Setelah kemarin, hari ini aku melanjutkan lagi perjuanganku untuk menyelesaikan web yang kurancang sebagai pelengkap tugas akhirku. Sebagai awal, entah kenapa pagi tadi aku bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Dan, seolah menjadi rutinitas, seusai shalat subuh aku mengirimkan sms kepada seseorang yang cukup berarti untukku tanpa peduli aku berarti untuknya atau tidak. Seperti biasanya dia pun membalasnya dengan tertawa atau mungkin tersenyum saat membaca sms dariku. Tujuanku hanya satu, ingin membuatnya tertawa ataupun tersenyum di awal hari. Apalagi hari ini ia akan ujian skripsi/ujian akhir, tapi lebih sering kami menyebutnya ujian meja. Berbalas, ia pun menyemangatiku untuk segera menyelesaikan skripsiku meski sebenarnya ia adalah adik tingkatku atau satu tahun dibawahku. Tapi, lagi-lagi ini hanya masalah disiplin sehingga ia lebih dulu menyelesaikan studinya daripada aku. Well, tentangnya cukup sampai disini dulu, karena aku yakin, jika terus menceritakan dia maka tak akan ada habisnya.
Yah, hari ini aku ke kampus. Pagi. Bukan tanpa alasan, aku ke kampus karena sudah janji dengan seorang adik tingkatku untuk bertemu, karena ada tawaran kerjasama darinya. Selain itu, juga karena aku ingin melihat 'dia' yang kusebut di paragraf pertama tadi yang akan ujian akhir hari ini. Meski jadwal ujian akhirnya baru dimulai pukul 15.00 WITA. Tapi, tak ada masalah, sekalian aku bisa mengerjakan beberapa halaman materi yang akan ku-input ke dalam web ku malam ini. Kurasa, banyak waktu yang terbuang di kampus, waktuku menjadi kurang produktif ketika hanya kuhabiskan dengan duduk-duduk santai di depan jurusan tanpa ada hal lain yang bisa kulakukan sebagai langkah pendukung untuk segera menyelesaikan skripsiku mapun web yang sedang kurancang.
Ada enam pokok bahasan yang harus kumasukkan dalam web-ku yang jika di alokasikan waktunya, maka akan memakan waktu satu semester untuk mengajarkan materi-materi itu di sekolah. Tapi, itu bukan alasan untuk berlama-lama, malah seharusnya aku bersegera menyelesaikannya agar peluangku untuk wisuda bulan April nanti tetap terbuka. Apalagi aku ingin wisuda dengan 'dia'. Itu juga salah satu alasan, kenapa aku harus bisa wisuda bulan April nanti, disamping alasan-alasan teoritis lain tentunya.
Kampus ternyata tak terlalu baik sebagai tempat untuk menyelesaikan skripsi ataupun yang berhubungan dengan itu karena terlalu banyak orang yang bisa merusak konsentrasiku. Selain itu, aku mudah sekali tergoda untuk melakukan hal-hal lain yang tak berhubungan dengan skripsiku. Untuk hari ini, aku hanya bisa menyelesaikan beberapa materi untuk web-ku yang berarti masih banyak lagi yang harus kukerjakan. Untuk skripsi kulajutkan lagi malam hari ini, dan untuk cerita tentang skripsi kuakhiri dulu sampai disini.
(Ini diluar skripsi)
Aku percaya, jika kebahagiaan itu bisa berasal dari hal-hal yang sangat sederhana. Seperti hari ini, aku tak tahu bagaimana Tuhan mengatur semuanya. Ketika aku sudah lama menunggu 'dia' yang tak kunjung keluar dari ruang ujian meski ujiannya telah selesai, aku memutuskan untuk pulang saat jam sudah menunjukkan angka 5 lewat beberapa menit ditemani kondisi langit yang mulai berselimut mendung tebal pertanda hujan akan segera menjelang. Saat aku sudah berada di atas motor dan mulai beranjak dari tempat parkir, tak lama kemudian angin yang cukup kencang pun datang disertai hujan yang rintik namun mulai menderas. Seiring dengan angin yang semakin kencang, hujan pun menderas sejadi-jadinya. Aku berteduh di tempat parkir, namun juga bisa membuatku basah kuyup karena angin semakin kencang dan menyiutkan nyaliku untuk segera pulang. Dan akhirnya, hujan pun menggiringku kembali ke dalam kantor jurusan sambil menunggu hujan reda.
Seperti yang kukatakan sebelumnya. Kita tak akan pernah tahu rencana Tuhan. Sembari menunggu hujan reda, aku duduk di kursi yang ada di dekat pintu jurusan. Dan, tak berapa lama, 'dia' yang sedari tadi kutunggu pun tampak dihadapanku. Kembali, membuatku takjub akan pesonanya. Membuat jantungku bekerja ekstra memompa darah lebih cepat dari biasanya. Dan lagi, memaksaku untuk menarik nafas panjang. Tertegun, ketika ia berhenti di depanku dan berucap "Kak, nda mauki' kasihka selamat?" yang jika di artikan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti ini "Kak, tidakkah kau ingin memberiku ucapan selamat?". Tentunya, ia mengucapkannya sambil tersenyum. Senyumnya yang hangat, khas, dan selalu kurindukan. Dan aku hanya menjawab "Inimi na kutungguki', mauja kasihki ucapan selamat" ("ini, aku menunggumu, aku ingin mengucapkan selamat padamu") seraya menjabat tangannya. Lembut. Hangat. Menyempurnakan hariku. Dan hatiku pun berucap "tunggu aku di bulan April".
#Today is mine. Perfect. ^^

0 komentar:
Posting Komentar