Namanya Diandra, anak jurusan sebelah yang seangkatan
denganku. Bedanya, ia sudah menjadi sarjana, sedang aku masih berkutat dengan
penyusunan proposal skripsi yang belum ada tanda-tanda akan selesai dalam waktu
dekat ditambah dengan empat mata kuliah yang masih sementara berjalan.
Pendiam.
Itu kesan pertama yang terbersit dipikiranku saat pertama kali melihatnya dari
jarak dekat. Pertama kali yang kesekian kalinya. Aku memang pernah melihat dia
sebelumnya, tapi hanya dari jauh dan tak terlalu peduli tentangnya hingga hari
ini tiba.
Aku
melihatnya ketika aku memasuki ruang pengelolaan jurnal fakultas siang tadi,
kemudian mengambil posisi duduk arah jam 10 dari tempat duduknya. Bukan tanpa
alasan, karena aku ingin memperhatikan wajahnya lebih dekat dan mencoba membaca
dirinya. Itu kebiasaanku saat ada
seseorang yang menarik perhatianku. Tak ada rasa apapun selain rasa penasaran.
Aku ingin melihat cara bicaranya dan mendengar suaranya untuk mendukung
hipotesisku bahwa dia seorang yang pendiam. Lama kutunggu, suaranya belum juga
meluncur dari bibirnya. Ia hanya sesekali berbicara dengan teman yang ada di
sampingnya, itupun suaranya pelan sekali. Rasa penasaranku pun memuncak. Tapi
masih bisa menahan diri.

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact