Aku tak pernah suka dengan senja. Aku benci ketika hari semakin cepat berlalu dengan senja sebagai penandanya. Menuntun waktu perpisahan itu datang lebih cepat dari perkiraanku. Ah, bodoh. Mungkin juga salahku, terlalu terbuai oleh waktu sampai tak sadar bahwa akan ada waktu berpisah denganmu. Dan, sekarang aku sadar, waktu empat tahun ternyata belumlah cukup untuk mencitaimu. Aku menginginkan waktu itu kembali. Empat tahun lalu, ketika pertama kali jantungku berdebar saat melihatmu. Ketika pertama kali memegang tanganmu di pendakian itu. Ya, aku ingin itu. Tapi, mustahil.
Sebulan telah berlalu sejak kepergianmu. Semakin menyadarkanku bahwa empat tahun adalah waktu yang begitu singkat. Apa aku benar mencintaimu? Tentu saja. Tapi kamu tak pernah percaya pada perasaanku. Kamu tak pernah benar mengartikan rasaku. Kamu lebih percaya pada peranggapanmu.
Aku merindukanmu. Benarkah? Tentu saja. Tapi sekali lagi kamu tak pernah percaya akan itu. Jika boleh jujur, aku tak pernah berbohong akan rasa rindu itu padamu. Apa kamu tahu? Setiap jengkal kenangan denganmu kembali menari-nari dipikiranku sekarang. Rekam jejak yang kamu tinggalkan begitu nyata. Dan, rasa ini pun semakin lekat, mungkin juga pekat.
Aku ingat ketika pertama kali kusentuh kepalamu saat kamu makan malam itu. Kemudian kuambilkan segelas air putih ketika makananmu tersisa beberapa suap terakhir. Kamu tahu? aku sangat bahagia malam itu. Meski kamu tak pernah tahu apa yang aku rasakan.
Hujan? Ah, tak perlu membicarakannya sekarang. Karena hujan telah mengambil tempatnya sendiri dalam setiap kenanganku denganmu. Seperti sore tadi, hujan datang menjemput rindu yang kutitipkan padamu. Seperti biasa.
Beberapa hari terakhir aku sering menatap langit senja dari terasku. Entah kenapa aku tersenyum. Padahal dulu aku tak pernah suka pada senja yang memutus waktu denganmu. Satu hal yang akhirnya kusadari ketika senja kembali akan mengakhiri hari ini bahwa akan ada hari dimana kita bertemu kembali. Dan aku ingin senja mempercepat hari itu. Sore ini, aku memilih berdamai dengan senja. Mungkin juga seterusnya.
Aku akan menunggumu disini. Menunggu saat kita bisa bertemu lagi. Menunggu hingga kamu percaya akan cintaku. Menunggu kembalimu dengan bongkahan rindu yang selalu kutitipkan pada hujan. Dan aku berharap bahwa waktu itu hujan turun dikala senja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar