Minggu, 26 Mei 2013

Habit


        Namanya Diandra, anak jurusan sebelah yang seangkatan denganku. Bedanya, ia sudah menjadi sarjana, sedang aku masih berkutat dengan penyusunan proposal skripsi yang belum ada tanda-tanda akan selesai dalam waktu dekat ditambah dengan empat mata kuliah yang masih sementara berjalan.
        Pendiam. Itu kesan pertama yang terbersit dipikiranku saat pertama kali melihatnya dari jarak dekat. Pertama kali yang kesekian kalinya. Aku memang pernah melihat dia sebelumnya, tapi hanya dari jauh dan tak terlalu peduli tentangnya hingga hari ini tiba.
         Aku melihatnya ketika aku memasuki ruang pengelolaan jurnal fakultas siang tadi, kemudian mengambil posisi duduk arah jam 10 dari tempat duduknya. Bukan tanpa alasan, karena aku ingin memperhatikan wajahnya lebih dekat dan mencoba membaca dirinya. Itu kebiasaanku saat  ada seseorang yang menarik perhatianku. Tak ada rasa apapun selain rasa penasaran. Aku ingin melihat cara bicaranya dan mendengar suaranya untuk mendukung hipotesisku bahwa dia seorang yang pendiam. Lama kutunggu, suaranya belum juga meluncur dari bibirnya. Ia hanya sesekali berbicara dengan teman yang ada di sampingnya, itupun suaranya pelan sekali. Rasa penasaranku pun memuncak. Tapi masih bisa menahan diri.

         Aku selalu punya cara untuk mengubah seseorang yang pendiam keluar dari kebiasaannya. Dan kali ini aku ingin mencobanya lagi. Sebelumnya, cara ini pernah kugunakan pada beberapa orang dan berhasil tapi aku belum mampu menebak apa yang akan terjadi dengan sosok pendiam di depanku ini.
         “Mmm… orang apa ya? Kayak kenal...” tanyaku membuka percakapan.
         “Ya? Kenapa?” tak terlalu mendengar.
         “Kamu orang apa? Sepertinya tak asing bagiku, kamu yang dari jurusan sebelah kan?” tanyaku memastikan dan sok kenal.
         “Iya…” jawabnya dengan senyum.
         “Orang daerah sana kan?” tanyaku lagi seolah menginterogasi makhluk asing yang pertama kali menjejakkan kaki di planetku.
         “Iya…” sambil mengangguk.
         “Temannya Rio kan…?” lanjutku.
         “Astaga… Rio itu dari TK, SD, SMP, SMA satu kelas terus dengan saya, bahkan satu kampus di sini, untung saja tidak satu jurusan” jawabnya dengan antusias lebih dari yang sebelumnya.
         Nah, tanpa menanyakan namanya dahulu, aku sudah tahu beberapa hal tentangnya. Soal nama atau perkenalan selanjutnya itu urusan belakangan.  Yang penting tujuanku untuk mendengar suaranya sudah tercapai dan persepsiku bahwa orang ini pendiam dan pemalu, sedikit demi sedikit mulai terbantahkan.
          Percakapan untuk mematahkan hipotesisku terus berlanjut sampai aku menyebutnya sebagai mantan pegawai di PT. POS dan dia pun hanya tersenyum. Manis sekali.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;