Pagi sudah menyapa ternyata. Masih tampak sisa hujan pada tumbuhan yang hijau itu. Hujan semalam masih menyisakan hangat sepagi ini. Entah. Aneh kan? Biasanya hujan menyisakan dingin, ini malah terasa hangat. Seperti itulah Adit menjumpai paginya setelah menunaikan subuhnya. Butiran-butiran kecil sisa hujan yang masih menempel di dedaunan di halaman rumah kontrakannya pun seketika tampak indah. Tak seperti biasanya. Tampak berkilau diterpa sinar mentari. Adit masih berdiri di teras rumahnya menghirup udara pagi yang sejuk melenakan.
Hah... Dini, sepagi ini aku mengingatmu. Aku bahkan tak tahu kenapa. Tak pernah kutemukan alasan yang tepat untuk menjawab tanyaku. Tapi, bukankah setiap tanya itu tak selalu menemukan jawab? Mungkin karena memang jawabannya tak ada, atau mungkin belum waktunya untuk kutemukan. Dini... terima kasih untuk waktumu kemarin hingga malam tadi. Aku bahagia. Semoga hal yang sama juga kamu rasakan. Harapku.
Adit masih saja tersenyum sendiri. Mungkin masih seolah tak percaya dengan apa yang terjadi kemarin. Mungkin akal sehatnya masih menolak. Logikanya tak mampu mencerna apa yang telah terjadi. Ya, ia menghabiskan waktu kemarin sampai malam hari bersama Dini, perempuan yang telah mengakuisisi satu tempat di hatinya. Mungkin juga seluruhnya. Tambah lagi hujan yang melengkapinya.
"Adiiiit... ada telpon tuh", terdengar suara memanggil dari dalam rumah.
"Siapa Yan?", tanya Adit. Ryan adalah teman kuliah Adit di kampus yang tinggal bersamanya di kontrakan itu.
"Dini...", jawab Ryan singkat.
Dini? kenapa menelpon sepagi ini? ada apa?
"Iya..., I'm coming"
"Halo... pagi Din..."
"Eh, kamu baik-baik saja kan Dit? kamu gak sakit kan? " tanya Dini dengan pertanyaan ganda. Nampak jelas kecemasan dari balik suaranya.
"Iya, baik kok, sehat... memangnya kenapa Andini?" jawab Adit dengan setengah tertawa.
"Kamu dimana Dit?", tanya Dini lagi tanpa menjawab pertanyaan Adit.
"Di rumah, memangnya ada apa sih Din?"
"Semalam kenapa gak ngabarin aku waktu nyampe rumah? aku pikir kamu kenapa-kenapa, soalnya kan pulangnya hujan-hujanan semalam."
"Oh.. itu, anu... mm.. hape lobet, trus di cas... dan ketiduran, dan paling utama itu... kelupaan Din.. maaf ya..."
"Ohh... kirain kamu kenapa-kenapa di jalan. Oh, iya pagi ini jadi ke rumah ngambil jas hujannya?" tanya Dini lagi.
"Iya, skalian mau cobain teh hangat buatanmu... hahaha...", jawab Adit seraya tertawa.
"Jam berapa?"
"Yah,, jam 9-an atau jam 10-an lah, ntar aku kabari lagi kalo udah mau berangkat kesana. Oke?"
"Oke sip... haha..." jawab Dini. "Oh iya, tapi tadi subuhnya gak ketinggalan kan?"
"Gak kok... tenang saja. Oia, Dini... mmm.. anu.. itu...". Nampaknya kebiasaan aneh Adit muncul lagi dengan bicara yang tak jelas.
"Kenapa Dit?"
"Ah, gak jadi, sudah... mandi sana... hahaha... "
"Huu.. gak jelas... ya sudah sampai ketemu bentar ya... see you..."
titt..titt..tiiit...
"Dini aku sayang sama kamu." kata Adit sesaat setelah Dini menutup teleponnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar