Jumat, 14 Juni 2013

Kamu, siapa?

Situs jejaring sosial ini sepertinya sudah adiktif bagiku. Ya, apalagi kalau bukan facebook. Yang artinya muka buku atau buku muka jika dipenggal menjadi dua kata. Tapi, aku yakin jika pendirinya tidaklah bermaksud demikian. Entah apa maksudnya. Tapi sungguh, aku tak pernah benar-benar peduli. Setidaknya sampai hari ini.

Siang tadi aku melanjutkan lagi aktifitasku di situs itu. Memang aku menggunakannya untuk mengetahui perkembangan keadaan sekitarku, karena banyak sekali info yang bertebaran disana meski perlu dipastikan juga kebenaran dari info atau berita tersebut. Selain juga untuk main game online tentunya. Tapi, itu cuma sambilan sebagai pengusir jenuh.

Tentu saja, setiap harinya ada yang menarik perhatianku. Sama seperti hari ini, ketika ku-refresh 'beranda' FB-ku aku tak sengaja melihat fotomu. Sepertinya masih asing, tapi sepertinya juga tidak. Ya, kamu telah mendapatkan perhatianku, untuk sementara waktu tentunya. Karena aku belumlah mengenalmu. Akhirnya otak ini provokatif untuk membuka profilmu. Dan akhirnya tanganku pun mengikutinya untuk menyorot namamu dan kemudian klik. Profilmu pun terbuka.


Sejenak, aku stalking di profilmu. Maaf jika kemudian itu tak patut. Bahkan aku baru kali ini melakukannya. Tapi, bukankah memang itu kegunaannya? Jika memang bukan untuk konsumsi publik, kenapa di publihs? Sepertinya ketertarikanku akanmu semakin nyata. Aku tertarik untuk mengenalmu lebih jauh. Ah, tombol 'add friend' itu pun semakin menggodaku. Dan akhirnya, aku tak melakukannya. Kubiarkan saja tombol itu tetap disana tanpa kusentuh.

Aku tahu, fotomu itu nyata dan apa adanya. Tanpa efek photoshop untuk mengindahkannya. Aku ingin mengenalmu, betul, tapi di dunia nyata. Bukan di dunia maya yang sering dihiasi kebohongan. Tapi entah kapan aku bisa mengenalmu. Mungkin juga tak akan pernah. Atau mungkin kucukupkan saja sampai disini? tak perlu mengenalmu lebih jauh lagi. Cukuplah aku kagum padamu.

Tapi, kamu siapa? Bahkan namamu pun baru kali ini kubaca, bukan kudengar. Karena memang indera pendengaranku tak pernah menangkap kata yang mengucap namamu. Entahlah. Apa mungkin aku bisa bertemu dan mengenalmu? Semoga.    

0 komentar:

Posting Komentar

 
;