Rindu itu masih ada, nyata; beku; dan memaku di antara kepingan kisah yang telah lalu. Semuanya masih tentangmu. Tentang seseorang yang mencipta jeda diantara detikku. Yang mampu membuatku diam dengan tutur lembut sapanya. Terlebih dengan tatap mata dan indah senyumnya.
Aku tak tahu harus menuliskan apa lagi. Entah semua sudah kutuliskan atau aku hanya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan tentangmu. Pikirku sekarang melayang akan masa tentangmu. Tentu saja setelah kamu tak lagi disini. Pernah terpikir bahwa kisahmu akan segera usai seiring jejak yang semakin menjauh. Tapi aku salah. Malah semakin banyak kisah sepanjang jejak yang kamu tinggalkan. Sekali lagi, aku takluk. Kehilangan kendali atas diriku. Telak.
Nah, setelah kubongkar lagi berkas-berkas di memoriku, akhirnya kutemukan sebuah berkas yang mengisahkan tentangmu yang meminta didongengkan. Yah, dongeng. Aku ingat, saat itu adalah lima minggu setelah kepergianmu. Dan, akhirnya permintaanmu itu tak bisa kutolak. Lagi, aku memang tak pernah bisa menolak keinginanmu. Meski terkadang tak masuk akal. Seperti ini, mengisahkan dongeng untuk anak seusiamu yang hanya berselisih setahun denganku.

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact