Sabtu, 31 Mei 2014 2 komentar

Jeda

Laki-laki itu berjalan pelan, menyusuri jalan beraspal sembari tertunduk. Sesekali nampak senyum getir di wajahnya. Sesekali menggeleng seolah tak percaya. Tak ia pedulikan kendaraan yang berlalu satu persatu di sampingnya. Pun dengan rintik hujan yang perlahan turun, ia tak peduli. Mendung pun sepertinya tak cukup mampu menerjemahkan apa yang ia rasakan.

Beberapa jam yang lalu ia berniat menemui seseorang. Seorang perempuan yang sudah lama dekat dengannya. Sudah seminggu lebih tak ada kabar darinya. Banyak pesan singkat yang tak terbalas, bernasib sama dengan banyaknya panggilan yang tak pernah menemui jawab. Ia hendak memastikan apakah perempuan itu baik-baik saja. Ia begitu bersemangat, ia begitu bahagia. Sembari menjaga harap akan menemui senyum manis perempuan itu. Ya, masih perempuan yang sama. Perempuan berkacamata itu.
Selasa, 27 Mei 2014 0 komentar

Kapan Kita Sepakat?

Bahkan aku tak sadar, dan aku tak pernah tahu sejak kapan jatuh cinta padamu. Perkenalan kita berlangsung cepat. Tiga bulan lalu. Tak ada uluran tangan, hanya senyum yang terurai. Pertemuan tanpa sengaja dan kita tak pernah bertemu sebelumnya. Tahukah apa yang dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta? Ya, ia tak pernah bisa memilih diksi yang tepat untuk mengungkap perasaannya. Hanya berdiam dengan puluhan, bahkan mungkin ratusan balon kata seperti yang ada dalam komik. Ingin memecah balonnya agar semua kata terburai, berhambur, tapi takut menjadikan suasana menjadi lebih diam. Lebih dingin. Menyisihkan dingin yang diantarkan oleh hujan yang menderas di tengah malam.

Padahal itu hanya sejumput ragu dalam benakku. Tapi lebih memilih berdiam dan berlaku seolah tak ada apa-apa. Menikmati setiap percakapan dengan balon kataku. Bermonolog dalam diam. Seolah-olah. 

Kamu tak pernah tahu, setiap kali di sampingmu aku lebih sibuk menata detak jantungku daripada memikirkan apa yang harus kuucap padamu. Lucu, mungkin. Tapi, masih dalam batas kewajaran daripada harus memilih menjadi gila. Menjadi gila atas hal-hal yang tak perlu kupahami. Hanya merasa.

Aku hanya tahu satu hal, merapal doa pada Tuhanku. Meyakinkan diri atas cinta yang hanya kumiliki. Sembari menikmati rekaman suaramu yang berisik di kepalaku sejak tadi. Hei, kapan kita bersepakat? Maksudku, kapan hati kita akan sepakat? 

Kamu. Berkacamata. Rambut terurai hingga di bawah bahu. Berwajah oriental. Sosok imajinatif. Huhh!!

Rabu, 21 Mei 2014 0 komentar

Mengenalmu...

Mengenalmu adalah anugrah tak ternilai yang pernah diberikan oleh Tuhan untukku. Dulu. Banyak waktu yang kita habiskan bersama, bercerita tentang apa saja. Membuatku merasa sangat nyaman di sampingmu. Apalagi kau bilang bahwa kau bahagia bersamaku. Sampai aku benar merasa bahwa kamu adalah pilihan yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku benar merasa bahwa kamu yang terbaik untukku.

Setelah banyak waktu yang kita lewati, kamu mampu membuatku percaya bahwa aku jatuh cinta padamu. Dan dengan lugunya, aku percaya itu semua. Sampai aku kemudian merasakan sepi yang mencekat ketika bersamamu. Banyak hal yang berubah, entah apa itu. Aku tak pernah tahu. Kamu pun tak pernah bicara. Kita mulai terbiasa diam, tak banyak lagi cerita. Sakit memang, kurasa bukan cinta namanya jika tak pernah merasakan sakit. Dan aku sakit, karena ternyata aku cinta.

Kita mulai berjalan sendiri-sendiri. Ketika kamu memutuskan hubungan kita. Hubungan? Ah, apa memang kita pernah punya hubungan? Mungkin tidak. Karena kurasa hanya aku yang memiliki cinta untukmu. Dan tidak sebaliknya. Harusnya dari awal aku sadar bahwa konsekuensi dari sebuah pertemuan tentu saja perpisahan. Perpisahan yang bisa mencipta rasa sakit. Ah, aku bahkan mulai akrab dengan rasa sakit itu sendiri.

Hati kecilku merasa bahagia bahwa hubungan kita pada akhirnya harus berakhir. Mungkin kita tak lagi bisa saling memahami. Mungkin kita bisa berteman saja. Yah, berteman seperti orang lain. Tapi, kenapa sikapmu begitu berubah? Ketika kita bertemu, kamu seolah tak kenal denganku atau bahkan orang yang baru pertama kali kamu temui. Tapi tetap saja kamu menjadi anugrah Tuhan yang pernah kukenal. Terima kasih telah mengajariku tentang rasa sakit.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
0 komentar

Aku Pergi

Aku pergi. Bukan, bukan untuk selamanya. Aku pergi karena ini yang terbaik untuk kita. Kurasa. Ada mimpi yang ingin kukejar dan percayalah ini juga untukmu. Kuharap tak ada tangis yang mengiringi kepergianku.

Sebuah keputusan yang telah kupikir matang-matang dan itu sudah bulat. Bukan aku tak memikirkanmu, justru ini karena aku begitu peduli padamu. Bukankah kamu juga punya mimpi yang masih ingin diraih? Kita masih sama, meski jalan yang kita tempuh berbeda. Kuharap di penghujung jalan nanti kita akan bertemu.

Percayalah, aku pergi bersama rasa yang kumiliki untukmu. Selalu. Percayalah, ada mimpi besar yang ingin kuwujudkan denganmu nanti. Karena aku yakin kamu yang terbaik meski jarak menjadi sesuatu yang tak bisa dielakkan. 

Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Banyak hal yang telah memupuk keyakinanku bahwa kamulah yang terbaik. Semua yang telah kamu lakukan untukku tak pernah bisa tergantikan oleh orang lain. Maka, untuk apa aku berpaling? Hei.., jangan lupa berdoa, agar Tuhan mempertemukan kita nanti.

Sejauh apapun jarak yang memisahkan kita nanti, aku yakin bahwa hati kita akan selalu dekat. Karena aku bukan hanya memiliki dirimu, tapi juga hatimu. Begitu pun sebaliknya. Tak perlu ada ikrar yang terucap. Karena semuanya hanya butuh satu kata. Percaya.

Sampai jumpa. Aku pergi bersama rasa untukmu yang telah dititipkan Tuhan padaku. Percayalah, aku selalu dan akan selalu menjadi milikmu.       


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Minggu, 11 Mei 2014 0 komentar

Kapan Kita Bertemu [lagi]?

Tanpa sengaja, kulihat sepasang mata yang sangat mirip dengan matamu. Caranya menatap, begitu teduh. Sepertimu. Dulu. Tapi tentu saja berbeda, dia mengenakan hijab ke seluruh tubuhnya. Aku takut menatapnya terlalu lama, lagipula aku tak tahu namanya siapa. Dan sepertinya lebih baik begitu.

Bukan, sama sekali aku tak ingin menggali lagi rasa yang telah kukubur tentangmu. Hanya saja, aku terkadang rindu untuk bercerita lagi akanmu.

Hai, apa kabarmu kini? lama tak kudengar tentangmu. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kita bertukar kabar. Ingin kutulis sesuatu tentangmu, tapi aku tak pernah lagi mendengar kabarmu, bahkan keberadaanmu. Sehatkah? Baik-baik saja? atau sekarang kamu sibuk apa? Sepertinya tanya itu tak akan menemui jawab. Biarkan saja begitu. Berakhir dengan tanda tanya.
Senin, 05 Mei 2014 0 komentar

Usah Ada Tanya

Bertanyalah pada jiwa yang terkadang kering, pada jiwa yang terkadang resah, bahkan pada jiwa yang 'terkadang' menyimpan rindu. Adakah bahagia di penghujung, ataukah bahagia hanya ada di antara orang yang saling mencari kemudian saling menemukan? Seperti apa bahagia yang diartikan jiwa-jiwa seperti itu? Bahkan mungkin kata saja tak mampu menggambarkannya. Selalu begitu, cukup dirasakan. Yah, bahagia itu cukup dirasakan. Usah ada tanya.

Kemudian bertanya pada hati, arti apa yang ia cari? Apakah memang ada? ataukah hanya ilusi yang diterjemahkan oleh imaji karena keterlaluan dalam berharap. Pada hati yang kemudian bimbang, masihkah ada tanya? bahkan ia tak tahu ingin bertanya apa dan pada siapa. Selalu begitu, usah pula ada tanya.

Bertanya pada logika, bahagia seperti apa yang dicari? apakah hanya temu yang sesaat atau lebih kepada menahan rindu karena temu yang tak kunjung ada? Bahkan ia terkadang memilih menyiksa diri untuk merasakan bahagia. Ya, seperti menahan rindu agar tak terucap. Lebih memilih menikmati rindu dalam sepinya, dalam sendirinya, tanpa ada suara apapun. Kenapa? Usah ada tanya, selalu begitu.

Tanyakan lagi pada diri. Utuh. Seperti apa bahagianya? maka yang ada bukanlah alasan atas bahagianya, melainkan pembenaran-pembenaran atas apa yang dilakukannya. Karena bahagia tak pernah sesederhana yang diartikan, namun tak rumit untuk dirasakan. Kenapa? karena akan selalu begitu. Bahagia itu cukup dirasakan, oleh diri sendiri. Usah ada tanya. 

Karena bahagia itu hanya perlu dirasakan oleh hati yang menenangkan jiwa kemudian diamini oleh logika dan tampak pada diri yang merasakan. Tak perlu menafsirkannya dengan segala macam kata, cukup tersenyum dan kemudian rasakan. Usah ada tanya.
 
;