29 Oktober, sehari sebelum tanggal lahirku berulang untuk yang ke-26 kalinya. Sudah tiga malam terakhir ini hujan turun di desaku. Sore ini pun gerimis kembali datang, membawa beberapa keping kenangan tentangmu, perempuan hujan yang banyak menjadi tokoh dalam tulisan-tulisanku.
Beberapa bulan terakhir aku sudah jarang menulis. Blog ini pun mungkin sudah berdebu gara-gara jarang dijenguk oleh empunya. Aku kehilangan roh tulisan, sepertinya aku kehilangan sosokmu dalam tulisanku. Tapi, sore ini kita bertukar kabar. Aku senang mendengar kabar darimu, meski aku cukup merindu juga akan senyummu. Tapi apalah daya, jarak dan waktu seolah memisahkan kita di masing-masing ujung dunia.
Bismillah…
Sayang… apa kabarmu? Semoga selalu sehat di sana. Aku tahu kita
sekarang terpisah jarak, sudah beberapa bulan kita tak berjumpa. Seringkali ada
rasa rindu yang menggebu, ada rasa sesak karena tak bertemu muka. Hanya komunikasi
lewat sms, telpon atau pun WhatsApp,
tapi… bagaimana dengan yang kamu rasakan? Apakah sama denganku? Apa benar-benar
seperti yang kurasakan? Aku tak pernah benar-benar tahu.
Sayang… aku ingin bercerita padamu. Sebenarnya beberapa hari bahkan
beberapa minggu belakangan ini aku seringkali merasa gelisah. Ada hal-hal dalam
pikiranku juga hatiku yang berontak atas apa yang kita lakukan, mungkin juga
tentang hubungan kita. Ada rasa berdosa yang terus mengikutiku atas apa yang
pernah kulakukan dan kuminta padamu. Sesal memang tak ada guna, hanya aku
berusaha memperbaiki, diriku dan tentu saja dirimu. Hubungan kita tak baik,
terlalu banyak setan yang menunggangi dan berkepentingan untuk menjerumuskan
kita berdua. Bahkan ketika kita sudah tak sering bertemu.
Sayang… aku meminta maaf atas segala hal yang pernah kulakukan dan
kuminta padamu. Meski sebagian orang mengatakan itu hal wajar, namun aku tak
mampu lagi menyimpan rasa berdosaku. Aku berharap kamu mau memaafkan salah dan
khilafku itu.
Enam bulan setelah terakhir nge-post di blog ini. Sempat berpikir untuk tak menulis lagi di sini. Sempat terpikir untuk berhenti menulis sama sekali. Bahkan tentang apapun itu. Enam bulan bukanlah waktu yang singkat untuk berhenti. Seperti harus memulai dari awal lagi untuk menulis. Seperti mulai menangkap kembali satu persatu kepingan atau mungkin juga kenangan yang sudah beterbangan.
Ya, aku kembali. Kembali untuk menulis lagi mulai hari ini. Setidaknya menulis untuk diri sendiri. Kembali melatih jari di atas keyboard, kembali memainkan imajinasi, dan mungkin kembali untuk menuliskan setiap langkah yang akan, sedang, dan telah diayunkan.
Ya, aku kembali. Kembali untuk menulis lagi mulai hari ini. Setidaknya menulis untuk diri sendiri. Kembali melatih jari di atas keyboard, kembali memainkan imajinasi, dan mungkin kembali untuk menuliskan setiap langkah yang akan, sedang, dan telah diayunkan.
Menunggu. Bagi sebagian orang mungkin hal yang tidak mengenakkan. Menjemukan. Membosankan dan entah apa lagi. Tapi, bagiku berbeda. Menunggu bisa menjadi hal yang paling kutunggu, seperti menunggu pelangi yang muncul selepas hujan.
Benar, hujan telah berlalu. Aku menunggu pelangiku. Pelangi yang kulihat dari senyummu. Warna-warni di langit mendung. Kamu mampu memberi warna-warni setelah hujan membasahiku. Tapi sayang, pelangi tak pernah bertahan lama di langit. Aku berubah pikiran. Bukan pelangi, tetapi langit. Aku lebih menunggu langit yang cerah dengan mataharinya yang memberi cahaya bagi kehidupan.
Hujan tak mungkin turun sepanjang tahun. Tetapi langit tetaplah langit, meski awan mendung menutupinya, ia tetap ada di atas sana. Ia hanya tersamarkan, tak pernah pergi. Setia menjadi atap bagi mereka yang tak beratap. Menjadi tempat bagi milyaran bintang bercengkrama. Menjadi tempat yang nyaman bagi bulan untuk menerangi gelap malam. Menjadi tempat doa-doa yang bertebaran di heningnya malam. Kemudian menjadi tempat bagi mentari untuk mengawali hari.
Aku menunggumu, seperti caraku menunggu langit yang cerah ketika hujan. Menunggu yang pasti seraya merapal doa untuk memintamu. Berapa lama aku menunggu? Seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuka pintu hatimu yang mungkin sudah lama tertutup atau mungkin sengaja kau tutup.
Aku selalu percaya pada hatiku. Hatikulah yang menuntunku untuk menujumu. Aku tak memaksa, aku juga tak tergesa-gesa. Aku mengerti mungkin masih ada seseorang dalam hatimu. Mungkin juga kau masih ragu untuk menerimaku. Tapi, itu tak pernah menjadi masalah untukku, aku akan bersabar menunggumu selama apapun itu sembari memperbaiki dan memantaskan diriku.
Percayalah pada hati kecilmu. Dengarkanlah ia sejenak. Mungkin ia akan memberitahumu tentangku. Tentangku yang akan setia menunggumu. Untuk kemudian menjadikanmu bagian hidupku.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.
