Jumat, 2 minggu kemudian...
Pagi. Arloji digital-ku menampakkan angka 09.42. suasana kantor jurusan belum terlalu menampakkan kesibukan berarti. Begitupun dengan ruangan dosen yang kutunggu sejak tadi. Belum menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Masih terkunci rapat. Kulihat beberapa teman sekelasku berada di depan ruangan itu dan bisa kutebak, pasti berususan dengan tugas akhirnya.
“Eh, ibu belum datang ya?” tanyaku
“Sudah datang kok, tapi lagi ngajar, bentar lagi juga selesai…” jawabnya.
“Ooo… Makasih ya”
Segera kumenuju ruang himpunan, buka tas dan kutarik map plastik berwarna hijau yang berisi blanko judulku. Pulpen pun tak lupa kuselipkan di saku celanaku dan sejurus kemudian aku sudah kembali ke tempat yang tadi, depan ruang tunggu dan duduk di kursi tunggu seperti nasabah bank yang menunggu nomor antriannya dipanggil oleh teller.
Beberapa jenak kemudian, akhirnya dosenku yang kutunggu sedari tadi datang juga. Senyum menghias wajahnya saat melihatku dan beberapa temanku sudah menunggu di depan ruangannya. Setelah kulihat beliau duduk di kursinya, kuberanikan melangkahkan kaki ke ruangan dingin itu untuk yang ketiga kalinya dalam sebulan ini. Masih diiringi degup jantung yang tak jelas maunya apa dan dengan ketegangan yang tak tahu darimana asalnya. Kaki kananku mendarat di ruangan itu hampir bersamaan dengan mulutku yang mengucap salam. Assalamu alaikum.
“Sebentar ya, saya mau ke kamar kecil dulu” kata dosenku saat melihatku menapakkan kaki di ruangannya.
“Oh, iya bu” jawabku segera dan secara otomatis membatalkan rencana kaki kiriku untuk menyusul kaki kananku di ruangan itu. Dan kembali ke kursi tunggu.
Beberapa menit kemudian, ia sudah kembali dari kamar kecil. Aku menunggu sejenak sebelum masuk kembali ke ruangan dingin itu. Kaki kananku kembali siap memasuki ruangan itu beriringan dengan salam yang terucap dari mulutku. Kemudian disusul oleh kaki kiriku dan aku pun berada dalam ruangan itu.
“Kenapa nak? Ada perlu apa?” tanya dosenku menyambutku di ruangan itu.
“Ini bu, mau konsultasi judul yang dulu minta diperbaiki redaksi kata-katanya bu” jawabku masih dengan ketegangan yang coba kusembunyikan.
“Ini sudah berapa kali konsultasi?”
“Ini sudah yang kedua kali bu” jawabku.
“Ooh... iya, begini saja judulnya, ini sudah bagus” katanya setelah membaca judul penelitian yang kuajukan dan dilanjutkan dengan tanda tangan di bagian bawah blanko judul penelitianku.
Yes, ACC. Alhamdulillah. Sontak keteganganku mencair saat itu dan setelah mengisi absen konsultasi, aku pun pamit meninggalkan ruangan yang dingin itu dengan rasa hangat yang mengiringiku.
Jalan terjal yang lain pun siap kudaki.

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact