih terbawa suasana kemarin.
Seperti inilah ceritanya...
Menunggu, lelah, perjuangan, hujan, coretan, perbaikan, tantangan, bahkan sampai dumba' pun jadi pelajaran yang begitu berharga bagiku kemarin. Bahkan sampai saat menuliskan ini pun, jantungku masih berdegup kencang. Mungkin masih terbawa suasana kemarin.
Seperti inilah ceritanya...
Seperti mimpi. Selalu saja begitu.
Tanpa ada angin apapun atau apalah yang sejenisnya. Kamu seolah tercipta untuk menyempurnakan hariku.
Pagi tadi aku menanti hujan. Menanti kamu datang mengantarkannya tapi hingga jelang siang tak ada pertanda apapun bahwa hujan yang kunanti akan datang.
Yah, selalu mengejutkanku. Mendiamkanku. Atau mungkin menggilakan hariku. Kamu.
Tahukah apa yang berarti untukku? Ya, hanya itu. Bisa melihatmu lagi hari ini. Bertemu pandang denganmu dalam detik yang ingin kuhentikan. Dalam detik yang ingin kulambatkan. Dan, dalam detik yang tak terdefinisikan. Inginku mendengar suaramu, tapi jika pun itu tak memungkinkan, melihatmu saja itu sudah lebih dari cukup. Seolah mendapatkan keajaiban hari ini.
Sungguh, hanya kamu yang mampu mengalihkan perhatianku di tengah sibuknya hariku. Ya, kamu. Masih kamu. Bukan yang lain. Semoga besok masih bisa melihatmu. Memberikan kesejukan hujan lagi.
#lebih dekat denganmu, itu inginku.
Tanpa ada angin apapun atau apalah yang sejenisnya. Kamu seolah tercipta untuk menyempurnakan hariku.
Pagi tadi aku menanti hujan. Menanti kamu datang mengantarkannya tapi hingga jelang siang tak ada pertanda apapun bahwa hujan yang kunanti akan datang.
Yah, selalu mengejutkanku. Mendiamkanku. Atau mungkin menggilakan hariku. Kamu.
Tahukah apa yang berarti untukku? Ya, hanya itu. Bisa melihatmu lagi hari ini. Bertemu pandang denganmu dalam detik yang ingin kuhentikan. Dalam detik yang ingin kulambatkan. Dan, dalam detik yang tak terdefinisikan. Inginku mendengar suaramu, tapi jika pun itu tak memungkinkan, melihatmu saja itu sudah lebih dari cukup. Seolah mendapatkan keajaiban hari ini.
Sungguh, hanya kamu yang mampu mengalihkan perhatianku di tengah sibuknya hariku. Ya, kamu. Masih kamu. Bukan yang lain. Semoga besok masih bisa melihatmu. Memberikan kesejukan hujan lagi.
#lebih dekat denganmu, itu inginku.
Sepertinya ini bukan pagi...
Mungkin masih mimpi...
Pagiku tak pernah seperti ini sebelumnya
Tapi, ketika kubuka pintu...
Terasa hangat mentari pagi menerpaku...
Ini bukan mimpi...
Yah, kau ada di pagiku
Mencerahkan seperti mentari
Bahkan, mentari pun iri padamu
#untukmu, terima kasih untuk pagi ini...
Mungkin masih mimpi...
Pagiku tak pernah seperti ini sebelumnya
Tapi, ketika kubuka pintu...
Terasa hangat mentari pagi menerpaku...
Ini bukan mimpi...
Yah, kau ada di pagiku
Mencerahkan seperti mentari
Bahkan, mentari pun iri padamu
#untukmu, terima kasih untuk pagi ini...
Februari telah tiba, dan aku menghela napas panjang pagi tadi. Januari telah berakhir ternyata. Banyak hal yang terlewatkan di bulan kemarin. Tapi, tak apalah. Tak ada yang perlu disesali. Hariku sepertinya akan panjang. Pikirku pagi tadi. Jumat, tertanggal 1 Februari 2013. Masih kutatap lekat kalenderku. Dan ada beberapa bayangan nyata yang melintasi pikiranku. Yang paling jelas adalah proposal skripsiku. Tentunya. Sudah 3 hari kemarin aku tak ke kampus. Karena sedang berbenah, pindah kost lebih tepatnya. Meski sampai hari ini, kostku yang baru pun masih berantakan. Seolah habis diamuk puting beliung. Oke, sejenak kembali ke persoalan skripsi itu.
Bukannya pesimis, tapi hanya mencoba bersikap realistis saja. Kemungkinan untuk wisuda bulan April tahun ini sepertinya tinggal sepuluh persen saja. Sampai pagi tadi, sebelum ke kampus belum ada tanda-tanda proposal skripsiku akan ACC. Tapi, entah apa yang mendorongku sehingga aku berangkat kampus lebih cepat dari biasanya pagi tadi. Sesampai di kampus, seolah tak ada kehidupan disana. Kulihat sekeliling, dosen pun tak ada. Hanya ada beberapa mahasiswa saja yang bisa kutebak adalah mahasiswa tingkat akhir. Karena sekarang sedang masa libur semester.
Aku menunggu sejak jam 8 lewat pagi tadi. Sampai jelang jam 11 ketika ada beberapa orang yang mengatakan padaku kalau pembimbing I-ku tak ke kampus hari ini. Pasrah. Tentu saja. Lagi, kutarik napas panjang. Mungkin memang belum saatnya. Seketika aku ingin pulang ke kost saja melanjutkan pekerjaanku berbenah di tempatku yang baru seandainya tak ingat kalau hari ini hari Jumat. Yah, aku memutuskan untuk ke mesjid kampus jelang jam 12 untuk shalat Jumat. Dan setelah shalat Jumat, aku ingin langsung pulang.
Bukannya pesimis, tapi hanya mencoba bersikap realistis saja. Kemungkinan untuk wisuda bulan April tahun ini sepertinya tinggal sepuluh persen saja. Sampai pagi tadi, sebelum ke kampus belum ada tanda-tanda proposal skripsiku akan ACC. Tapi, entah apa yang mendorongku sehingga aku berangkat kampus lebih cepat dari biasanya pagi tadi. Sesampai di kampus, seolah tak ada kehidupan disana. Kulihat sekeliling, dosen pun tak ada. Hanya ada beberapa mahasiswa saja yang bisa kutebak adalah mahasiswa tingkat akhir. Karena sekarang sedang masa libur semester.
Aku menunggu sejak jam 8 lewat pagi tadi. Sampai jelang jam 11 ketika ada beberapa orang yang mengatakan padaku kalau pembimbing I-ku tak ke kampus hari ini. Pasrah. Tentu saja. Lagi, kutarik napas panjang. Mungkin memang belum saatnya. Seketika aku ingin pulang ke kost saja melanjutkan pekerjaanku berbenah di tempatku yang baru seandainya tak ingat kalau hari ini hari Jumat. Yah, aku memutuskan untuk ke mesjid kampus jelang jam 12 untuk shalat Jumat. Dan setelah shalat Jumat, aku ingin langsung pulang.
Sekarang hari libur, warna merah jelas terlihat di kalenderku yang menunjuk angka 24. Yah, seminggu lagi Januari berakhir. Dan, proposal skripsiku belum juga kelar. Entah apa yang ada di pikiranku. Penyakit lamaku sepertinya kambuh. Aku mulai ogah-ogahan lagi mengerjakannya. Tak tahu apa yang ada dalam kepalaku. Pesimis? Mungkin. Realistis? juga mungkin. Tapi, tak tahu apa yang terjadi padaku. Beberapa hari terakhir draf proposalku sama sekali tak kusentuh. Tidak mood? Mood, bukanlah alasan yang tepat untukku. Mungkin otakku hanya butuh pancingan sedikit untuk bisa bekerja lebih maksimal. Mataku pun tak lagi tahan berlama-lama depan layar laptop. Entah apa sebabnya, CVS mungkin (lagi).
Sepertinya aku butuh waktu untuk ke suatu tempat dimana bisa me-refresh otakku dulu. Mungkin ini hanya rasa jenuh. Tapi, mau kemana? Opsi tempat tujuan pun sama sekali tidak tergambar dalam otakku. Ini mungkin karena aku lebih sering mengurung diri di kamar. Terlebih dukungan cuaca yang tak menentu. Bukan tak menentu sih sebenarnya, tapi memang lebih sering hujan dan membuatku malas beraktifitas di luar rumah.
Sepertinya aku butuh waktu untuk ke suatu tempat dimana bisa me-refresh otakku dulu. Mungkin ini hanya rasa jenuh. Tapi, mau kemana? Opsi tempat tujuan pun sama sekali tidak tergambar dalam otakku. Ini mungkin karena aku lebih sering mengurung diri di kamar. Terlebih dukungan cuaca yang tak menentu. Bukan tak menentu sih sebenarnya, tapi memang lebih sering hujan dan membuatku malas beraktifitas di luar rumah.
"nyerah sama realistis itu beda tipis".
Kalimat di atas merupakan kutipan dari film "Perahu Kertas". Kalimat itu diucapkan oleh Keenan pada Kugy ketika ia memutuskan untuk berhenti melukis. Ia pergi dari rumah dan telah mengundurkan diri di kampusnya dimana ia kuliah ekonomi.
Mungkin tak sedikit orang yang berada di posisi seperti itu. Aku, juga pernah dan entah sekarang. Apa masih berada di posisi itu atau tidak. Terkadang, godaan untuk menyerah itu berbalut dengan realitas. Dan memaksa kita berpikir realistis. Ketika berada di titik itu, kita kadang mengesampingkan faktor "x" ataupun faktor Tuhan dan mulai larut dalam realitas yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Pengondisian diri lebih tepatnya. Menempatkan diri kita dalam kotak yang mengekang segala kemungkinan terbaik dari yang terburuk. Dan hasilnya bisa dipastikan, kita benar-benar menyerah.
Kalimat di atas merupakan kutipan dari film "Perahu Kertas". Kalimat itu diucapkan oleh Keenan pada Kugy ketika ia memutuskan untuk berhenti melukis. Ia pergi dari rumah dan telah mengundurkan diri di kampusnya dimana ia kuliah ekonomi.
Mungkin tak sedikit orang yang berada di posisi seperti itu. Aku, juga pernah dan entah sekarang. Apa masih berada di posisi itu atau tidak. Terkadang, godaan untuk menyerah itu berbalut dengan realitas. Dan memaksa kita berpikir realistis. Ketika berada di titik itu, kita kadang mengesampingkan faktor "x" ataupun faktor Tuhan dan mulai larut dalam realitas yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Pengondisian diri lebih tepatnya. Menempatkan diri kita dalam kotak yang mengekang segala kemungkinan terbaik dari yang terburuk. Dan hasilnya bisa dipastikan, kita benar-benar menyerah.
Bagiku, bahagia itu sederhana. Seperti ketika aku teringat akan senyummu pagi kemarin yang mengawali hariku. Inginku selalu begitu. Entah resep apa yang kau punya sehingga hanya dengan senyuman ditambah dengan beberapa kata, yang terucap dari bibirmu mampu mengubah hariku menjadi lebih dari biasanya atau dengan kata lain luar biasa.
Yah, pagi kemarin aku terbangun karena pesan singkat darimu. Andai bisa seperti itu setiap harinya. Hingga nanti kau sendiri yang membangunkanku ketika aku terlelap di sampingmu. Bingung, sebenarnya apa yang akan kutuliskan tentangmu, terkadang aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Sama seperti ketika berada dihadapanmu, aku hanya mampu memandangimu tanpa bisa berkata banyak. Ironis, ketika orang lain bertanya tentangmu, maka aku seolah tak pernah kehabisan kata-kata untuk menceritakan segala tentangmu.
Anehnya, meskipun aku sering kehabisan kata-kata di hadapanmu, aku merasa itu adalah percakapan terindah denganmu dalam menit-menit yang tak terdefinisikan. Sulit diungkapkan perasaanku saat itu, membuatku seolah menjadi orang yang kurang waras setelah bertemu denganmu karena bawaannya akan senyum-senyum terus, sepanjang hari.
Sadarku, tak ada manusia yang sempurna. Aku tahu kau juga adalah manusia yang pasti memiliki kekurangan. Tapi, bagiku hanya ada satu kata untukmu. Sempurna.
Semoga esok, masih ada hari-hari dimana aku bisa kembali menemukan senyummu. Senyum yang selalu kurindukan sampai kau mengobati rasa rindu ini. Meski waktu kian terasa sulit. Untukku pun untukmu. Kerena sejujurnya, aku telah memilihmu.
Yah, pagi kemarin aku terbangun karena pesan singkat darimu. Andai bisa seperti itu setiap harinya. Hingga nanti kau sendiri yang membangunkanku ketika aku terlelap di sampingmu. Bingung, sebenarnya apa yang akan kutuliskan tentangmu, terkadang aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Sama seperti ketika berada dihadapanmu, aku hanya mampu memandangimu tanpa bisa berkata banyak. Ironis, ketika orang lain bertanya tentangmu, maka aku seolah tak pernah kehabisan kata-kata untuk menceritakan segala tentangmu.
Anehnya, meskipun aku sering kehabisan kata-kata di hadapanmu, aku merasa itu adalah percakapan terindah denganmu dalam menit-menit yang tak terdefinisikan. Sulit diungkapkan perasaanku saat itu, membuatku seolah menjadi orang yang kurang waras setelah bertemu denganmu karena bawaannya akan senyum-senyum terus, sepanjang hari.
Sadarku, tak ada manusia yang sempurna. Aku tahu kau juga adalah manusia yang pasti memiliki kekurangan. Tapi, bagiku hanya ada satu kata untukmu. Sempurna.
Semoga esok, masih ada hari-hari dimana aku bisa kembali menemukan senyummu. Senyum yang selalu kurindukan sampai kau mengobati rasa rindu ini. Meski waktu kian terasa sulit. Untukku pun untukmu. Kerena sejujurnya, aku telah memilihmu.
Hari ini aku bahagia. Ya, aku bahagia tentunya bukan tanpa alasan. Tapi, aku bahagia karena aku ingin bahagia. Oke, sekarang mungkin waktunya laporan perkembangan tentang urusan skripsiku.
Yah, aku memulai hari ini dengan terbangun lebih awal dari biasanya. Entah apa alasannya, sepertinya ada yang tak biasa dengan hari ini. Semangatku seolah lebih daripada kadar biasanya. Mungkin karena hari ini adalah hari yudisiummu atau hari dimana status mahasiswa di pundakmu pun dicabut. Tapi, entah kenapa aku yang lebih bersemangat. Ah, aku tahu, semua itu karena pesan singkat darimu pagi tadi. Selalu mampu memompa semangatku ke tempat tertinggi. Dan itu, kamu.
Aku berangkat ke kampus jelang jam 12 siang tadi. Niatku hari ini adalah bertemu dengan pembimbing II-ku untuk konsultasi proposal skripsi yang kebetulan adalah ketua jurusanku, tentunya itu selain bertemu denganmu dan melihat senyuman yang selalu kurindukan (lagi). Tak bosan-bosan aku melihatnya. Entah sampai kapan pun. Mungkin aku terlalu cepat ke kampus, karena biasanya pembimbing II-ku melayani konsultasi sore hari dan kadangkala sampai maghrib, dan aku menunggu dengan sabar sambil melanjutkan mengetik materi untuk web-ku. Meski terkadang peluh mengucur di dahiku, aku tak peduli lagi ketika di pikaranku tampak jelas targetku untuk bisa wisuda bulan April nanti. Denganmu, tentunya.
Jam 2 siang, dan aku memperoleh informasi jika pembimbing II-ku akan berada di kampus jam 3 sore nanti. Masih ada satu jam. Pikirku. Dan lagi, kulanjutkan ketikanku. Masih jelas terbayang aku akan wisuda bulan April nanti. Aku bisa, yakin bisa.
Yah, aku memulai hari ini dengan terbangun lebih awal dari biasanya. Entah apa alasannya, sepertinya ada yang tak biasa dengan hari ini. Semangatku seolah lebih daripada kadar biasanya. Mungkin karena hari ini adalah hari yudisiummu atau hari dimana status mahasiswa di pundakmu pun dicabut. Tapi, entah kenapa aku yang lebih bersemangat. Ah, aku tahu, semua itu karena pesan singkat darimu pagi tadi. Selalu mampu memompa semangatku ke tempat tertinggi. Dan itu, kamu.
Aku berangkat ke kampus jelang jam 12 siang tadi. Niatku hari ini adalah bertemu dengan pembimbing II-ku untuk konsultasi proposal skripsi yang kebetulan adalah ketua jurusanku, tentunya itu selain bertemu denganmu dan melihat senyuman yang selalu kurindukan (lagi). Tak bosan-bosan aku melihatnya. Entah sampai kapan pun. Mungkin aku terlalu cepat ke kampus, karena biasanya pembimbing II-ku melayani konsultasi sore hari dan kadangkala sampai maghrib, dan aku menunggu dengan sabar sambil melanjutkan mengetik materi untuk web-ku. Meski terkadang peluh mengucur di dahiku, aku tak peduli lagi ketika di pikaranku tampak jelas targetku untuk bisa wisuda bulan April nanti. Denganmu, tentunya.
Jam 2 siang, dan aku memperoleh informasi jika pembimbing II-ku akan berada di kampus jam 3 sore nanti. Masih ada satu jam. Pikirku. Dan lagi, kulanjutkan ketikanku. Masih jelas terbayang aku akan wisuda bulan April nanti. Aku bisa, yakin bisa.
Tak butuh waktu lama untuk mengundangmu mengisi pikiranku, selanjutnya menjadi penghuni tetap dalam otakku. Pun demikian dengan hatiku. Lebih dari tiga tahun berlalunya waktu itu. Ketika aku dengan sengaja memasukkanmu dalam pikiranku hanya karena persamaan namamu dengan seseorang yang cukup berarti bagiku kala itu. Sejujurnya, kala itu hanya karena namamu lah yang membuatku tetarik untuk mengenalmu lebih dekat. Bukan dari fisik yang kulihat ataupun cerita orang tentangmu. Semuanya mulai dari nol.
Tak pernah ada sesalku ketika rasa itu perlahan muncul dan menyeruak ke permukaan. Pikirku, kau memang pantas mendapatkannya. Dan aku, tetap dalam penantian untukmu meski kalender sudah berganti empat kali. Aku tak peduli kata orang, banyak di antara mereka yang berkata aku aneh, dan tak sedikit yang mengatakan aku gila ketika aku lebih memilih menghabiskan waktuku dalam penantian yang tak kunjung berakhir. Itu kulakukan untukmu. Tidak dengan yang lain.
Pernah aku terjebak dalam pikiranku sendiri. Ketika tentangmu, aku tak bisa membedakan, ini cinta atau hanya sekedar ambisi atau mungkin juga obsesi. Tapi, hari ini aku sadar, dan aku yakin inilah cinta yang kupahami. Ya, aku jatuh cinta padamu sejak saat itu, sejak kau mengenalkan namamu padaku. Sampai hari ini, rasa itu tetap ada, meski angka tahun di kalender telah empat kali berganti. Dan itu masih kamu.
Sekarang lihat, langit malam ini sejenak berhenti menghantarkan hujan padaku. Berganti dengan embun malam yang dingin, perlahan menyentuh permukaan kulitku. Aku tak peduli dengan itu. Lihat bintang-bintang di angkasa itu? Ya, begitu banyak bintang yang menggantung di sana, dan begitu banyak pula orang-orang yang menggantungkan mimpinya di sana. Tapi, aku tidak melakukannya. Karena mimpiku ada disini, di sorot matamu jelas kulihat. Sehingga aku tak perlu menuju bintang. Hanya saja, malam ini kutitip rinduku pada bintang-bintang, ketika hujan mulai lelah menyampaikannya padamu,mungkin karena intensitasnya lebih banyak daripada hujan itu sendiri. Rindu ini selalu untukmu.
Tak pernah ada sesalku ketika rasa itu perlahan muncul dan menyeruak ke permukaan. Pikirku, kau memang pantas mendapatkannya. Dan aku, tetap dalam penantian untukmu meski kalender sudah berganti empat kali. Aku tak peduli kata orang, banyak di antara mereka yang berkata aku aneh, dan tak sedikit yang mengatakan aku gila ketika aku lebih memilih menghabiskan waktuku dalam penantian yang tak kunjung berakhir. Itu kulakukan untukmu. Tidak dengan yang lain.
Pernah aku terjebak dalam pikiranku sendiri. Ketika tentangmu, aku tak bisa membedakan, ini cinta atau hanya sekedar ambisi atau mungkin juga obsesi. Tapi, hari ini aku sadar, dan aku yakin inilah cinta yang kupahami. Ya, aku jatuh cinta padamu sejak saat itu, sejak kau mengenalkan namamu padaku. Sampai hari ini, rasa itu tetap ada, meski angka tahun di kalender telah empat kali berganti. Dan itu masih kamu.
Sekarang lihat, langit malam ini sejenak berhenti menghantarkan hujan padaku. Berganti dengan embun malam yang dingin, perlahan menyentuh permukaan kulitku. Aku tak peduli dengan itu. Lihat bintang-bintang di angkasa itu? Ya, begitu banyak bintang yang menggantung di sana, dan begitu banyak pula orang-orang yang menggantungkan mimpinya di sana. Tapi, aku tidak melakukannya. Karena mimpiku ada disini, di sorot matamu jelas kulihat. Sehingga aku tak perlu menuju bintang. Hanya saja, malam ini kutitip rinduku pada bintang-bintang, ketika hujan mulai lelah menyampaikannya padamu,mungkin karena intensitasnya lebih banyak daripada hujan itu sendiri. Rindu ini selalu untukmu.
Sandar, ya... aku ingin bersandar. Sejenak saja, di bahumu. Aku lelah, ingin melepasnya meski hanya sedikit. Ingin kurasakan hembusan nafasmu. Hangat dan lembut jemarimu di pipiku dan perlahan membelai rambutku, pelan dan tanpa kata. Sekarang rasakan, rasakan degup jantungku yang tak menentu ini. Selalu seperti itu ketika di dekatmu. Mungkin, kaulah alasan jantungku tetap berdetak. Yakinku.
Sekarang diam. Lelahku sudah mulai memudar. Pandangi langit malam, menurunkan hujan yang menderas. Rasakan dinginnya. Dingin yang memuncak ditengah kegelapan malam, tapi tatapanmu yang teduh bisa menghangatkanku. Sedikit lagi, aku masih ingin bersandar di bahumu beberapa jenak untuk melepaskan sesakku, resahku, dan keluhku. Meskipun masih dalam diam. Pun denganmu. Menjadikan malam ini indah dengan diam kita, menyelesaikan cerita hanya dengan tatapan mata. Kamu.
Sekarang lihat. Buka matamu dan jauhkan pandangmu ke depan. Lihat? kau lihat mimpiku? ya, itu mimpiku. Mimpi hidup bersamamu. Menjadikanmu nyata dalam gelap dan dingin malamku. Menjadikan bahumu nyata untukku bersandar ketika lelah, sesak, dan resah.
Malam ini, kau tersenyum penuh makna padaku. Hidup, nyata dalam imajiku. Terima kasih untuk hadirmu yang selalu mengisi pikiranku. Pun dengan hatiku. Ini untukmu.
Sekarang diam. Lelahku sudah mulai memudar. Pandangi langit malam, menurunkan hujan yang menderas. Rasakan dinginnya. Dingin yang memuncak ditengah kegelapan malam, tapi tatapanmu yang teduh bisa menghangatkanku. Sedikit lagi, aku masih ingin bersandar di bahumu beberapa jenak untuk melepaskan sesakku, resahku, dan keluhku. Meskipun masih dalam diam. Pun denganmu. Menjadikan malam ini indah dengan diam kita, menyelesaikan cerita hanya dengan tatapan mata. Kamu.
Sekarang lihat. Buka matamu dan jauhkan pandangmu ke depan. Lihat? kau lihat mimpiku? ya, itu mimpiku. Mimpi hidup bersamamu. Menjadikanmu nyata dalam gelap dan dingin malamku. Menjadikan bahumu nyata untukku bersandar ketika lelah, sesak, dan resah.
Malam ini, kau tersenyum penuh makna padaku. Hidup, nyata dalam imajiku. Terima kasih untuk hadirmu yang selalu mengisi pikiranku. Pun dengan hatiku. Ini untukmu.
Inkonsistensi, sekali lagi menghampiriku. Membuat rencanaku kembali hanya menjadi sebuah rencana yang tak terealisasi. Postingan ini pun bukti inkonsistensiku. Harusnya ini kubuat malam tadi, tapi ternyata aku masih saja terjebak dalam kemalasan yang tak berujung. Membuang waktuku percuma. Dan, parahnya skripsiku pun membutuhkan tambahan waktu untuk diselesaikan. Meskipun kemarin tetap ada perkembangan pada draf proposalku, tapi tak terlalu signifikan. Karena seharusnya aku bisa melakukan yang lebih baik lagi. Aku tak ingin menyalahkan keadaan, karena aku sendirilah yang membuat keadaan seperti ini. Rencanaku konsultasi kemarin pun tak terwujud hanya karena hal sepele, ini dan itulah. Rancangan webku pun sama sekali tak ada perkembangan, walau hanya tambahan materi sedikitpun.
Kemarin, ya kemarin. Tak perlu lagi dibahas, terpenting adalah hari ini lakukan yang terbaik untuk menutupi kekurangan hari kemarin. Jika kemarin belum maksimal, harusnya hari ini bisa maksimal. Jika pun bisa melebihi maksimal, harusnya seperti itu. Tapi, aku belum menemukan kata yang mewakili jika sesuatu itu melebihi maksimal. Karena belum ada patokan untuk maksimalnya.
Kemarin, ya kemarin. Tak perlu lagi dibahas, terpenting adalah hari ini lakukan yang terbaik untuk menutupi kekurangan hari kemarin. Jika kemarin belum maksimal, harusnya hari ini bisa maksimal. Jika pun bisa melebihi maksimal, harusnya seperti itu. Tapi, aku belum menemukan kata yang mewakili jika sesuatu itu melebihi maksimal. Karena belum ada patokan untuk maksimalnya.
Hidup adalah sebuah perjuangan. Jadi ketika kita tidak berjuang setiap hari, maka kita tak ada bedanya dengan orang mati. Ah, lagi-lagi skripsi. Sekarang aku harus terus berjuang untuk skripsiku. Paling tidak, ada perubahan setiap harinya. Sekecil apa pun itu, karena itu adalah sebuah proses.
Hari ini, hanya ada tambahan sedikit materi di web yang kurancang. Aku kecewa, karena perhatianku masih saja teralihkan pada hal-hal yang tak penting. Aku tak tahan berlama-lama dengan keyboard laptop. Entah kenapa, aku belum bisa menemukan solusi untuk masalah yang satu itu.
Sekarang 20 hari tersisa di bulan Januari, dan aku memiliki target bisa seminar proposal bulan ini. Perkiraan waktu efektif hanya 15 hari untuk mengurusinya. Seolah memaksaku untuk menatap realitas, bahwa sangat kecil kemungkinannya aku bisa seminar proposal bulan ini, mengingat belum ada perkembangan yang terlalu signifikan dari draf proposalku, alih-alih Acc dari pembimbing. Tapi, sekecil apapun itu, kemungkinan tetap ada kan? Dan aku akan tetap mengejarnya, hingga Januari betul-betul berakhir. Berpikir positif dan optimis disertai usaha yang maksimal diiringi doa' adalah cara paling masuk akal untuk mencapainya.
Kembali lagi ke rancangan web. Hari ini, meski tambahan materi tidak terlalu banyak, paling tidak aku bisa menambahkan jam, kalender dan statistik pengunjung di web ku. Itupun setelah memutar otak selama satu jam lebih. Hanya itu perkembangan dari web rancanganku. Sedangkan untuk materinya, masih kurang empat pokok bahasan. Tapi, tekadku menyelesaikan web itu minggu ini. Paling tidak, sampai hari minggu pukul 23.59.
Hari ini, hanya ada tambahan sedikit materi di web yang kurancang. Aku kecewa, karena perhatianku masih saja teralihkan pada hal-hal yang tak penting. Aku tak tahan berlama-lama dengan keyboard laptop. Entah kenapa, aku belum bisa menemukan solusi untuk masalah yang satu itu.
Sekarang 20 hari tersisa di bulan Januari, dan aku memiliki target bisa seminar proposal bulan ini. Perkiraan waktu efektif hanya 15 hari untuk mengurusinya. Seolah memaksaku untuk menatap realitas, bahwa sangat kecil kemungkinannya aku bisa seminar proposal bulan ini, mengingat belum ada perkembangan yang terlalu signifikan dari draf proposalku, alih-alih Acc dari pembimbing. Tapi, sekecil apapun itu, kemungkinan tetap ada kan? Dan aku akan tetap mengejarnya, hingga Januari betul-betul berakhir. Berpikir positif dan optimis disertai usaha yang maksimal diiringi doa' adalah cara paling masuk akal untuk mencapainya.
Kembali lagi ke rancangan web. Hari ini, meski tambahan materi tidak terlalu banyak, paling tidak aku bisa menambahkan jam, kalender dan statistik pengunjung di web ku. Itupun setelah memutar otak selama satu jam lebih. Hanya itu perkembangan dari web rancanganku. Sedangkan untuk materinya, masih kurang empat pokok bahasan. Tapi, tekadku menyelesaikan web itu minggu ini. Paling tidak, sampai hari minggu pukul 23.59.
Setelah kemarin, hari ini aku melanjutkan lagi perjuanganku untuk menyelesaikan web yang kurancang sebagai pelengkap tugas akhirku. Sebagai awal, entah kenapa pagi tadi aku bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Dan, seolah menjadi rutinitas, seusai shalat subuh aku mengirimkan sms kepada seseorang yang cukup berarti untukku tanpa peduli aku berarti untuknya atau tidak. Seperti biasanya dia pun membalasnya dengan tertawa atau mungkin tersenyum saat membaca sms dariku. Tujuanku hanya satu, ingin membuatnya tertawa ataupun tersenyum di awal hari. Apalagi hari ini ia akan ujian skripsi/ujian akhir, tapi lebih sering kami menyebutnya ujian meja. Berbalas, ia pun menyemangatiku untuk segera menyelesaikan skripsiku meski sebenarnya ia adalah adik tingkatku atau satu tahun dibawahku. Tapi, lagi-lagi ini hanya masalah disiplin sehingga ia lebih dulu menyelesaikan studinya daripada aku. Well, tentangnya cukup sampai disini dulu, karena aku yakin, jika terus menceritakan dia maka tak akan ada habisnya.
Yah, hari ini aku ke kampus. Pagi. Bukan tanpa alasan, aku ke kampus karena sudah janji dengan seorang adik tingkatku untuk bertemu, karena ada tawaran kerjasama darinya. Selain itu, juga karena aku ingin melihat 'dia' yang kusebut di paragraf pertama tadi yang akan ujian akhir hari ini. Meski jadwal ujian akhirnya baru dimulai pukul 15.00 WITA. Tapi, tak ada masalah, sekalian aku bisa mengerjakan beberapa halaman materi yang akan ku-input ke dalam web ku malam ini. Kurasa, banyak waktu yang terbuang di kampus, waktuku menjadi kurang produktif ketika hanya kuhabiskan dengan duduk-duduk santai di depan jurusan tanpa ada hal lain yang bisa kulakukan sebagai langkah pendukung untuk segera menyelesaikan skripsiku mapun web yang sedang kurancang.
Sebenarnya ini mau saya posting malam tadi, tapi tertidur karena kelelahan, dan akhirnya tidak menyempatkan diri untuk mampir disini, walapun akhirnya bisa mampir sepagi ini. Seperti janjiku kemarin, aku kembali mampir disini untuk berkisah. Well, this is my story...
Ada segelintir orang yang mengatakan jika memulai sesuatu adalah hal yang tersulit. Dan hal itu berlaku juga ketika akan mulai menyusun skripsi. Tak tahu kenapa hal itu seolah berlaku juga padaku. Setelah judul skripsiku diterima oleh pembimbing, aku tak pernah berani untuk memulai mengerjakannya. Yang kulakukan hanya menunda dan terus mengulur waktu tanpa alasan yang jelas, tak tanggung-tanggung hampir setahun aku menundanya.
Aku memulainya setelah melewati pertengahan tahun kemarin, dengan target bisa wisuda di akhir tahun kemarin. Semangatku pun menggebu sampai akhirnya pembimbingku mengatakan jika aku tak bisa wisuda akhir tahun kemarin. Aku tak tahu pasti alasan beliau saat itu, dan sejujurnya itu membuatku drop. Selang beberapa hari aku tahu jika ternyata beliau akan berangkat menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun kemarin. Dan, perkiraanku mungkin itu alasan beliau. Tapi, aku terus konsultasi sampai jelang keberangkatan beliau ke tanah suci. Dan, setelah beliau berangkat. Maka draf proposalku pun berangkat ke dalam laci lemari dan bersemayam hampir dua bulan lamanya, setelah itulah bagian tersulitnya.
7 Januari 2013, hari pertama kembali kubuka blog ini setelah tahun berganti. Sepertinya sudah banyak jaring laba-laba disini. Karena, sudah sebulan lebih tak mampir kesini. Aku tak mau mencari alasan, semua ini hanya karena kemalasanku untuk mampir disini lagi. Beberapa saat yang lalu, aku menyempatkan diri membaca blog seorang teman. Isinya ter-update. Sebenarnya aku iri padanya, karena aku tak bisa serutin dia mengujungi blognya. Menuliskan apapun setiap harinya. Tak peduli panjang atau pendek. Seperti rumah, tak peduli sudah banyak debu atau tidak, tetap saja perlu dibersihkan. Hal itu seolah menamparku. Aku yang terjebak dalam kemalasan yang tak berujung, tak mampu menghasilkan apa-apa.
Hari ini, kuberanikan diri untuk menuliskan mimpi-mimpiku. Dan kutempelkan pada tembok. Sengaja kutempelkan di dekat cermin, agar aku bisa melihatnya setiap kali kau bercermin. Aku merasa, ada energi tersendiri ketika kutuliskan mimpi-mimpi itu dan akau menyebutnya 'Energi Ajaib'. Mungkin banyak diantaranya yang tak masuk akal. Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di hari esok?
Hari ini, kuberanikan diri untuk menuliskan mimpi-mimpiku. Dan kutempelkan pada tembok. Sengaja kutempelkan di dekat cermin, agar aku bisa melihatnya setiap kali kau bercermin. Aku merasa, ada energi tersendiri ketika kutuliskan mimpi-mimpi itu dan akau menyebutnya 'Energi Ajaib'. Mungkin banyak diantaranya yang tak masuk akal. Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di hari esok?
Langganan:
Postingan (Atom)


- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact