Rabu, 26 Februari 2014 0 komentar

Sesederhana Itu

Terdiam. Bisu. Hening. Entah sudah berapa lama Nina hanya terdiam disamping Aldi. Terdiam tatkala ia menjumpai kenyataan dimana Aldi tiba-tiba saja mengungkapkan perasaan padanya. Berucap bahwa ia begitu yakin akan apa yang baru saja dikatakannya. Nina terdiam sambil sesekali mengambil nafas yang panjang. Nina masih seolah tak percaya akan apa yang didengarnya. Nina sudah begitu dekat dengan Aldi. Ia masih tak habis pikir kenapa Aldi mengucapkan itu.

"Nina... gimana?" kata Aldi memecah keheningan di antara mereka.
"Aldi, ini serius? kamu gak lagi becanda kan? atau mungkin kamu lagi sakit?' tanya Nina sembari mencoba mengendalikan perasaannya. Raut wajahnya tampak memerah.
"Iya... serius. Harus bagaimana lagi biar kamu percaya Nin? Aku tahu mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi, enam bulan belakangan aku sudah cukup mengenalmu. Aku yakin dengan pilihanku."
"Tapi, kenapa harus aku Al?"
"Kenapa? jika bertanya kenapa, aku tak bisa menjawabnya. Semuanya mengalir begitu saja. Aku tak pernah punya alasan tepat untuk mencintaimu. Aku tak butuh alasan untuk itu. Aku hanya tahu satu hal, aku mencintaimu. Itu saja."
"Apa sudah kamu pikirkan baik-baik, Al? Aku cuma perempuan biasa yang tak punya apa-apa. Tak ada hal yang patut dibanggakan dariku."
"Aku tak butuh apa-apa Nin, yang aku butuh hanya kamu. Kamu Nin. Sesederhana itu."

Nina kembali terdiam. Dalam hatinya, ia sebenarnya juga mencintai Aldi. Hanya saja ia masih begitu sulit mengartikan sebuah rasa. 
"Aldi, apa kamu menerima segala kekuranganku?"
"Yah, tentu saja. Ketika aku memutuskan mencintaimu, berarti aku sudah siap akan hal itu. Ini apa adanya. Aku mencintaimu apa adanya. Tak perlu ada yang diubah darimu. Aku suka dirimu seperti ini. Jadi, maukah kamu menerimaku sebagai calon suamimu?"

"Aldi, aku siap. Segera saja temui ayahku. Aku juga mencintaimu," tuturnya lembut. Sebuah jawaban yang diharapkan Aldi terucap dari bibir perempuan berkacamata itu.
0 komentar

Selamat Ulang Tahun, Dio!

Wajah Dio memerah, sangat tampak kemarahan di wajahnya. Namun ia masih menahannya. Perasaannya campur aduk. Ia masih begitu menyayangi Ditha. Di satu sisi, ego masih begitu menguasainya.
"Sudahlah, aku hanya ingin minta maaf. Aku tahu aku salah. Ini tak semestinya terjadi," kata Dio.
"Iya... tapi... ahhh, kamu memang tak pernah berubah. Masih saja seperti itu," ucap Ditha dengan suara yang bergetar. Ia menangis, tersedu. Memang sulit untuk mengerti laki-laki seperti Dio, apalagi membuatnya mengerti. Laki-laki pencemburu itu.

"Berubah? berubah seperti apa? Kemarin aku melihatmu jalan dengan Kai, temanku sendiri. Untuk apa? Kamu kemana? Apa aku tak selalu ada untukmu? Apa itu tak cukup?" kata Dio mencecarnya. Kemarahannya meledak.

"Tapi, apa harus marah-marah begini? Kenapa kamu tak bisa berubah? Sifat cemburumu itu berlebihan, aku tak ada apa-apa dengan Kai. Kupikir kamu telah mengerti tentangku. Ternyata aku salah, aku salah menganggapmu sebagai orang yang terbaik untuk mendampingiku," kata Ditha sambil terisak. Air matanya sudah tak dapat ia tahan lagi. Jatuh dan mengalir deras di pipinya. Sedang Dio masih saja membatu. Menatap jauh pada horison dan matahri yang sebentar lagi akan terbenam.

"Dit, ditha... kamu tahu aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Cemburuku karena aku hanya sangat takut kehilanganmu," kata Dio dengan nada yang mulai merendah. Ia tak pernah bisa melihat perempuan menangis. Apalagi perempuan yang sangat ia sayangi.
"Sudah, Dit... maafkan aku, aku akan berubah. Aku akan berusaha untuk tak menjadi pencemburu lagi."

"Dio, maafkan aku juga, aku kemarin tak memberi tahumu waktu aku jalan dengan Kai hanya karena ini," kata Ditha seraya menyodorkan sebuah syal berwarna biru hitam pada Dio. "Selamat ulang tahun, Dio."


Jumat, 21 Februari 2014 0 komentar

Maaf, Membuatmu Khawatir...

Pagi sudah menyapa ternyata. Masih tampak sisa hujan pada tumbuhan yang hijau itu. Hujan semalam masih menyisakan hangat sepagi ini. Entah. Aneh kan? Biasanya hujan menyisakan dingin, ini malah terasa hangat. Seperti itulah Adit menjumpai paginya setelah menunaikan subuhnya. Butiran-butiran kecil sisa hujan yang masih menempel di dedaunan di halaman rumah kontrakannya pun seketika tampak indah. Tak seperti biasanya. Tampak berkilau diterpa sinar mentari. Adit masih berdiri di teras rumahnya menghirup udara pagi yang sejuk melenakan. 

Hah... Dini, sepagi ini aku mengingatmu. Aku bahkan tak tahu kenapa. Tak pernah kutemukan alasan yang tepat untuk menjawab tanyaku. Tapi, bukankah setiap tanya itu tak selalu menemukan jawab? Mungkin karena memang jawabannya tak ada, atau mungkin belum waktunya untuk kutemukan. Dini... terima kasih untuk waktumu kemarin hingga malam tadi. Aku bahagia. Semoga hal yang sama juga kamu rasakan. Harapku. 

Rabu, 19 Februari 2014 0 komentar

Simpan Saja Jas Hujan Itu...

Adit... apa boleh aku memelukmu? Aku tahu kamu pasti kedinginan. Hujan ini kembali mengingatkanku saat kita pertama kali bertemu dulu. Apa kamu ingat? Semoga saja. Ternyata waktu bergulir tak terasa ya... 
Adit... aku ingin kamu tahu, jika aku tak akan pernah melupakan malam itu, malam dimana pertama kali kita bertemu di bawah hujan di malam pergantian tahun. Bagiku, itu akan kutulis dalam kisah tentang perjalanan hidupku. Asal kamu tahu, sekarang pun ada rasa yang berbeda kurasakan terhadapmu. Entah kenapa aku selalu ingin ada untukmu, kapan pun itu. Apa kamu merasakannya? Semoga.

Malam semakin dingin meski matahari baru saja terbenam tiga jam yang lalu. Tapi, entah kenapa ada kehangatan tak terperi yang terbawa oleh hujan. Dan seperti itulah yang dirasakan Adit dan Dini dibawah guyuran hujan yang kedua kalinya bagi mereka. Hujan yang selalu meninggalkan cerita, merekam jejak, dan mencipta kenangan.

Hujan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan usai ketika mereka hampir tiba di rumah Dini. Hujannya awet meski tanpa tanpa bahan pengawet sekalipun. Hujannya setia menumpahkan air pada mereka yang mungkin memiliki rasa yang sama. Rasa yang sangat sulit terungkap, meski bagi sebagian orang itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tapi selalu, Adit itu pengecualian. Tak selalu sama dengan kebanyakan orang. Dia unik. Mungkin juga aneh.

Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Dini. Dini kemudian turun dari motor dan bergegas membuka pagar rumahnya.

"Adit, ayo masuk dulu. Hujannya masih deras itu..." kata Dini pada Adit yang masih berada di atas motornya. Jelas Adit tampak menggigil menahan dingin. Basah kuyup oleh hujan yang ia nikmati.

"Gak usah Din, lagian ini sudah jam berapa... aku juga mau langsung balik kok"
"Masuk dulu lah, bentar aja, aku bikinin teh hangat, kamu pasti kedinginan kan?" ujar Dini membujuk.
"Masih tahan kok dengan dingin yang begini, gak enak kalo aku masuk jam segini, apa kata orang nanti".
"Hmm... baiklah, tapi ini jas hujannya gimana?" tanya Dini seraya mulai melepaskan jas hujan Adit yang ia kenakan.
"Simpan dulu lah, besok pagi saja aku ambil, lagian besok kan libur. Sekalian teh hangatnya besok pagi saja... hahaha..." jawab Adit sambil tertawa.
"Serius gak mau pake jas hujan?" tanya Dini memastikan.
"Iya, lagian ini kan juga sudah basah."
"Okelah, hati-hati di jalan... jangan lupa kabarin kalo sudah nyampe rumah."
"Oke, siap bos..." kata Adit sambil tersenyum. "Ya sudah, aku balik dulu yah..." kata Adit dan kemudian berlalu pergi di tengah hujan yang masih setia menemaninya.

*****



Kamis, 06 Februari 2014 0 komentar

Hujan Kedua

Tanpa mereka sadari, perlahan bintang-bintang mulai tak tampak di langit malam. Awan mendung menutupinya. Ya, meski malam awan kelabu akan tetap tampak seolah mengirim pesan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Menumpahkan air yang sudah lama tersimpan dalam balutannya. Membasahi bumi yang entah sudah keberapa kalinya. Benar saja, gerimis. Perlahan titik-titik kecil air pun mulai turun sebagai permulaan hujan yang sepertinya akan menderas.

"Dit... hujan...", kata Dini memecah diam yang sedari tadi menemani mereka.
"Iya... semoga gak deras ya Din, kamu pegangan ya..." kata Adit yang mulai menambah kecepatan motornya.
"Hati-hati ya Dit..."

Hujan seolah tahu, kapan harus membuat mereka berhenti. Mungkin memberi kesempatan pada mereka untuk mengatakan apa yang ada dalam hati mereka masing-masing yang sedari tadi tertahan. Beberapa menit kemudian rintik hujan yang tadinya kecil perlahan menjadi butiran-butiran yang lebih besar. Menderas.

"Dini, hujannya tambah deras ini, kita berteduh saja dulu ya...". Adit pun kemudian mencari tempat yang bisa mereka singgahi agar tak kehujanan. Mereka pun akhirnya berhenti di sebuah bengkel yang sudah tutup yang bisa mereka singgahi untuk berteduh. Hujan pun semakin deras, tak tanggung-tanggung. Udara pun semakin dingin menusuk. Dan entah kenapa mereka lagi-lagi terjebak dalam diam yang menambah dingin suasana. Meski sesekali mereka saling melirik satu sama lain dan kemudian tersenyum, atau terkadang mereka saling menertawai. Entah apa arti tawa itu.
 
;