Derai lembut angin berteman hujan menerpa wajahku. Tersenyum aku merasanya. Aku merasakan hadirmu di hujan yang mulai kembali saat senja kembali menyapaku. Hingga senja berlalu, hujan tetap setia menemaniku. Ia sepertinya paham akan kerinduanku. Pada hujan dan tentunya padamu.
Kemarin, sengaja kutitipkan rinduku pada senja. Berharap hujan kan datang, meski lebih menyimpan harap hujan datang membawamu bersamanya. Masih dengan hujan, aku bercerita tentangmu yang belakangan sepertinya berubah atau mungkin itu hanyalah prasangkaku. Tak ada kabarmu beberapa hari terakhir. Sampai ketika hujan tadi sedikit mereda. Apa yang kuharap, akhirnya benar terjadi. Kamu datang bersama hujan. Meski bukan dalam wujud. Tapi, itulah yang meyakinkanku bahwa ternyata kamu masih disana. Berdiam dengan tenang dalam hatiku. Tak terusik.
Senja kembali hadir menyapaku di penghujung hari ini. Di hari ketiga terakhir bulan Maret. Masih saja menyiratkan kerinduan. Aku bertanya padanya, "Kapan hujan datang lagi?". Ia menggeleng, tak tahu kapan hujan akan datang lagi. Kulihat ia menyiratkan kerinduan yang sangat dalam. Pun denganku.
Aku merindukan hujan. Sudah lama ia tak menyapa, dengan derasnya yang mampu meluruhkan gelisah maupun dengan lembut rintik gerimisnya yang menenangkan. Denganmu pun begitu. Tak kalah kurindukan. Beberapa hari tanpamu seperti melengkapi hariku yang tanpa hujan. Menyiksa. Menyisakan hati yang kering kerontang. Kapan kau membasahinya? Menghapus semua dahaga yang entah bagaimana menggambarkannya.
Sepertinya aku harus bersiap, menjalani hari tanpamu. Mungkin hanya hujan yang nantinya sesekali dapat mengobati rindu ini. Kapanpun, hati ini masih untukmu.
Aku merindukan hujan. Sudah lama ia tak menyapa, dengan derasnya yang mampu meluruhkan gelisah maupun dengan lembut rintik gerimisnya yang menenangkan. Denganmu pun begitu. Tak kalah kurindukan. Beberapa hari tanpamu seperti melengkapi hariku yang tanpa hujan. Menyiksa. Menyisakan hati yang kering kerontang. Kapan kau membasahinya? Menghapus semua dahaga yang entah bagaimana menggambarkannya.
Sepertinya aku harus bersiap, menjalani hari tanpamu. Mungkin hanya hujan yang nantinya sesekali dapat mengobati rindu ini. Kapanpun, hati ini masih untukmu.
Pagi yang gila mungkin. Tapi aku suka. Aku selalu menikmatinya. Mengawali pagiku dengan bercanda denganmu meskipun hanya melalui pesan singkat. Ini waktu yang selalu indah untukku. Entah untukmu. Seperti kemarin. Tapi kamu selalu mampu memberi perbedaan di tiap harinya. Dengan candaan yang kadang tak masuk akal sekalipun. Hahaha.. sepertinya aku harus mengakui jika aku gila.
Aku suka ketika kamu pun mulai pintar berlaku amnesia. Seperti yang kadang atau lebih tepatnya mungkin sering kulakukan. Itu berarti untukku. Aku ingat ketika dua malam yang lalu kamu menanyakan padaku bahwa apakah aku merindukanmu? Ah, itu pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar. Jawabannya pasti ya. Karena aku sangat merindukanmu. Ketika kamu bertanya lagi apa aku tak sesak nafas terus merinduimu? (mungkin maksudnya nyesekk) Sejujurnya, aku memilih sesak merindukanmu ketimbang harus melupakanmu. Itu saja. Tapi aku tak mengatakannya padamu. Dan pagi ini, kamu sukses membuatku rinduku semakin menggila.
Tak banyak yang bisa kutulis tentang pagi ini, karena aku masih ingin menikmati kegilaanku. Karenamu. Semalam kutitipkan rinduku pada bulan sabit, semoga ia menyampaikannya padamu. Jika pun ia tidak menyampaikannya, pagi ini telah kukirim pesan kerinduan padamu lewat sinar hangat sang mentari. Untukmu. Semoga kamu peka dan dapat merasakannya.
Aku suka ketika kamu pun mulai pintar berlaku amnesia. Seperti yang kadang atau lebih tepatnya mungkin sering kulakukan. Itu berarti untukku. Aku ingat ketika dua malam yang lalu kamu menanyakan padaku bahwa apakah aku merindukanmu? Ah, itu pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar. Jawabannya pasti ya. Karena aku sangat merindukanmu. Ketika kamu bertanya lagi apa aku tak sesak nafas terus merinduimu? (mungkin maksudnya nyesekk) Sejujurnya, aku memilih sesak merindukanmu ketimbang harus melupakanmu. Itu saja. Tapi aku tak mengatakannya padamu. Dan pagi ini, kamu sukses membuatku rinduku semakin menggila.
Tak banyak yang bisa kutulis tentang pagi ini, karena aku masih ingin menikmati kegilaanku. Karenamu. Semalam kutitipkan rinduku pada bulan sabit, semoga ia menyampaikannya padamu. Jika pun ia tidak menyampaikannya, pagi ini telah kukirim pesan kerinduan padamu lewat sinar hangat sang mentari. Untukmu. Semoga kamu peka dan dapat merasakannya.
Unpredictable!!
Sekali lagi, kamu berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Gemetar dalam detik-detik yang seolah melambat. Membuatku kehilangan kontrol atas tubuhku sendiri beberapa jenak. Yah, sekali lagi. Aku beruntung tak mengidap penyakit jantung yang bisa saja membuatku dilarikan ke rumah sakit.
Jadi begini kronologisnya... (ciyeehh.. sok seriusan lagi... :p)
Seperti malam-malam sebelumnya aku sering mengirimkan sms-sms yang bisa dibilang tidak penting. Yah, aku pun melakukannya lagi. Sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan isi smsnya, terpenting aku bisa tahu kalau kamu baik-baik saja. Pun jika smsku tak berbalas aku tak peduli. Yah, sejujurnya aku tak pernah benar-benar peduli entah kau peduli akan hadirku atau tidak ataupun tentang keberadaanku. Ah, sudahlah...
Awalnya semua berjalan normal dan baik-baik saja seperti biasa. Aku pun berbalas sms denganmu meski isinya hal yang tak penting sama sekali atau kadang bahkan mengejek. Jujur, aku menikmati momen-momen seperti itu dan terkadang merindukannya.
Sekali lagi, kamu berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Gemetar dalam detik-detik yang seolah melambat. Membuatku kehilangan kontrol atas tubuhku sendiri beberapa jenak. Yah, sekali lagi. Aku beruntung tak mengidap penyakit jantung yang bisa saja membuatku dilarikan ke rumah sakit.
Jadi begini kronologisnya... (ciyeehh.. sok seriusan lagi... :p)
Seperti malam-malam sebelumnya aku sering mengirimkan sms-sms yang bisa dibilang tidak penting. Yah, aku pun melakukannya lagi. Sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan isi smsnya, terpenting aku bisa tahu kalau kamu baik-baik saja. Pun jika smsku tak berbalas aku tak peduli. Yah, sejujurnya aku tak pernah benar-benar peduli entah kau peduli akan hadirku atau tidak ataupun tentang keberadaanku. Ah, sudahlah...
Awalnya semua berjalan normal dan baik-baik saja seperti biasa. Aku pun berbalas sms denganmu meski isinya hal yang tak penting sama sekali atau kadang bahkan mengejek. Jujur, aku menikmati momen-momen seperti itu dan terkadang merindukannya.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact