Minggu, 26 Mei 2013 0 komentar

Habit


        Namanya Diandra, anak jurusan sebelah yang seangkatan denganku. Bedanya, ia sudah menjadi sarjana, sedang aku masih berkutat dengan penyusunan proposal skripsi yang belum ada tanda-tanda akan selesai dalam waktu dekat ditambah dengan empat mata kuliah yang masih sementara berjalan.
        Pendiam. Itu kesan pertama yang terbersit dipikiranku saat pertama kali melihatnya dari jarak dekat. Pertama kali yang kesekian kalinya. Aku memang pernah melihat dia sebelumnya, tapi hanya dari jauh dan tak terlalu peduli tentangnya hingga hari ini tiba.
         Aku melihatnya ketika aku memasuki ruang pengelolaan jurnal fakultas siang tadi, kemudian mengambil posisi duduk arah jam 10 dari tempat duduknya. Bukan tanpa alasan, karena aku ingin memperhatikan wajahnya lebih dekat dan mencoba membaca dirinya. Itu kebiasaanku saat  ada seseorang yang menarik perhatianku. Tak ada rasa apapun selain rasa penasaran. Aku ingin melihat cara bicaranya dan mendengar suaranya untuk mendukung hipotesisku bahwa dia seorang yang pendiam. Lama kutunggu, suaranya belum juga meluncur dari bibirnya. Ia hanya sesekali berbicara dengan teman yang ada di sampingnya, itupun suaranya pelan sekali. Rasa penasaranku pun memuncak. Tapi masih bisa menahan diri.
Sabtu, 18 Mei 2013 0 komentar

Berdamai Dengan Senja

Aku tak pernah suka dengan senja. Aku benci ketika hari semakin cepat berlalu dengan senja sebagai penandanya. Menuntun waktu perpisahan itu datang lebih cepat dari perkiraanku. Ah, bodoh. Mungkin juga salahku, terlalu terbuai oleh waktu sampai tak sadar bahwa akan ada waktu berpisah denganmu. Dan, sekarang aku sadar, waktu empat tahun ternyata belumlah cukup untuk mencitaimu. Aku menginginkan waktu itu kembali. Empat tahun lalu, ketika pertama kali jantungku berdebar saat melihatmu. Ketika pertama kali memegang tanganmu di pendakian itu. Ya, aku ingin itu. Tapi, mustahil.

Sebulan telah berlalu sejak kepergianmu. Semakin menyadarkanku bahwa empat tahun adalah waktu yang begitu singkat. Apa aku benar mencintaimu? Tentu saja. Tapi kamu tak pernah percaya pada perasaanku. Kamu tak pernah benar mengartikan rasaku. Kamu lebih percaya pada peranggapanmu. 

Aku merindukanmu. Benarkah? Tentu saja. Tapi sekali lagi kamu tak pernah percaya akan itu. Jika boleh jujur, aku tak pernah berbohong akan rasa rindu itu padamu. Apa kamu tahu? Setiap jengkal kenangan denganmu kembali menari-nari dipikiranku sekarang. Rekam jejak yang kamu tinggalkan begitu nyata. Dan, rasa ini pun semakin lekat, mungkin juga pekat.
Senin, 13 Mei 2013 0 komentar

Bodoh...

              Malam ini sepertinya aku harus berperang. Perang ini tak lagi bisa terhindarkan. Mereka tak mau mengibarkan bendera putih dan menerima ajakan damai dariku. Aku pun begitu, tak akan menyerah. Tapi, sebagai konsekuensinya, aku harus meracik strategi jitu untuk mengalahkan mereka. Semakin malam mereka akan semakin ganas dan menyerangku secara membabi buta. Tapi, anehnya hanya yang betina saja yang menyerangku. Sedangkan yang jantan hanya jadi pengamat saja. Mungkin juga was-was jika betinanya terbunuh di tanganku.
      Perang pun dimulai sekitar jam 10 malam. Amunisiku sebenarnya sudah habis. Hanya tertinggal senjata kosong tanpa amunisi. Tapi, aku yakin bisa memenangkan pertempuran malam ini. Meskipun aku akan kewalahan menghadapi serangan mereka. 
      Yah, nyamuk-nyamuk betina itu pun mulai beterbangan di sekitarku dengan suara yang sudah akrab di telingaku jika mereka mendekat. Kadang tanganku refleks menyambar mereka yang mendekat atau hanya kibasan pakaian agar mereka menjauh dariku. Nah, di ruanganku ini sebenarnya ada 2 jenis anti nyamuk. Ada anti nyamuk elektrik yang selama ini jadi andalanku tapi malam ini amunisinya habis. Semoga saja nyamuk-nyamuk itu tak tahu. Ada juga anti nyamuk bakar, tapi kupikir jika menyalakannya dapat membuatku sesak karena asapnya. Dan jika telah habis terbakar, nyamuk itu dapat melihatnya dengan jelas dan akan menyerangku.
      Sekarang, harus kusiapkan strategi paling ampuh untuk mengusir nyamuk-nyamuk itu. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya kuputuskan untuk tidak menyalakan anti nyamuk bakar itu. Aku lebih memilih menyalakan anti nyamuk elektrik yang tanpa amunisi itu. Paling tidak lampunya masih menyala dan terlihat merah sehingga nyamuk-nyamuk itu pasti berpikir bahwa aku punya amunisi. Dan, ternyata benar. Nyamuk-nyamuk itu pun berbondong-bondong meninggalkanku. Samar terdengar suara mereka yang terbang ketakutan. Dan aku pun bisa tertidur dengan nyenyak sampai pagi.
Jumat, 10 Mei 2013 0 komentar

Bukan Salah Hujan


Tugu Layar itu tak lagi berdiri tegak, disebabkan abrasi. Kemiringannya sekitar 45 derajat, dan sepertinya tak butuh waktu lama lagi hingga Tugu itu ambruk. Di sekelilingnya tampak banyak pondok-pondok kecil yang merusak pemandangan pantai. Pondok-pondok itu malah sering dijadikan tempat mesum muda mudi yang dilanda asmara yang tak terkontrol.
Lelaki itu masih disana. Duduk  diam di samping Tugu Layar ketika senja mulai menyapa. Ya, dia masih tak beranjak, ketika perlahan gerimis mulai menghampirinya. Tatapannya jauh ke horison. Sesekali ia menarik nafas panjang. Dan sesekali ia tersenyum sambil menutup matanya. Menikmati aroma laut yang ada di depannya. Baginya, hujan di kala senja adalah hujan terindah.
     Hari ini adalah hari ketiga dia melakukannya. Mendatangi tempat yang sama, saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Dan itu adalah hujan kedua yang dirasakannya di tempat itu. Mungkin ia sedang merindukan seseorang.
 
;