Benar, hujan telah berlalu. Aku menunggu pelangiku. Pelangi yang kulihat dari senyummu. Warna-warni di langit mendung. Kamu mampu memberi warna-warni setelah hujan membasahiku. Tapi sayang, pelangi tak pernah bertahan lama di langit. Aku berubah pikiran. Bukan pelangi, tetapi langit. Aku lebih menunggu langit yang cerah dengan mataharinya yang memberi cahaya bagi kehidupan.
Hujan tak mungkin turun sepanjang tahun. Tetapi langit tetaplah langit, meski awan mendung menutupinya, ia tetap ada di atas sana. Ia hanya tersamarkan, tak pernah pergi. Setia menjadi atap bagi mereka yang tak beratap. Menjadi tempat bagi milyaran bintang bercengkrama. Menjadi tempat yang nyaman bagi bulan untuk menerangi gelap malam. Menjadi tempat doa-doa yang bertebaran di heningnya malam. Kemudian menjadi tempat bagi mentari untuk mengawali hari.
Aku menunggumu, seperti caraku menunggu langit yang cerah ketika hujan. Menunggu yang pasti seraya merapal doa untuk memintamu. Berapa lama aku menunggu? Seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuka pintu hatimu yang mungkin sudah lama tertutup atau mungkin sengaja kau tutup.
Aku selalu percaya pada hatiku. Hatikulah yang menuntunku untuk menujumu. Aku tak memaksa, aku juga tak tergesa-gesa. Aku mengerti mungkin masih ada seseorang dalam hatimu. Mungkin juga kau masih ragu untuk menerimaku. Tapi, itu tak pernah menjadi masalah untukku, aku akan bersabar menunggumu selama apapun itu sembari memperbaiki dan memantaskan diriku.
Percayalah pada hati kecilmu. Dengarkanlah ia sejenak. Mungkin ia akan memberitahumu tentangku. Tentangku yang akan setia menunggumu. Untuk kemudian menjadikanmu bagian hidupku.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.
Aku terdiam dalam waktu yang lama. Sudah hampir sejam berlalu, kita berdua hanya ada dalam kebisuan di tepi pantai ini. Tempat yang menjadi saksi kemesraan kita di waktu lalu mungkin juga saksi atas dosa-dosa yang kita lakukan. Tempat ini sangatlah indah saat tiba waktunya matahari terbenam di horison. Sekarang seolah menjadi tempat yang begitu menyiksaku. Tersiksa atas kenangan indah yang sekarang coba kuabaikan saat kau masih di sampingku. Apa benar kau ada di sampingku? Atau itu hanyalah ragamu saja? Sedang hatimu entah kemana perginya. Tak lagi kutemukan.
Lihatlah, sebentar lagi matahari akan terbenam. Aku meyakini ini adalah hari terakhir yang kusempatkan berdua denganmu di tempat ini. Tak usah ada harap akan waktuku di esok hari. Karena aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku denganmu. Tak guna lagi untuk dipertahankan, tak guna lagi diperbaiki. Piring yang pecah saja tak akan bisa kembali utuh sepenuhnya. Apalagi hati.
Tak perlu lagi memanggilku dengan kata sayang, apalagi cinta. Aku bukan kekasihmu lagi. Aku muak dengan semua kebohonganmu, dengan tipu dayamu, dengan semua kepalsuan yang kau tampakkan. Aku bersyukur, bahwa Tuhan masih menyadarkanku tentangmu yang sebenarnya sebelum aku melangkah terlalu jauh denganmu.
Tentang janjimu, usahlah kau tepati. Aku tak lagi butuh. Dulu kau berjanji ingin menikah denganku, membina rumah tangga denganku. Tapi semua itu palsu. Persetan dengan semua itu. Kau mau tahu kenapa? Karena akhirnya aku tahu kau pun mengatakan hal yang sama pada banyak kekasihmu yang lain. Ya, aku tahu semuanya. Aku tahu dari beberapa kekasihmu yang lain.
Pada akhirnya aku sadar. Hubungan kita tak akan pernah berhasil. Aku memilih bertobat atas dosa-dosa yang pernah kulakukan denganmu. Kenapa? Karena kita makhluk sesama jenis.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.
Lihatlah, sebentar lagi matahari akan terbenam. Aku meyakini ini adalah hari terakhir yang kusempatkan berdua denganmu di tempat ini. Tak usah ada harap akan waktuku di esok hari. Karena aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku denganmu. Tak guna lagi untuk dipertahankan, tak guna lagi diperbaiki. Piring yang pecah saja tak akan bisa kembali utuh sepenuhnya. Apalagi hati.
Tak perlu lagi memanggilku dengan kata sayang, apalagi cinta. Aku bukan kekasihmu lagi. Aku muak dengan semua kebohonganmu, dengan tipu dayamu, dengan semua kepalsuan yang kau tampakkan. Aku bersyukur, bahwa Tuhan masih menyadarkanku tentangmu yang sebenarnya sebelum aku melangkah terlalu jauh denganmu.
Tentang janjimu, usahlah kau tepati. Aku tak lagi butuh. Dulu kau berjanji ingin menikah denganku, membina rumah tangga denganku. Tapi semua itu palsu. Persetan dengan semua itu. Kau mau tahu kenapa? Karena akhirnya aku tahu kau pun mengatakan hal yang sama pada banyak kekasihmu yang lain. Ya, aku tahu semuanya. Aku tahu dari beberapa kekasihmu yang lain.
Pada akhirnya aku sadar. Hubungan kita tak akan pernah berhasil. Aku memilih bertobat atas dosa-dosa yang pernah kulakukan denganmu. Kenapa? Karena kita makhluk sesama jenis.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact