Rabu, 16 Januari 2013

Mengejar Wisuda (5)

Hari ini aku bahagia. Ya, aku bahagia tentunya bukan tanpa alasan. Tapi, aku bahagia karena aku ingin bahagia. Oke, sekarang mungkin waktunya laporan perkembangan tentang urusan skripsiku.

Yah, aku memulai hari ini dengan  terbangun lebih awal dari biasanya. Entah apa alasannya, sepertinya ada yang tak biasa dengan hari ini. Semangatku seolah lebih daripada kadar biasanya. Mungkin karena hari ini adalah hari yudisiummu atau hari dimana status mahasiswa di pundakmu pun dicabut. Tapi, entah kenapa aku yang lebih bersemangat. Ah, aku tahu, semua itu karena pesan singkat darimu pagi tadi. Selalu mampu memompa semangatku ke tempat tertinggi. Dan itu, kamu.

Aku berangkat ke kampus jelang jam 12 siang tadi. Niatku hari ini adalah bertemu dengan pembimbing II-ku untuk konsultasi proposal skripsi yang kebetulan adalah ketua jurusanku, tentunya itu selain bertemu denganmu dan melihat senyuman yang selalu kurindukan (lagi). Tak bosan-bosan aku melihatnya. Entah sampai kapan pun. Mungkin aku terlalu cepat ke kampus, karena biasanya pembimbing II-ku melayani konsultasi sore hari dan kadangkala sampai maghrib, dan aku menunggu dengan sabar sambil melanjutkan mengetik materi untuk web-ku. Meski terkadang peluh mengucur di dahiku, aku tak peduli lagi ketika di pikaranku tampak jelas targetku untuk bisa wisuda bulan April nanti. Denganmu, tentunya.

Jam 2 siang, dan aku memperoleh informasi jika pembimbing II-ku akan berada di kampus jam 3 sore nanti. Masih ada satu jam. Pikirku. Dan lagi, kulanjutkan ketikanku. Masih jelas terbayang aku akan wisuda bulan April nanti. Aku bisa, yakin bisa.


Ketika jam dinding sudah menunjuk angka 3, perasaanku pun mulai tak tenang, entah ada angin apa yang mengusikku. Aku berharap bisa bertemu dengan pembimbing II-ku untuk konsultasi yang pertama kalinya. Dan beliau tiba di kampus satu jam kemudian dengan terburu-buru. Karena, banyak juga yang ingin meminta tanda tangan dan juga kamu yang akan yudisium hari ini. Raut wajahnya nampak tergesa-gesa dan tak ada sedikit pun senyum yang kulihat, membuat nyaliku menciut. Tapi, aku harus bisa hari ini, karena jika bukan hari ini, kapan lagi? padahal beliau akan berangkat ke luar kota esok lusa, selama seminggu. Artinya, sangat kecil kemungkinan aku bisa seminar proposal bulan ini. Dan itu akan semakin menipiskan peluangku mengejar wisuda bulan April mendatang.

Bukannya aku tak mau membahas tentangmu hari ini, tapi sepertinya kamu adalah bagian yang berbeda hari ini. Bukan mengesampingkan, tapi laporan ini terlalu panjang jika harus bercerita tentangmu hari ini. Tentangmu, akan kukisahkan di bagian yang lain. 

Skip
Setelah acara yudisiummu yang kurang lebih berlangsung setengah jam aku menguatkan diri dan butuh sesendok keberanian untuk menghadap beliau. Aku gugup tanpa alasan yang jelas, keringat dinginku pun mulai mengucur tanpa bisa kubendung. Dan akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk di ruangan beliau. Itu pun setelah memenangkan konflik batin dengan diriku sendiri.

Ketika berada dalam ruangan yang mempunyai pendingin itu, aku tak sendiri. Ada 2 orang mahasiswa pasca sarjana yang sedang konsultasi tesisnya. Juga ada dua orang mahasiswa yang lebih muda dariku yang ingin meminta tanda tangan. Aku pun memperhatikan kondisi mahasiswa pasca sarjana itu saat konsultasi. Dan, angin sejuk pun menghampiriku. Pembimbing II-ku ini ternyata tak seperti yang kuperkirakan.Segala hipotesisku sebelum masuk ke ruangannya semuanya terbantahkan. Beliau begitu sabar dalam membimbing dan tampak bahagia. Ah, ada sedikit sesalku. Tapi, segera kutanggapi postif, memang sudah begini jalan yang seharusnya.

Aku mendapat giliran terakhir untuk konsultasi dan saat itu jarum jam sudah menunjukkan angka 6. Singkatnya, beliau berkata padaku begini, "Jika kamu memang yakin dan bisa melakukan penelitian ini, lakukan saja, segera daftar untuk seminar proposal. Konsultasi berikutnya bawa contoh apa yang ingin kamu buat kemudian kita diskusikan materinya". Sontak perkataannya itu membuatku speechless. Aku bisa seminar proosal bulan ini. Ucapku dalam hati. Sesudah itu aku pamit dan meninggalkan ruangan beliau dan masih merasa tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Asaku untuk bisa wisuda bulan April mendatang masih terjaga. Dan itu, untukmu dan kedua orang tuaku.

Terima kasih untuk hari ini.
#Tunggu aku di bulan April >> Wisuda.



0 komentar:

Posting Komentar

 
;