Selasa, 22 Januari 2013

Nyerah atau Realistis?

"nyerah sama realistis itu beda tipis". 
Kalimat di atas merupakan kutipan dari film "Perahu Kertas". Kalimat itu diucapkan oleh Keenan pada Kugy ketika ia memutuskan untuk berhenti melukis. Ia pergi dari rumah dan telah mengundurkan diri di kampusnya dimana ia kuliah ekonomi.

Mungkin tak sedikit orang yang berada di posisi seperti itu. Aku, juga pernah dan entah sekarang. Apa masih berada di posisi itu atau tidak. Terkadang, godaan untuk menyerah itu berbalut dengan realitas. Dan memaksa kita berpikir realistis. Ketika berada di titik itu, kita kadang mengesampingkan faktor "x" ataupun faktor Tuhan dan mulai larut dalam realitas yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Pengondisian diri lebih tepatnya. Menempatkan diri kita dalam kotak yang mengekang segala kemungkinan terbaik dari yang terburuk. Dan hasilnya bisa dipastikan, kita benar-benar menyerah.


Saat menonton film itu, kebiasaanku tetap kulakukan. Menganalisis jalan ceritanya dan mencoba menebak ending film itu. Aku tahu, film itu adaptasi dari novel "Perahu Kertas" tapi aku belum pernah membaca novelnya. Nah, ketika film itu akan berakhir, aku yakin tebakanku akan benar. Seperti nasib film-film lain yang pada akhirnya membenarkan tebakanku. Tapi, kali ini berbeda. Analisisku yang sudah hampir tepat nyatanya digagalkan oleh faktor lain yang tak kupertimbangkan. Hal ini kemudian mengajarkanku bahwa janganlah mendahului kehendak Tuhan. Jangan pernah menganggap sesuatu itu berakhir sebelum hal itu benar-benar berakhir. Terpenting adalah usaha. Soal hasil akhir, biar Tuhan yang menentukannya.

Pernah mendengar tentang konspirasi dengan alam semesta? Nah, konspirasi dengan alam semesta menurutku tak lain adalah pengondisian diri untuk tetap positif, tetap berharap yang terbaik dan usaha-usaha untuk mencapainya tanpa mengesampingkan Tuhan dan faktor "x". Ketika kita terus-terusan berpikir bahwa kita bisa, maka alam semesta akan mendukung kita untuk mewujudkannya sembari diiringi dengan usaha.
Menurutku disitulah beda antara menyerah dan realistis. Realistis boleh saja, tapi menyerah bukanlah pilihan bijak. Terus berjuang sampai titik akhir lah yang akan menentukan hasil yang dicapai. Dan apapun yang diperoleh tetap syukuri dan anggap itu adalah yang terbaik.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;