Aku masih suka bolak balik membaca tulisanmu. Meski itu tetaplah tulisan yang sama dan telah kubaca berulang-ulang. Ya, tulisan pada selembar kertas yang kamu tujukan untukku saat kau tiba-tiba menghilang, tanpa berita. Seolah petir yang tiba-tiba saja menyambar meski tak ada hujan, badai, bahkan awan mendung sekalipun. Hari ini tepat sebulan ketika kutemukan surat itu di rumahmu dan sampai sekarang pun aku tak tahu pasti kapan kamu pergi dan dengan alasan apa. Semoga saja kamu punya alasan terbaik ketika kita masih ada kesempatan untuk bertemu di lain waktu.
Hei, kamu tahu? Ingin sekali kubalas suratmu itu, tapi tak tahu harus mengirimnya kemana, kamu pun tak meninggalkan alamat, bahkan nomor handphone-mu pun tak lagi aktif. Kamu benar-benar pergi ya? Kenapa? Apa aku telah berbuat salah? Begitu banyak pertanyaan dalam kepalaku yang kurasa tak akan menemui jawab. Apa aku menyerah terhadapmu? Kemudian membiarkan semua rasa, semua kisah menguap seiring waktu? Yah, mungkin. Mungkin tidak, lagipula ini baru sebulan 'kan? Belum terlalu lama. Atau mungkin, kamu sengaja menjebakku dalam penantian yang tak pasti? Ah, begitu banyak prasangka dalam kepalaku ini.
Sudah lama rasanya kita tak bertemu. Tapi, akhirnya waktu mempertemukan kita hari ini. Kutahu, semua rencana Tuhan. Meski entah, aku yang menemukanmu atau kamu yang menemukanku. Aku tak pernah betul-betul peduli tentang itu semua. Atau mungkin saja kita sama-sama berjalan ke arah yang sama? hingga akhirnya kita dipertemukan. Sampai malam ini, aku terkadang masih tersenyum sendiri, seolah tak percaya jika itu kamu. Inikah yang namanya takdir?
Tentang perasaanku, perlu kuutarakan? ataukah kamu sudah cukup mengerti? Aku telah menunggumu sekian lama. Ya, perasaanku ini nyata, apa adanya dan ada sejak dulu. Hanya saja ada waktu yang membuatnya tertahan hingga tak kuucap padamu. Aku mencintaimu, dan tentu saja aku merindukanmu. Aku tak akan memaksamu untuk percaya, karena aku yakin hatimu pun akan menuntunmu untuk menemukanku.
Ini seolah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Seperti harap yang kemudian terwujud dan seperti jalan yang akhirnya tiba pada ujungnya. Ya, kamu adalah ujung perjalananku. Perjalananku menemukan cinta. Mungkin terdengar melankolis bagimu. Tapi, aku tak peduli. Aku hanya ingin bersamamu. Selamanya. Dan kamu nyata untukku. Jika boleh kuminta satu hal, izinkan aku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Karena aku yakin kamulah satu-satunya yang ada dalam hatiku.
Kita terakhir bertemu dua tahun lalu. Sejak saat itu, tak pernah kudengar kabar darimu. Tapi, aku tak pernah merasa kamu begitu jauh. Semesta. Sepertinya ini konspirasi semesta yang akhirnya mempertemukan kita. Tanpa kusadari, dua tahun lalu saat kau pergi, kau bawa serta kunci hatiku. Sekarang silakan kau buka kembali. Karena hati ini memang hanya untukmu.
Malam ini, kuharap kau tidur lelap. Biar kusampaikan rindu pada malam, agar ia menyampaikannya padamu. Masuk ke mimpimu. Hingga esok, ketika mentari kembali menyinari bumi. Kau membawa cahayanya ke hatiku, menyinarinya. Dan kau telah siap untuk mendampingiku. Selamanya. Aku mencintaimu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tentang perasaanku, perlu kuutarakan? ataukah kamu sudah cukup mengerti? Aku telah menunggumu sekian lama. Ya, perasaanku ini nyata, apa adanya dan ada sejak dulu. Hanya saja ada waktu yang membuatnya tertahan hingga tak kuucap padamu. Aku mencintaimu, dan tentu saja aku merindukanmu. Aku tak akan memaksamu untuk percaya, karena aku yakin hatimu pun akan menuntunmu untuk menemukanku.
Ini seolah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Seperti harap yang kemudian terwujud dan seperti jalan yang akhirnya tiba pada ujungnya. Ya, kamu adalah ujung perjalananku. Perjalananku menemukan cinta. Mungkin terdengar melankolis bagimu. Tapi, aku tak peduli. Aku hanya ingin bersamamu. Selamanya. Dan kamu nyata untukku. Jika boleh kuminta satu hal, izinkan aku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Karena aku yakin kamulah satu-satunya yang ada dalam hatiku.
Kita terakhir bertemu dua tahun lalu. Sejak saat itu, tak pernah kudengar kabar darimu. Tapi, aku tak pernah merasa kamu begitu jauh. Semesta. Sepertinya ini konspirasi semesta yang akhirnya mempertemukan kita. Tanpa kusadari, dua tahun lalu saat kau pergi, kau bawa serta kunci hatiku. Sekarang silakan kau buka kembali. Karena hati ini memang hanya untukmu.
Malam ini, kuharap kau tidur lelap. Biar kusampaikan rindu pada malam, agar ia menyampaikannya padamu. Masuk ke mimpimu. Hingga esok, ketika mentari kembali menyinari bumi. Kau membawa cahayanya ke hatiku, menyinarinya. Dan kau telah siap untuk mendampingiku. Selamanya. Aku mencintaimu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact