Minggu, 23 Juni 2013

Mendadak Dongeng

Rindu itu masih ada, nyata; beku; dan memaku di antara kepingan kisah yang telah lalu. Semuanya masih tentangmu. Tentang seseorang yang mencipta jeda diantara detikku. Yang mampu membuatku diam dengan tutur lembut sapanya. Terlebih dengan tatap mata dan indah senyumnya.

Aku tak tahu harus menuliskan apa lagi. Entah semua sudah kutuliskan atau aku hanya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan tentangmu. Pikirku sekarang melayang akan masa tentangmu. Tentu saja setelah kamu tak lagi disini. Pernah terpikir bahwa kisahmu akan segera usai seiring jejak yang semakin menjauh. Tapi aku salah. Malah semakin banyak kisah sepanjang jejak yang kamu tinggalkan. Sekali lagi, aku takluk. Kehilangan kendali atas diriku. Telak.

Nah, setelah kubongkar lagi berkas-berkas di memoriku, akhirnya kutemukan sebuah berkas yang mengisahkan tentangmu yang meminta didongengkan. Yah, dongeng. Aku ingat, saat itu adalah lima minggu setelah kepergianmu. Dan, akhirnya permintaanmu itu tak bisa kutolak. Lagi, aku memang tak pernah bisa menolak keinginanmu. Meski terkadang tak masuk akal. Seperti ini, mengisahkan dongeng untuk anak seusiamu yang hanya berselisih setahun denganku.


Aku melakukannya. Entah apa yang mendorongku. Semuanya diluar nalarku. Logikaku tak mampu mencernanya. Aku dengan cepat mencari kisah yang cocok untuk didongengkan. Dan akhirnya kutemukan sebuah kisah dari sebuah situs penyedia dongeng. Judulnya "Buluh Perindu". Aku tak pernah mendengar atau membaca tentang itu. Aku memilihnya hanya karena ada kata 'perindu'. Karena aku memang merindukanmu saat itu.

Akhirnya, jadilah aku seorang pendongeng dadakan yang mendongeng untuk seseorang yang hampir seusia denganku. Tapi, aku menikmatinya. Asalkan bisa membuatmu tersenyum atau bahagia. Aku akan melakukannya. Tentunya selama hal itu tidak melanggar prinsip dasarku.

Aku mendapat pelajaran dari kisah itu. Terlebih aku merasa bisa lebih dekat denganmu. Kamu tahu? Itu yang membuatmu menarik. Aku selalu bisa menemukan hal-hal tak terduga dan bahkan pelajaran yang berharga darimu. Sampai saat ini kamu masih menjadi inspirasi bagiku. Meski kamu tak pernah tahu itu.

Seperti kisah-kisah yang lainnya. Biarlah kisah ini juga kusimpan untukku. Kelak, kamu bisa membacanya jika kamu mau. Dan mungkin bisa menjadi hal yang kita tertawakan bersama. Mungkin berlebihan jika aku berharap bisa mengisahkan dongeng di sampingmu kelak. Tapi, siapa yang tahu hari esok? Sampai hari ini, aku masih disini. Untukmu. Tentu saja.


0 komentar:

Posting Komentar

 
;