Minggu, 23 Juni 2013 0 komentar

Mendadak Dongeng

Rindu itu masih ada, nyata; beku; dan memaku di antara kepingan kisah yang telah lalu. Semuanya masih tentangmu. Tentang seseorang yang mencipta jeda diantara detikku. Yang mampu membuatku diam dengan tutur lembut sapanya. Terlebih dengan tatap mata dan indah senyumnya.

Aku tak tahu harus menuliskan apa lagi. Entah semua sudah kutuliskan atau aku hanya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan tentangmu. Pikirku sekarang melayang akan masa tentangmu. Tentu saja setelah kamu tak lagi disini. Pernah terpikir bahwa kisahmu akan segera usai seiring jejak yang semakin menjauh. Tapi aku salah. Malah semakin banyak kisah sepanjang jejak yang kamu tinggalkan. Sekali lagi, aku takluk. Kehilangan kendali atas diriku. Telak.

Nah, setelah kubongkar lagi berkas-berkas di memoriku, akhirnya kutemukan sebuah berkas yang mengisahkan tentangmu yang meminta didongengkan. Yah, dongeng. Aku ingat, saat itu adalah lima minggu setelah kepergianmu. Dan, akhirnya permintaanmu itu tak bisa kutolak. Lagi, aku memang tak pernah bisa menolak keinginanmu. Meski terkadang tak masuk akal. Seperti ini, mengisahkan dongeng untuk anak seusiamu yang hanya berselisih setahun denganku.
Jumat, 14 Juni 2013 0 komentar

Dua Bulan Sejak Kepergianmu

Aku tak pernah berpikir akan tiba pada hari ini. Ya, dua bulan sejak kamu pergi. Dan ternyata aku belum juga bisa melupakanmu. Aku pikir tak butuh waktu hingga dua bulan untuk melupakanmu. Tapi ternyata aku salah. Sampai hari ini usahaku untuk melupakanmu masih saja tak menuai hasil. Entah kapan berujung. Sampai hari ini, ternyata masih kamu yang duduk manis dipikiranku, dan masih jadi yang terpenting dalam hatiku. Mungkin bagimu ini terdengar berlebihan, tapi memang beginilah adanya. Seandainya kamu ada disampingku saat ini, pasti kamu bisa menebak apa yang akan kulakukan. Ya, aku akan bercerita banyak tentang hujan, rindu dan kenangan dalam diamku. Karena semua itu tak bisa terucap mudah dari lidahku.

Dua bulan seharusnya waktu yang lebih dari cukup untuk melepaskan rasaku. Perasaan terhadapmu yang sebenarnya tak pernah punya hubungan apa-apa denganku. Tapi, sekali lagi aku salah, aku kalah. Sosokmu masih saja berdiam dengan manisnya di pikiranku. Pun dalam hatiku. Mungkin karena sampai hari ini, belum pernah kulihat senyum yang mampu membuatku terdiam dalam detik yang mempunyai jeda. Belum pernah kudengar suara yang bisa membuatku duduk diam dan mendengarnya berceloteh tentang apapun yang seketika menjadi menarik. Ah, aku bodoh.
0 komentar

Kamu, siapa?

Situs jejaring sosial ini sepertinya sudah adiktif bagiku. Ya, apalagi kalau bukan facebook. Yang artinya muka buku atau buku muka jika dipenggal menjadi dua kata. Tapi, aku yakin jika pendirinya tidaklah bermaksud demikian. Entah apa maksudnya. Tapi sungguh, aku tak pernah benar-benar peduli. Setidaknya sampai hari ini.

Siang tadi aku melanjutkan lagi aktifitasku di situs itu. Memang aku menggunakannya untuk mengetahui perkembangan keadaan sekitarku, karena banyak sekali info yang bertebaran disana meski perlu dipastikan juga kebenaran dari info atau berita tersebut. Selain juga untuk main game online tentunya. Tapi, itu cuma sambilan sebagai pengusir jenuh.

Tentu saja, setiap harinya ada yang menarik perhatianku. Sama seperti hari ini, ketika ku-refresh 'beranda' FB-ku aku tak sengaja melihat fotomu. Sepertinya masih asing, tapi sepertinya juga tidak. Ya, kamu telah mendapatkan perhatianku, untuk sementara waktu tentunya. Karena aku belumlah mengenalmu. Akhirnya otak ini provokatif untuk membuka profilmu. Dan akhirnya tanganku pun mengikutinya untuk menyorot namamu dan kemudian klik. Profilmu pun terbuka.
Minggu, 09 Juni 2013 2 komentar

Sampai Purnama ke-13

Aku tak tahu ada angin apa yang berhembus padamu hingga kemudian sore tadi tiba-tiba saja aku menerima pesan singkat darimu. Yah, sepuluh hari setelah kita berbalas sms. Waktu yang kurasa cukup lama. Dan lagi, ini adalah yang kedua kalinya kamu memulai momen itu. Apa mungkin kamu merindukanku? Ah, kurasa tidak. Tapi, kenapa? Apa mungkin kamu tak terbiasa tanpa ada pesan singkat dariku meski hanya sebatas guyonan? Maaf, bukannya aku tak merindukanmu. Tapi aku hanya berusaha membiasakan diri tanpamu. Itu pun setelah hampir tiga bulan berlalu sejak kepergianmu dari sini.

Entah apa hubungannya dengan hujan. Selalu, dan masih saja. Sore tadi pun hujan seketika menderas. Sepertinya hujan pun tahu jika aku merindukanmu. Hanya saja aku mungkin terjebak dalam ego yang membuatku harus bertahan tanpa menyapamu lebih dulu. Asal kamu tahu aku sangat merindukanmu.
Minggu, 02 Juni 2013 0 komentar

"Fik, Maaf..."

"Serius?" tanyaku memastikan.

"Iya, boleh kan?"

"Tapi kan kamu tau kalo aku sukanya sama Nadia. Lagipula kamu juga sudah punya pacar" memastikan dengan degup jantung yang semakin tak berirama.

"Iya... tapi sepertinya aku jatuh cinta padamu" katamu mencoba meyakinkanku.

"Sepertinya? Fik... ini bicara masalah hati, aku gak bisa serta merta melepasnya dari hatiku. Aku sudah cukup lama mencintainya, meski aku tak punya hubungan apapun dengannya".

"Iya... aku ngerti, aku paham kok. Tapi, kasih aku kesempatan buat gantiin dia di hatimu. Boleh?"

Kutatap sorot matanya. Nampak ketulusan. Dilema. Di satu sisi aku mencintai seseorang sudah cukup lama. Di sisi yang lain dia kemudian hadir mencoba memasuki ruang hatiku yang sudah penuh, bahkan sesak.

Entah kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini. Sepertinya ini ujian akan rasa cintaku yang mungkin semu pada Nadia. Tapi, jika pun semu, kenapa rasa itu bisa bertahan sampai 2 tahun lebih? Lagian, aku kenal dengan Fika baru setahun. Ingin rasanya memutar waktu untuk menghindari hal ini. Tapi, mustahil.

Ah, mungkin saja Fika hanya ingin mengujiku. Aku masih belum bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Kenapa harus aku? Tak ada apapun yang pantas dibanggakan dariku. Secara fisik pun masih banyak laki-laki lain yang lebih pantas untuknya.
 
;