"Serius?" tanyaku memastikan.
"Iya, boleh kan?"
"Tapi kan kamu tau kalo aku sukanya sama Nadia. Lagipula kamu juga sudah punya pacar" memastikan dengan degup jantung yang semakin tak berirama.
"Iya... tapi sepertinya aku jatuh cinta padamu" katamu mencoba meyakinkanku.
"Sepertinya? Fik... ini bicara masalah hati, aku gak bisa serta merta melepasnya dari hatiku. Aku sudah cukup lama mencintainya, meski aku tak punya hubungan apapun dengannya".
"Iya... aku ngerti, aku paham kok. Tapi, kasih aku kesempatan buat gantiin dia di hatimu. Boleh?"
Kutatap sorot matanya. Nampak ketulusan. Dilema. Di satu sisi aku mencintai seseorang sudah cukup lama. Di sisi yang lain dia kemudian hadir mencoba memasuki ruang hatiku yang sudah penuh, bahkan sesak.
Entah kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini. Sepertinya ini ujian akan rasa cintaku yang mungkin semu pada Nadia. Tapi, jika pun semu, kenapa rasa itu bisa bertahan sampai 2 tahun lebih? Lagian, aku kenal dengan Fika baru setahun. Ingin rasanya memutar waktu untuk menghindari hal ini. Tapi, mustahil.
Ah, mungkin saja Fika hanya ingin mengujiku. Aku masih belum bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Kenapa harus aku? Tak ada apapun yang pantas dibanggakan dariku. Secara fisik pun masih banyak laki-laki lain yang lebih pantas untuknya.
"Fik, sebenarnya aku tak tahu harus bilang apa, mungkin ini terlalu cepat. Aku tak bisa mengaku cinta padamu. Karena, sampai detik ini cuma Nadia yang ada dihati dan pikiranku".
"Tak apa Dio, aku tak memintamu untuk memalingkan cintamu padaku, aku hanya minta diberi kesempatan, tak lebih".
"Trus? Bagaimana dengan pacarmu?"
"Aku akan memutuskannya. Karena aku telah memilihmu", jawab Fika meyakinkanku.
"Baik, kamu mendapatkan kesempatan itu. Tapi, aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Kamu hanya meminta kesempatan". Sambil menyodorkan kelingkingku padanya yang kemudian disambutnya dengan senyum bahagia. Dan selanjutnya, aku dan Fika pun menjalani hari sebagai pasangan yang baru. Hanya kami yang tahu.
Sebulan berlalu. Layaknya muda-mudi yang dilanda asmara sesat, perhatiannya padaku cukup, bahkan lebih dari yang kuharapkan. Aku pun mulai berpikir untuk mencintainya. Tapi, Nadia masih saja menetap di hatiku. Tak ingin beranjak meski sejenak. Apalagi berpindah, tak akan pernah meski hanya sejengkal.
Memasuki bulan kedua, aku dan Fika sudah jarang bertemu muka. Kesibukanku dan aktivitasnya yang juga padat membuat waktu enggan memihak kami. Tapi komunikasi antara kami tetap lancar. Dan semuanya masih berjalan baik-baik saja. Begitu pun dengan Nadia, komunikasiku dengannya pun lancar meski kami tak punya hubungan apa-apa.
Kesibukanku akhirnya mengharuskan aku keluar daerah selama 2 bulan. Sehingga selama di daerah aku tak pernah lagi bertemu dengan Fika, begitu pun Nadia. Sepertinya aku punya waktu yang tepat untuk memikirkan kepada siapa hati ini kutambatkan. Aku tak ingin terus terjebak dalam dua hati. Fika yang dengan tulus mencintaiku atau Nadia yang telah lama mengisi hatiku, meski tak kutahu apakah Nadia punya perasaan yang sama terhadapku.
Sebulan di daerah akhirnya membuatku yakin dengan keputusan yang akan kuambil tentang hubunganku dengan Fika. Kebetulan, aku mendapatan izin untuk balik ke kota. Dan segera setelah tiba, aku pun menemui Fika. Tapi sebelumnya kuhubungi lewat telepon. Fika seolah tak percaya jika aku datang. Ia nampak sangat bahagia melihat kehadiranku. Dan aku pun tersenyum melihatnya. Sore itu, aku bercerita dengannya tentang kegiatanku selama di daerah dan kemudian mengantarnya pulang saat senja akhirnya menghampiri kami. Hari itu, aku meminta waktunya untuk menemaniku ke suatu tempat esok pagi. Dan ia pun mengiyakannya.
Keesokan paginya, aku pun menjemputnya di rumahnya. Kemudian kami berdua pergi ke suatu tempat yang pernah kami datangi. Di tempat itu dulu kami menikmati matahari yang terbenam di horison dan melihat purnama yang memerah. Dia ingat. Dan dia pun sangat bahagia.
"Fik, ada yang mau aku bicarakan denganmu" kataku membuka percakapan.
"Ya... apa? kamu tahu tidak, aku itu bahagia sekali kamu ada disini" jawabnya sambil tersenyum. Dan aku pun begitu.
"Sebentar siang aku harus balik lagi ke daerah. Jadi, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu".
"Kenapa cepat sekali baliknya? Ada hal penting apa yang mesti aku tahu?"
"Gini Fik... aku sebenarnya cuma mau bilang... kalau hubungan kita cukup sampai disini saja ya Fik..."
"Kenapa Dio?"
"Maaf, Fik. Aku tak bisa lagi lanjut karena yang ada dihati dan pikiranku selama ini ternyata cuma Nadia. Bukan kamu Fika. Aku tak mau terus seperti ini. Aku tak ingin menyakitimu terlalu lama. Karena ini juga menyiksaku. Maafkan aku Fika".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar