Bismillah…
Sayang… apa kabarmu? Semoga selalu sehat di sana. Aku tahu kita
sekarang terpisah jarak, sudah beberapa bulan kita tak berjumpa. Seringkali ada
rasa rindu yang menggebu, ada rasa sesak karena tak bertemu muka. Hanya komunikasi
lewat sms, telpon atau pun WhatsApp,
tapi… bagaimana dengan yang kamu rasakan? Apakah sama denganku? Apa benar-benar
seperti yang kurasakan? Aku tak pernah benar-benar tahu.
Sayang… aku ingin bercerita padamu. Sebenarnya beberapa hari bahkan
beberapa minggu belakangan ini aku seringkali merasa gelisah. Ada hal-hal dalam
pikiranku juga hatiku yang berontak atas apa yang kita lakukan, mungkin juga
tentang hubungan kita. Ada rasa berdosa yang terus mengikutiku atas apa yang
pernah kulakukan dan kuminta padamu. Sesal memang tak ada guna, hanya aku
berusaha memperbaiki, diriku dan tentu saja dirimu. Hubungan kita tak baik,
terlalu banyak setan yang menunggangi dan berkepentingan untuk menjerumuskan
kita berdua. Bahkan ketika kita sudah tak sering bertemu.
Sayang… aku meminta maaf atas segala hal yang pernah kulakukan dan
kuminta padamu. Meski sebagian orang mengatakan itu hal wajar, namun aku tak
mampu lagi menyimpan rasa berdosaku. Aku berharap kamu mau memaafkan salah dan
khilafku itu.
Sayang… sadarkah? Kita belumlah halal satu sama lain, bahkan ketika
menuliskan surat ini pun aku belumlah pantas memanggilmu dengan panggilan
sayang. Pernah, beberapa waktu yang lalu aku meminta untuk mengurangi intesitas
komunikasi kita, selama waktu itu aku merasa lebih tenang. Bukan, bukannya aku
merasa terganggu dengan kehadiranmu, tapi rasa gelisahku lebih dominan
menekanku dan hatiku pun campur aduk. Di satu sisi aku merasa senang berkabar
denganmu, tapi disaat yang bersamaan aku merasa apa yang kita lakukan tak benar,
belum dibolehkan. Siapa yang melarang? Agama. Dan kurasa kau pun paham akan hal
itu.
Sayang… pahamilah, dosa yang kau tanggung karenaku, tak hanya dirimu
yang menanggung. Selain diriku, ayahmu pun ikut menanggung dosa atas apa yang tak
seharusnya kita lakukan. Mungkin sebagian orang menganggapku berlebihan dengan
menganggap yang kita lakukan masih dalam batas kewajaran. Tapi sesuatu yang
salah itu tak akan menjadi benar, hanya karena sebagian besar orang
menganggapnya wajar atau benar. Jujur, aku tak ingin menjadi sebab bertambahnya
dosa yang kau dan ayahmu tanggung. Karena aku menyanyangimu.
Sayang… kau tahu? Saat kemarin aku memintamu untuk kembali mengurangi
intensitas komunikasi kita, aku pun berat memintanya karena aku telah begitu
terbiasa denganmu. Tapi aku harus melakukannya. Aku tak ingin terlalu banyak
waktu yang kau habiskan hanya untuk meladeni semua tingkahku. Begitupun
denganku, aku tak ingin menghabiskan waktu terlalu banyak denganmu sebelum kita
menjadi halal. Aku tak ingin waktumu lebih banyak kau habiskan denganku
daripada mengadu dan meminta kepada Tuhan yang menciptakan kita, yang
senantiasa dapat membolak-balikkan hati kita, yang menentukan umur, jodoh dan
rejeki kita masing-masing.
Sayang… aku pernah memintamu untuk menungguku. Perlu kau tahu, sampai
hari ini niatku tak berubah. Jikapun dalam penantianmu ada seorang laki-laki
yang meminta tempat untuk tinggal di hatimu dan kau pun merasa nyaman
dengannya, tolong kabari aku. Aku tak akan melarangmu. Karena aku bukanlah
siapa-siapa untukmu. Hanya seseorang yang pernah meminta untuk tinggal di
hatimu.
Sayang… aku ingin meminta sesuatu hal padamu. Jika kau bertanya apa
itu? Aku hanya meminta jangan
pernah menangis karenaku, aku tidaklah pantas untuk kau tangisi, air matamu itu
lebih berharga dibanding hanya untuk menangis karenaku. Ada hal lain yang ingin
kuminta lagi, mungkin pintaku terlalu banyak. Aku ingin kau berhijab, berhijab
sebagaimana yang seharusnya. Tapi, aku tak ingin kau berhijab karenaku. Berhijablah
karena Allah dan karena kau menyayangi ayahmu. Jagalah dirimu karena aku
belumlah bisa menjagamu.
Sayang… jika esok hatimu merasa gundah, dan gelisah menyelimutimu.
Segeralah mengambil wudhu, sholatlah dan bacalah Al-Qur’an. Itu lebih bisa
menjadi penenang untuk hati dan jiwamu. Sungguh, aku tak ingin jika kau lebih
banyak mengingatku daripada mengingat Tuhan yang memberimu banyak nikmat. Nikmat
yang tak pernah bisa kau hitung jumlahnya.
Sayang… mungkin lewat surat ini aku terakhir memanggilmu dengan kata sayang.
Bukan karena aku tak menyayangimu, melainkan karena aku benar menyayangimu. Aku
ingin menyayangimu dengan cara yang terbaik dan dengan cara yang semestinya.
Jika pun saat ini kau belum bisa memahaminya, kelak aku yakin kau akan
memahaminya.
Ah, surat ini sudah terlalu panjang rupanya. Baiknya segera kuakhiri.
Tapi, sebelumnya… aku ingin bertanya satu hal. Apa kau kau percaya perihal
jodoh? Banyak orang yang paham, banyak orang yang tahu, tapi tidak banyak orang
yang percaya. Perihal jodoh, apapun yang kita lakukan jika memang tak berjodoh
maka tak akan bersama, maka tak akan menjadi milik kita. Sedangkan jika memang
jodoh, maka tak ada satu makhluk pun yang bisa menghalanginya. Dan aku percaya
itu. Lalu kenapa kita tidak terus memperbaiki diri? Memantaskan diri untuk
jodoh terbaik yang telah disiapkan oleh-Nya. Bukankah perempuan baik-baik itu
untuk laki-laki yang baik pula? Begitu pula sebaliknya.
Sayang… aku memilih untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Aku tak
ingin larut dalam dosa yang sebenarnya bisa kita hindari dan aku tak ingin hal
tersebut juga terjadi padamu hanya karenaku. Terakhir, aku berdoa untuk
kebaikanmu. Semoga Allah selalu menjaga kita agar tetap berada di jalan
kebaikan. Teruslah berdoa, meminta diberikan yang terbaik. Jika Allah berkehendak
kita akan bersama, maka kita akan bersama. Jika tidak, maka seseorang yang
lebih baik pasti telah disiapkan untukmu. Percayalah.

0 komentar:
Posting Komentar