Tiga belas hari telah berlalu sejak Dini memutuskan untuk pergi. Pergi dengan sebuah atau mungkin dengan beberapa alasan yang tak pernah ia sampaikan pada Adit. Hanya meninggalkan selembar surat. Ya, hanya selembar. Surat itu masih tergeletak di atas meja di kamar Adit, melihat segala hal yang terjadi pada Adit. Tapi, ia hanya sebuah surat yang tak bisa berucap sepatah kata pun. Hanya diam, sesekali bergerak ketika diterpa angin.
Ia hanya mengamati Adit. Laki-laki yang kehilangan senyum di wajahnya. Laki-laki yang tak bisa lagi menampakkan ceria dari sorot matanya. Laki-laki yang sepertinya tak dapat lagi menemukan kata bahagia. Seberapa besar arti perempuan itu untukmu? Dia hanya seorang di antara banyaknya perempuan. Apakah bahagiamu hanya berasal darinya? Ingat Tuhanmu. Bahkan perempuan itu saja percaya bahwa jika Tuhanmu berkehandak, kalian akan bertemu lagi bukan? Hei, lepaskanlah semua resahmu. Ikhlaskan dan bersabarlah, semua akan baik-baik saja. Tapi, aku hanya selembar surat yang tak pernah kau dengar.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact