Sabtu, 09 Agustus 2014 0 komentar

Perempuan yang Manis

Bukankah setiap manusia itu berbeda? Dan bukankah setiap manusia itu masing-masing punya kelebihan dan kekurangan? Tak ada manusia yang sempurna 'kan? Lalu kenapa ada manusia yang suka menyombongkan diri dan ada juga manusia yang suka merendahkan dirinya? Ah, namanya juga manusia. Dan kemudian mereka menyebutnya manusiawi. Sebuah pembenaran.

Okeh, abaikan paragraf di atas... karena tulisan di bawah ini sama sekali tak akan ada hubungannya dengan paragraf di atas... hahaha...

Jadi, seperti ini ceritanya...
Ini mungkin sedikit cerita untuk laki-laki, tapi bisa juga untuk perempuan. Syarat untuk membaca tulisan ini hanyalah 'bisa membaca'. Itu saja cukup.
Pernah dengar atau menjumpai seorang perempuan yang 'mengaku' manis atau mungkin banyak orang yang bilang dia manis? Pernah kan ya... masa iya gak pernah. Tapi yang ini sama sekali tak ada juga hubungannya dengan Si Manis Jembatan Ancol. Oke, kalau pernah... maka saya akan mengajak kalian berpikir.

Jadi begini... mereka (baca: perempuan) yang mengaku manis atau kebanyakan orang bilang mereka manis, apa pernah kalian melihat mereka dikerumuni oleh semut? Mungkin pernah, kalau yang kalian lihat kebetulan sedang duduk di atas sarang semut.:p Selain itu, tak ada yang pernah dikerumuni semut jika mereka tak mengganggu semutnya kan? Oke, anggap saja kita satu pikiran. Atau kalau tidak, samakan saja pikiran kalian dengan saya. Jadi, kita anggap saja tak pernah ada perempuan yang dikerumuni semut. Bahkan yang mengaku manis sekalipun.

Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mereka tidak dikerumuni semut? Apa karena tidak manis? Bukan, sama sekali bukan. Hanya saja mereka itu manisnya asli. Jadi tidak dikerumuni semut. Ibarat madu, kalau madu itu asli maka madu itu tak akan dikerumuni oleh semut.

Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah, mereka (baca: perempuan) itu manisnya asli, dan tidak perlu gula. Jadi, mungkin bisa dijadikan 'madu'.

Untuk laki-laki yang sudah menikah, mereka lebih tahu mana madu yang asli dan mana yang bukan. Ketika mereka membawa 'madu' ke rumahnya dan kemudian istrinya marah, maka bisa dipastikan 'madu' itu asli.

Sekian. Mungkin bisa jadi renungan. Kalau tidak, abaikan sajalah. Hahaha... :p

 
;