Rabu, 17 Juli 2013

Berakhir? [Mungkin]

Aku lelah, terkadang ingin lari dari sini, dari tempatku berpijak. Semuanya nampak gelap kulihat di langit malam. Tak ada bintang. Bahkan satu pun. Mungkin mendung menutupinya.

Hujan tak lagi datang beberapa hari terakhir. Hanya mendung yang menggantung rendah di langit siang maupun malamku. Mungkin sudah saatnya aku beranjak dari hujan yang pernah menenangkanku. Hujan yang selalu mendengarkanku. Dan hujan yang selalu membasahi jiwaku ketika kering kerontang.

Hei!! kamu. Iya, kamu. Bagaimana keadaanmu sekarang? Lama juga ya tak mendengar kabarmu. Mungkin lebih tepatnya lama tak mendengar suaramu. Aku masih rindu ternyata. Meski telah tiga bulan lebih berlalu tanpa wujud maupun suaramu. Rindu ini ternyata tak lagi begitu menyiksa. Aku bahkan merasa bahagia. Bahagia karena pernah mengenalmu.

Aku tak pernah tahu, apa kamu pernah bertanya tentang keadaanku, atau apa lah yang menyangkut diriku. Sesekali harap itu muncul, berharap kamu akan bertanya, entah pada siapa dan meski aku tak tahu. Tak ada salahnya 'kan berharap seperti itu? Lagi pula hanya sesekali. Tidak berkali-kali.


Oia, buku yang pernah kuberikan padamu masih ada 'kan? Dan surat yang ada di dalamnya? Apa masih kamu simpan? Terkadang aku tersenyum ketika mengingatnya. Aku bahkan tak habis pikir kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu. Bahkan ketika kamu menertawakannya pun tak menjadi masalah bagiku. Aku hanya ingin membuat sesuatu hal yang mungkin sudah jarang dilakukan orang lain. Semoga saja kamu masih menyimpannya. Setidaknya ada hal yang bisa kita tertawakan bersama ketika kelak kita berjumpa. Mungkin 2, 3, atau 5 tahun lagi. Atau kapan saja lah ketika Tuhan mempertemukan kita lagi.

Mungkin cerita tentangmu sudah harus kuakhiri. Dan mencoba membuat cerita yang baru. Cerita yang mungkin belum pernah terpikirkan olehku. Tapi, tak usah risau, kamu selalu menjadi bagian cerita yang indah yang pernah kutulis. Dan mungkin sesekali akan kutulis lagi cerita tentangmu. Sesekali. 

Memang berat terasa. Setelah sekian lama menulis tentangmu, dan kemudian harus berganti cerita. Tapi, aku sudah siap sekarang. Harapku, esok tak ada tanya kenapa aku melakukannya. Karena jawabannya hanya satu, kamu.

Terakhir, aku ingin berucap terima kasih padamu. Atas semua hal yang pernah kamu berikan meski tanpa pernah kamu sadari. Aku berdoa atas bahagiamu, dan semoga kamu menemukan seseorang yang kamu cari dan menjadi yang terbaik untukmu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;