Namanya Diandra, anak jurusan sebelah yang seangkatan
denganku. Bedanya, ia sudah menjadi sarjana, sedang aku masih berkutat dengan
penyusunan proposal skripsi yang belum ada tanda-tanda akan selesai dalam waktu
dekat ditambah dengan empat mata kuliah yang masih sementara berjalan.
Pendiam.
Itu kesan pertama yang terbersit dipikiranku saat pertama kali melihatnya dari
jarak dekat. Pertama kali yang kesekian kalinya. Aku memang pernah melihat dia
sebelumnya, tapi hanya dari jauh dan tak terlalu peduli tentangnya hingga hari
ini tiba.
Aku
melihatnya ketika aku memasuki ruang pengelolaan jurnal fakultas siang tadi,
kemudian mengambil posisi duduk arah jam 10 dari tempat duduknya. Bukan tanpa
alasan, karena aku ingin memperhatikan wajahnya lebih dekat dan mencoba membaca
dirinya. Itu kebiasaanku saat ada
seseorang yang menarik perhatianku. Tak ada rasa apapun selain rasa penasaran.
Aku ingin melihat cara bicaranya dan mendengar suaranya untuk mendukung
hipotesisku bahwa dia seorang yang pendiam. Lama kutunggu, suaranya belum juga
meluncur dari bibirnya. Ia hanya sesekali berbicara dengan teman yang ada di
sampingnya, itupun suaranya pelan sekali. Rasa penasaranku pun memuncak. Tapi
masih bisa menahan diri.
Aku
selalu punya cara untuk mengubah seseorang yang pendiam keluar dari
kebiasaannya. Dan kali ini aku ingin mencobanya lagi. Sebelumnya, cara ini
pernah kugunakan pada beberapa orang dan berhasil tapi aku belum mampu menebak
apa yang akan terjadi dengan sosok pendiam di depanku ini.
“Mmm…
orang apa ya? Kayak kenal...” tanyaku membuka percakapan.
“Ya?
Kenapa?” tak terlalu mendengar.
“Kamu
orang apa? Sepertinya tak asing bagiku, kamu yang dari jurusan sebelah kan?”
tanyaku memastikan dan sok kenal.
“Iya…”
jawabnya dengan senyum.
“Orang daerah sana kan?” tanyaku lagi seolah menginterogasi makhluk asing yang
pertama kali menjejakkan kaki di planetku.
“Iya…”
sambil mengangguk.
“Temannya
Rio kan…?” lanjutku.
“Astaga…
Rio itu dari TK, SD, SMP, SMA satu kelas terus dengan saya, bahkan satu
kampus di sini, untung saja tidak satu jurusan” jawabnya dengan antusias lebih
dari yang sebelumnya.
Nah,
tanpa menanyakan namanya dahulu, aku sudah tahu beberapa hal tentangnya. Soal
nama atau perkenalan selanjutnya itu urusan belakangan. Yang penting tujuanku untuk mendengar
suaranya sudah tercapai dan persepsiku bahwa orang ini pendiam dan pemalu,
sedikit demi sedikit mulai terbantahkan.
Percakapan
untuk mematahkan hipotesisku terus berlanjut sampai aku menyebutnya sebagai
mantan pegawai di PT. POS dan dia pun hanya tersenyum. Manis sekali.

0 komentar:
Posting Komentar