Kamis, 24 Januari 2013 0 komentar

Mau kemana?

Sekarang hari libur, warna merah jelas terlihat di kalenderku yang menunjuk angka 24. Yah, seminggu lagi Januari berakhir. Dan, proposal skripsiku belum juga kelar. Entah apa yang ada di pikiranku. Penyakit lamaku sepertinya kambuh. Aku mulai ogah-ogahan lagi mengerjakannya. Tak tahu apa yang ada dalam kepalaku. Pesimis? Mungkin. Realistis? juga mungkin. Tapi, tak tahu apa yang terjadi padaku. Beberapa hari terakhir draf proposalku sama sekali tak kusentuh. Tidak mood? Mood, bukanlah alasan yang tepat untukku. Mungkin otakku hanya butuh pancingan sedikit untuk bisa bekerja lebih maksimal. Mataku pun tak lagi tahan berlama-lama depan layar laptop. Entah apa sebabnya, CVS mungkin (lagi).

Sepertinya aku butuh waktu untuk ke suatu tempat dimana bisa me-refresh otakku dulu. Mungkin ini hanya rasa jenuh. Tapi, mau kemana? Opsi tempat tujuan pun sama sekali tidak tergambar dalam otakku. Ini mungkin karena aku lebih sering mengurung diri di kamar. Terlebih dukungan cuaca yang tak menentu. Bukan tak menentu sih sebenarnya, tapi memang lebih sering hujan dan membuatku malas beraktifitas di luar rumah.
Selasa, 22 Januari 2013 0 komentar

Nyerah atau Realistis?

"nyerah sama realistis itu beda tipis". 
Kalimat di atas merupakan kutipan dari film "Perahu Kertas". Kalimat itu diucapkan oleh Keenan pada Kugy ketika ia memutuskan untuk berhenti melukis. Ia pergi dari rumah dan telah mengundurkan diri di kampusnya dimana ia kuliah ekonomi.

Mungkin tak sedikit orang yang berada di posisi seperti itu. Aku, juga pernah dan entah sekarang. Apa masih berada di posisi itu atau tidak. Terkadang, godaan untuk menyerah itu berbalut dengan realitas. Dan memaksa kita berpikir realistis. Ketika berada di titik itu, kita kadang mengesampingkan faktor "x" ataupun faktor Tuhan dan mulai larut dalam realitas yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Pengondisian diri lebih tepatnya. Menempatkan diri kita dalam kotak yang mengekang segala kemungkinan terbaik dari yang terburuk. Dan hasilnya bisa dipastikan, kita benar-benar menyerah.
Jumat, 18 Januari 2013 0 komentar

Bahagia itu sederhana, bagiku

Bagiku, bahagia itu sederhana. Seperti ketika aku teringat akan senyummu pagi kemarin yang mengawali hariku. Inginku selalu begitu. Entah resep apa yang kau punya sehingga hanya dengan senyuman ditambah dengan beberapa kata, yang terucap dari bibirmu mampu mengubah hariku menjadi lebih dari biasanya atau dengan kata lain luar biasa. 

Yah, pagi kemarin aku terbangun karena pesan singkat darimu. Andai bisa seperti itu setiap harinya. Hingga nanti kau sendiri yang membangunkanku ketika aku terlelap di sampingmu. Bingung, sebenarnya apa yang akan kutuliskan tentangmu, terkadang aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Sama seperti ketika berada dihadapanmu, aku hanya mampu memandangimu tanpa bisa berkata banyak. Ironis, ketika orang lain bertanya tentangmu, maka aku seolah tak pernah kehabisan kata-kata untuk menceritakan segala tentangmu.

Anehnya, meskipun aku sering kehabisan kata-kata di hadapanmu, aku merasa itu adalah percakapan terindah denganmu dalam menit-menit yang tak terdefinisikan. Sulit diungkapkan perasaanku saat itu, membuatku seolah menjadi orang yang kurang waras setelah bertemu denganmu karena bawaannya akan senyum-senyum terus, sepanjang hari.

Sadarku, tak ada manusia yang sempurna. Aku tahu kau juga adalah manusia yang pasti memiliki kekurangan. Tapi, bagiku hanya ada satu kata untukmu. Sempurna.
Semoga esok, masih ada hari-hari dimana aku bisa kembali menemukan senyummu. Senyum yang selalu kurindukan sampai kau mengobati rasa rindu ini. Meski waktu kian terasa sulit. Untukku pun untukmu. Kerena sejujurnya, aku telah memilihmu.

Rabu, 16 Januari 2013 0 komentar

Mengejar Wisuda (5)

Hari ini aku bahagia. Ya, aku bahagia tentunya bukan tanpa alasan. Tapi, aku bahagia karena aku ingin bahagia. Oke, sekarang mungkin waktunya laporan perkembangan tentang urusan skripsiku.

Yah, aku memulai hari ini dengan  terbangun lebih awal dari biasanya. Entah apa alasannya, sepertinya ada yang tak biasa dengan hari ini. Semangatku seolah lebih daripada kadar biasanya. Mungkin karena hari ini adalah hari yudisiummu atau hari dimana status mahasiswa di pundakmu pun dicabut. Tapi, entah kenapa aku yang lebih bersemangat. Ah, aku tahu, semua itu karena pesan singkat darimu pagi tadi. Selalu mampu memompa semangatku ke tempat tertinggi. Dan itu, kamu.

Aku berangkat ke kampus jelang jam 12 siang tadi. Niatku hari ini adalah bertemu dengan pembimbing II-ku untuk konsultasi proposal skripsi yang kebetulan adalah ketua jurusanku, tentunya itu selain bertemu denganmu dan melihat senyuman yang selalu kurindukan (lagi). Tak bosan-bosan aku melihatnya. Entah sampai kapan pun. Mungkin aku terlalu cepat ke kampus, karena biasanya pembimbing II-ku melayani konsultasi sore hari dan kadangkala sampai maghrib, dan aku menunggu dengan sabar sambil melanjutkan mengetik materi untuk web-ku. Meski terkadang peluh mengucur di dahiku, aku tak peduli lagi ketika di pikaranku tampak jelas targetku untuk bisa wisuda bulan April nanti. Denganmu, tentunya.

Jam 2 siang, dan aku memperoleh informasi jika pembimbing II-ku akan berada di kampus jam 3 sore nanti. Masih ada satu jam. Pikirku. Dan lagi, kulanjutkan ketikanku. Masih jelas terbayang aku akan wisuda bulan April nanti. Aku bisa, yakin bisa.
0 komentar

Ini, Masih Tentangmu

Tak butuh waktu lama untuk mengundangmu mengisi pikiranku, selanjutnya menjadi penghuni tetap dalam otakku. Pun demikian dengan hatiku. Lebih dari tiga tahun berlalunya waktu itu. Ketika aku dengan sengaja memasukkanmu dalam pikiranku hanya karena persamaan namamu dengan seseorang yang cukup berarti bagiku kala itu. Sejujurnya, kala itu hanya karena namamu lah yang membuatku tetarik untuk mengenalmu lebih dekat. Bukan dari fisik yang kulihat ataupun cerita orang tentangmu. Semuanya mulai dari nol.

Tak pernah ada sesalku ketika rasa itu perlahan muncul dan menyeruak ke permukaan. Pikirku, kau memang pantas mendapatkannya. Dan aku, tetap dalam penantian untukmu meski kalender sudah berganti empat kali. Aku tak peduli kata orang, banyak di antara mereka yang berkata aku aneh, dan tak sedikit yang mengatakan aku gila ketika aku lebih memilih menghabiskan waktuku dalam penantian yang tak kunjung berakhir. Itu kulakukan untukmu. Tidak dengan yang lain. 

Pernah aku terjebak dalam pikiranku sendiri. Ketika tentangmu, aku tak bisa membedakan, ini cinta atau hanya sekedar ambisi atau mungkin juga obsesi. Tapi, hari ini aku sadar, dan aku yakin inilah cinta yang kupahami. Ya, aku jatuh cinta padamu sejak saat itu, sejak kau mengenalkan namamu padaku. Sampai hari ini, rasa itu tetap ada, meski angka tahun di kalender telah empat kali berganti. Dan itu masih kamu.

Sekarang lihat, langit malam ini sejenak berhenti menghantarkan hujan padaku. Berganti dengan embun malam yang dingin, perlahan menyentuh permukaan kulitku. Aku tak peduli dengan itu. Lihat bintang-bintang di angkasa itu? Ya, begitu banyak bintang yang menggantung di sana, dan begitu banyak pula orang-orang yang menggantungkan mimpinya di sana. Tapi, aku tidak melakukannya. Karena mimpiku ada disini, di sorot matamu jelas kulihat. Sehingga aku tak perlu menuju bintang. Hanya saja, malam ini kutitip rinduku pada bintang-bintang, ketika hujan mulai lelah menyampaikannya padamu,mungkin karena intensitasnya lebih banyak daripada hujan itu sendiri. Rindu ini selalu untukmu.


 
Senin, 14 Januari 2013 0 komentar

Dalam Dinginnya Hujan

Sandar, ya... aku ingin bersandar. Sejenak saja, di bahumu. Aku lelah, ingin melepasnya meski hanya sedikit. Ingin kurasakan hembusan nafasmu. Hangat dan lembut jemarimu di pipiku dan perlahan membelai rambutku, pelan dan tanpa kata. Sekarang rasakan, rasakan degup jantungku yang tak menentu ini. Selalu seperti itu ketika di dekatmu. Mungkin, kaulah alasan jantungku tetap berdetak. Yakinku.

Sekarang diam. Lelahku sudah mulai memudar. Pandangi langit malam, menurunkan hujan yang menderas. Rasakan dinginnya. Dingin yang memuncak ditengah kegelapan malam, tapi tatapanmu yang teduh bisa menghangatkanku. Sedikit lagi, aku masih ingin bersandar di bahumu beberapa jenak untuk melepaskan sesakku, resahku, dan keluhku. Meskipun masih dalam diam. Pun denganmu. Menjadikan malam ini indah dengan diam kita, menyelesaikan cerita hanya dengan tatapan mata. Kamu.

Sekarang lihat. Buka matamu dan jauhkan pandangmu ke depan. Lihat? kau lihat mimpiku? ya, itu mimpiku. Mimpi hidup bersamamu. Menjadikanmu nyata dalam gelap dan dingin malamku. Menjadikan bahumu nyata untukku bersandar ketika lelah, sesak, dan resah. 

Malam ini, kau tersenyum penuh makna padaku. Hidup, nyata dalam imajiku. Terima kasih untuk hadirmu yang selalu mengisi pikiranku. Pun dengan hatiku. Ini untukmu. 
Sabtu, 12 Januari 2013 0 komentar

Mengejar Wisuda (4)

Inkonsistensi, sekali lagi menghampiriku. Membuat rencanaku kembali hanya menjadi sebuah rencana yang tak terealisasi. Postingan ini pun bukti inkonsistensiku. Harusnya ini kubuat malam tadi, tapi ternyata aku masih saja terjebak dalam kemalasan yang tak berujung. Membuang waktuku percuma. Dan, parahnya skripsiku pun membutuhkan tambahan waktu untuk diselesaikan. Meskipun kemarin tetap ada perkembangan pada draf proposalku, tapi tak terlalu signifikan. Karena seharusnya aku bisa melakukan yang lebih baik lagi. Aku tak ingin menyalahkan keadaan, karena aku sendirilah yang membuat keadaan seperti ini. Rencanaku konsultasi kemarin pun tak terwujud hanya karena hal sepele, ini dan itulah. Rancangan webku pun sama sekali tak ada perkembangan, walau hanya tambahan materi sedikitpun.

Kemarin, ya kemarin. Tak perlu lagi dibahas, terpenting adalah hari ini lakukan yang terbaik untuk menutupi kekurangan hari kemarin. Jika kemarin belum maksimal, harusnya hari ini bisa maksimal. Jika pun bisa melebihi maksimal, harusnya seperti itu. Tapi, aku belum menemukan kata yang mewakili jika sesuatu itu melebihi maksimal. Karena belum ada patokan untuk maksimalnya.
Jumat, 11 Januari 2013 0 komentar

Mengejar Wisuda (3)

Hidup adalah sebuah perjuangan. Jadi ketika kita tidak berjuang setiap hari, maka kita tak ada bedanya dengan orang mati. Ah, lagi-lagi skripsi. Sekarang aku harus terus berjuang untuk skripsiku. Paling tidak, ada perubahan setiap harinya. Sekecil apa pun itu, karena itu adalah sebuah proses.

Hari ini, hanya ada tambahan sedikit materi di web yang kurancang. Aku kecewa, karena perhatianku masih saja teralihkan pada hal-hal yang tak penting. Aku tak tahan berlama-lama dengan keyboard laptop. Entah kenapa, aku belum bisa menemukan solusi untuk masalah yang satu itu. 

Sekarang 20 hari tersisa di bulan Januari, dan aku memiliki target bisa seminar proposal bulan ini. Perkiraan waktu efektif hanya 15 hari untuk mengurusinya. Seolah memaksaku untuk menatap realitas, bahwa sangat kecil kemungkinannya aku bisa seminar proposal bulan ini, mengingat belum ada perkembangan yang terlalu signifikan dari draf proposalku, alih-alih Acc dari pembimbing. Tapi, sekecil apapun itu, kemungkinan tetap ada kan? Dan aku akan tetap mengejarnya, hingga Januari betul-betul berakhir. Berpikir positif dan optimis disertai usaha yang maksimal diiringi doa' adalah cara paling masuk akal untuk mencapainya.

Kembali lagi ke rancangan web. Hari ini, meski tambahan materi tidak terlalu banyak, paling tidak aku bisa menambahkan jam, kalender dan statistik pengunjung di web ku. Itupun setelah memutar otak selama satu jam lebih. Hanya itu perkembangan dari web rancanganku. Sedangkan untuk materinya, masih kurang empat pokok bahasan. Tapi, tekadku menyelesaikan web itu minggu ini. Paling tidak, sampai hari minggu pukul 23.59.
Rabu, 09 Januari 2013 0 komentar

Mengejar Wisuda (2)

Setelah kemarin, hari ini aku melanjutkan lagi perjuanganku untuk menyelesaikan web yang kurancang sebagai pelengkap tugas akhirku. Sebagai awal, entah kenapa pagi tadi aku bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Dan, seolah menjadi rutinitas, seusai shalat subuh aku mengirimkan sms kepada seseorang yang cukup berarti untukku tanpa peduli aku berarti untuknya atau tidak. Seperti biasanya dia pun membalasnya dengan tertawa atau mungkin tersenyum saat membaca sms dariku. Tujuanku hanya satu, ingin membuatnya tertawa ataupun tersenyum di awal hari. Apalagi hari ini ia akan ujian skripsi/ujian akhir, tapi lebih sering kami menyebutnya ujian meja. Berbalas, ia pun menyemangatiku untuk segera menyelesaikan skripsiku meski sebenarnya ia adalah adik tingkatku atau satu tahun dibawahku. Tapi, lagi-lagi ini hanya masalah disiplin sehingga ia lebih dulu menyelesaikan studinya daripada aku. Well, tentangnya cukup sampai disini dulu, karena aku yakin, jika terus menceritakan dia maka tak akan ada habisnya.

Yah, hari ini aku ke kampus. Pagi. Bukan tanpa alasan, aku ke kampus karena sudah janji dengan seorang adik tingkatku untuk bertemu, karena ada tawaran kerjasama darinya. Selain itu, juga karena aku ingin melihat 'dia' yang kusebut di paragraf pertama tadi yang akan ujian akhir hari ini. Meski jadwal ujian akhirnya baru dimulai pukul 15.00 WITA. Tapi, tak ada masalah, sekalian aku bisa mengerjakan beberapa halaman materi yang akan ku-input ke dalam web ku malam ini. Kurasa, banyak waktu yang terbuang di kampus, waktuku menjadi kurang produktif ketika hanya kuhabiskan dengan duduk-duduk santai di depan jurusan tanpa ada hal lain yang bisa kulakukan sebagai langkah pendukung untuk segera menyelesaikan skripsiku mapun web yang sedang kurancang.
0 komentar

Mengejar Wisuda (1)

Sebenarnya ini mau saya posting malam tadi, tapi tertidur karena kelelahan, dan akhirnya tidak menyempatkan diri untuk mampir disini, walapun akhirnya bisa mampir sepagi ini. Seperti janjiku kemarin, aku kembali mampir disini untuk berkisah. Well, this is my story...

Ada segelintir orang yang mengatakan jika memulai sesuatu adalah hal yang tersulit. Dan hal itu berlaku juga ketika akan mulai menyusun skripsi. Tak tahu kenapa hal itu seolah berlaku juga padaku. Setelah judul skripsiku diterima oleh pembimbing, aku tak pernah berani untuk memulai mengerjakannya. Yang kulakukan hanya menunda dan terus mengulur waktu tanpa alasan yang jelas, tak tanggung-tanggung hampir setahun aku menundanya.

Aku memulainya setelah melewati pertengahan tahun kemarin, dengan target bisa wisuda di akhir tahun kemarin. Semangatku pun menggebu sampai akhirnya pembimbingku mengatakan jika aku tak bisa wisuda akhir tahun kemarin. Aku tak tahu pasti alasan beliau saat itu, dan sejujurnya itu membuatku drop. Selang beberapa hari aku tahu jika ternyata beliau akan berangkat menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun kemarin. Dan, perkiraanku mungkin itu alasan beliau. Tapi, aku terus konsultasi sampai jelang keberangkatan beliau ke tanah suci. Dan, setelah beliau berangkat. Maka draf proposalku pun berangkat ke dalam laci lemari dan bersemayam hampir dua bulan lamanya, setelah itulah bagian tersulitnya.
Senin, 07 Januari 2013 0 komentar

Energi Ajaib

7 Januari 2013, hari pertama kembali kubuka blog ini setelah tahun berganti. Sepertinya sudah banyak jaring laba-laba disini. Karena, sudah sebulan lebih tak mampir kesini. Aku tak mau mencari alasan, semua ini hanya karena kemalasanku untuk mampir disini lagi. Beberapa saat yang lalu, aku menyempatkan diri membaca blog seorang teman. Isinya ter-update. Sebenarnya aku iri padanya, karena aku tak bisa serutin dia mengujungi blognya. Menuliskan apapun setiap harinya. Tak peduli panjang atau pendek. Seperti rumah, tak peduli sudah banyak debu atau tidak, tetap saja perlu dibersihkan. Hal itu seolah menamparku. Aku yang terjebak dalam kemalasan yang tak berujung, tak mampu menghasilkan apa-apa.

Hari ini, kuberanikan diri untuk menuliskan mimpi-mimpiku. Dan kutempelkan pada tembok. Sengaja kutempelkan di dekat cermin, agar aku bisa melihatnya setiap kali kau bercermin. Aku merasa, ada energi tersendiri ketika kutuliskan mimpi-mimpi itu dan akau menyebutnya 'Energi Ajaib'. Mungkin banyak diantaranya yang tak masuk akal. Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di hari esok?

 
;