Kamis, 03 September 2015

Surat Untuk Kekasihku

Bismillah…
Sayang… apa kabarmu? Semoga selalu sehat di sana. Aku tahu kita sekarang terpisah jarak, sudah beberapa bulan kita tak berjumpa. Seringkali ada rasa rindu yang menggebu, ada rasa sesak karena tak bertemu muka. Hanya komunikasi lewat sms, telpon atau pun WhatsApp, tapi… bagaimana dengan yang kamu rasakan? Apakah sama denganku? Apa benar-benar seperti yang kurasakan? Aku tak pernah benar-benar tahu.

Sayang… aku ingin bercerita padamu. Sebenarnya beberapa hari bahkan beberapa minggu belakangan ini aku seringkali merasa gelisah. Ada hal-hal dalam pikiranku juga hatiku yang berontak atas apa yang kita lakukan, mungkin juga tentang hubungan kita. Ada rasa berdosa yang terus mengikutiku atas apa yang pernah kulakukan dan kuminta padamu. Sesal memang tak ada guna, hanya aku berusaha memperbaiki, diriku dan tentu saja dirimu. Hubungan kita tak baik, terlalu banyak setan yang menunggangi dan berkepentingan untuk menjerumuskan kita berdua. Bahkan ketika kita sudah tak sering bertemu.

Sayang… aku meminta maaf atas segala hal yang pernah kulakukan dan kuminta padamu. Meski sebagian orang mengatakan itu hal wajar, namun aku tak mampu lagi menyimpan rasa berdosaku. Aku berharap kamu mau memaafkan salah dan khilafku itu.
 
Sayang… sadarkah? Kita belumlah halal satu sama lain, bahkan ketika menuliskan surat ini pun aku belumlah pantas memanggilmu dengan panggilan sayang. Pernah, beberapa waktu yang lalu aku meminta untuk mengurangi intesitas komunikasi kita, selama waktu itu aku merasa lebih tenang. Bukan, bukannya aku merasa terganggu dengan kehadiranmu, tapi rasa gelisahku lebih dominan menekanku dan hatiku pun campur aduk. Di satu sisi aku merasa senang berkabar denganmu, tapi disaat yang bersamaan aku merasa apa yang kita lakukan tak benar, belum dibolehkan. Siapa yang melarang? Agama. Dan kurasa kau pun paham akan hal itu.

Sayang… pahamilah, dosa yang kau tanggung karenaku, tak hanya dirimu yang menanggung. Selain diriku, ayahmu pun ikut menanggung dosa atas apa yang tak seharusnya kita lakukan. Mungkin sebagian orang menganggapku berlebihan dengan menganggap yang kita lakukan masih dalam batas kewajaran. Tapi sesuatu yang salah itu tak akan menjadi benar, hanya karena sebagian besar orang menganggapnya wajar atau benar. Jujur, aku tak ingin menjadi sebab bertambahnya dosa yang kau dan ayahmu tanggung. Karena aku menyanyangimu.

Sayang… kau tahu? Saat kemarin aku memintamu untuk kembali mengurangi intensitas komunikasi kita, aku pun berat memintanya karena aku telah begitu terbiasa denganmu. Tapi aku harus melakukannya. Aku tak ingin terlalu banyak waktu yang kau habiskan hanya untuk meladeni semua tingkahku. Begitupun denganku, aku tak ingin menghabiskan waktu terlalu banyak denganmu sebelum kita menjadi halal. Aku tak ingin waktumu lebih banyak kau habiskan denganku daripada mengadu dan meminta kepada Tuhan yang menciptakan kita, yang senantiasa dapat membolak-balikkan hati kita, yang menentukan umur, jodoh dan rejeki kita masing-masing.

Sayang… aku pernah memintamu untuk menungguku. Perlu kau tahu, sampai hari ini niatku tak berubah. Jikapun dalam penantianmu ada seorang laki-laki yang meminta tempat untuk tinggal di hatimu dan kau pun merasa nyaman dengannya, tolong kabari aku. Aku tak akan melarangmu. Karena aku bukanlah siapa-siapa untukmu. Hanya seseorang yang pernah meminta untuk tinggal di hatimu.

Sayang… aku ingin meminta sesuatu hal padamu. Jika kau bertanya apa itu? Aku hanya meminta jangan pernah menangis karenaku, aku tidaklah pantas untuk kau tangisi, air matamu itu lebih berharga dibanding hanya untuk menangis karenaku. Ada hal lain yang ingin kuminta lagi, mungkin pintaku terlalu banyak. Aku ingin kau berhijab, berhijab sebagaimana yang seharusnya. Tapi, aku tak ingin kau berhijab karenaku. Berhijablah karena Allah dan karena kau menyayangi ayahmu. Jagalah dirimu karena aku belumlah bisa menjagamu.

Sayang… jika esok hatimu merasa gundah, dan gelisah menyelimutimu. Segeralah mengambil wudhu, sholatlah dan bacalah Al-Qur’an. Itu lebih bisa menjadi penenang untuk hati dan jiwamu. Sungguh, aku tak ingin jika kau lebih banyak mengingatku daripada mengingat Tuhan yang memberimu banyak nikmat. Nikmat yang tak pernah bisa kau hitung jumlahnya.

Sayang… mungkin lewat surat ini aku terakhir memanggilmu dengan kata sayang. Bukan karena aku tak menyayangimu, melainkan karena aku benar menyayangimu. Aku ingin menyayangimu dengan cara yang terbaik dan dengan cara yang semestinya. Jika pun saat ini kau belum bisa memahaminya, kelak aku yakin kau akan memahaminya.

Ah, surat ini sudah terlalu panjang rupanya. Baiknya segera kuakhiri. Tapi, sebelumnya… aku ingin bertanya satu hal. Apa kau kau percaya perihal jodoh? Banyak orang yang paham, banyak orang yang tahu, tapi tidak banyak orang yang percaya. Perihal jodoh, apapun yang kita lakukan jika memang tak berjodoh maka tak akan bersama, maka tak akan menjadi milik kita. Sedangkan jika memang jodoh, maka tak ada satu makhluk pun yang bisa menghalanginya. Dan aku percaya itu. Lalu kenapa kita tidak terus memperbaiki diri? Memantaskan diri untuk jodoh terbaik yang telah disiapkan oleh-Nya. Bukankah perempuan baik-baik itu untuk laki-laki yang baik pula? Begitu pula sebaliknya.


Sayang… aku memilih untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Aku tak ingin larut dalam dosa yang sebenarnya bisa kita hindari dan aku tak ingin hal tersebut juga terjadi padamu hanya karenaku. Terakhir, aku berdoa untuk kebaikanmu. Semoga Allah selalu menjaga kita agar tetap berada di jalan kebaikan. Teruslah berdoa, meminta diberikan yang terbaik. Jika Allah berkehendak kita akan bersama, maka kita akan bersama. Jika tidak, maka seseorang yang lebih baik pasti telah disiapkan untukmu. Percayalah. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;