Hei, kamu tahu? Ingin sekali kubalas suratmu itu, tapi tak tahu harus mengirimnya kemana, kamu pun tak meninggalkan alamat, bahkan nomor handphone-mu pun tak lagi aktif. Kamu benar-benar pergi ya? Kenapa? Apa aku telah berbuat salah? Begitu banyak pertanyaan dalam kepalaku yang kurasa tak akan menemui jawab. Apa aku menyerah terhadapmu? Kemudian membiarkan semua rasa, semua kisah menguap seiring waktu? Yah, mungkin. Mungkin tidak, lagipula ini baru sebulan 'kan? Belum terlalu lama. Atau mungkin, kamu sengaja menjebakku dalam penantian yang tak pasti? Ah, begitu banyak prasangka dalam kepalaku ini.
Masih banyak kertas yang berhamburan di kamarku. Semua kertas yang berisi tentang balasan suratmu, namun selalu kuremas kemudian kulemparkan ketika aku kembali tersadar bahwa aku tak bisa menyampaikannya padamu. Pikiran bodohku terkadang mengajakku untuk menitipkannya pada angin. Hahaha... bahkan kurasa angin pun tak tahu keberadaanmu. Kapan kita bertemu lagi? Kemudian kulemparkan kertas terakhirku beserta pulpen ke arah pintu. Lalu tertunduk lesu di mejaku. Aku merindukanmu. Sangat.
"Dit, ada apa? Kudengar tadi ada sesuatu yang jatuh," tiba-tiba Ryan membuka pintu kamar Adit. "Kamu gak apa-apa 'kan Dit?"
"Ah, gak apa-apa kok, cuma lagi pusing aja," jawab Adit setengah kaget melihat Ryan yang tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya.
"Yakin gak ada apa-apa? Kalo ada masalah, cerita aja."
"Iya, gak ada apa-apa kok."
"Ya sudah kalo belum mau cerita, tapi nanti kalo mau cerita, telingaku siap kok untuk nampung..." jawab Ryan sambil cengengesan dan kemudian menutup pintu kamar Adit.
Adit kembali tertunduk di mejanya setelah Ryan berlalu. Ia masih saja memikirkan Dini, perempuan berkacamata itu yang entah kemana perginya dan entah dimana dia sekarang. Baru sebulan, tentu saja semua kenangan tentang Dini masih begitu lekat di pikirannya. Meskipun tak ada yang tahu sejauh mana Adit mampu bertahan dengan keadaan seperti itu. Sepertinya, Adit pun tak tahu.
*****

0 komentar:
Posting Komentar