Hari ini, mungkin waktu belum memihak pada Adit untuk mengungkap apa yang ia rasakan pada Dini. Tapi, ia selalu percaya bahwa akan ada saat yang tepat untuk mengatakannya pada Dini. Entah itu esok, besok, minggu depan, bulan depan. Karena tak pernah ada yang bisa menebak apa yang terjadi setelah hari ini. Karena itu memang masih menjadi rahasia Tuhan. Apakah nanti setelah ia mengatakannya itu sudah terlambat atau tidak. Yah, karena sekali lagi, tak pernah ada yang tahu tentang apa yang masih menjadi rahasia Tuhan.
Sepanjang perjalanan pulang dari tempat tadi mereka hanya diam. Sesekali Adit menoleh ke kiri dan kanan jalan untuk mencari sebuah mesjid karena ia hendak sholat maghrib. Beberapa saat kemudian akhirnya ia menemukan sebuah mesjid dan kemudian berhenti disana.
"Din... tunggu disini bentar ya... aku sholat maghrib dulu," kata Adit dan kemudian berlalu meninggalkan Dini di halaman mesjid tempat ia memarkir motornya. Ia tak perlu menunggu Dini mengiyakan apa yang ia katakan. Karena itu sudah tersirat dari senyuman perempuan berkacamata itu.
Dini… sebenarnya… aku mengajakmu kesini bukan
tanpa alasan. Aku ingin membicarakan sesuatu hal padamu. Ini penting bagiku,
entah menurutmu. Kalaupun menurutmu tak penting. Maka lupakan sajalah apa yang
aku katakan. Din…, entah kapan aku merasa seperti ini. Hidupku seolah ada yang
berubak sejak mengenalmu. Ya, di malam tahun baru itu. Sejak pertama kali kita
bertemu, hujan-hujanan… aku bahagia Din, apalagi sekarang kamu ada di
sampingku. Din…, aku tak tahu harus menyebut apa tentang rasa yang kumiliki
terhadapmu. Aku merasakannya beberapa minggu terakhir. Din, aku sayang padamu.
Entah, harus kusebut apa, inikah yang orang berani menyebutnya cinta? Atau
mungkin hanya sebatas rasa suka atau mungkin juga hanya kagum? Aku bingung
harus menyebutnya apa Din…
Oke, aku harus bisa mengatakan seperti itu pada Dini. Detak jantung Adit semakin tak beraturan. Sesekali ia menghela nafas panjang. Menatap jauh ke horison. Mencoba menenangkan perasaannya sebelum mengatakan itu semua pada Dini.
Oke, aku harus bisa mengatakan seperti itu pada Dini. Detak jantung Adit semakin tak beraturan. Sesekali ia menghela nafas panjang. Menatap jauh ke horison. Mencoba menenangkan perasaannya sebelum mengatakan itu semua pada Dini.
Setelah mengalami pergolakan batin yang cukup lama, akhirnya
ia memberanikan diri untuk menelpon Dini.
“Haloo... Dini? Hari ini sibuk gak?”
tanya Adit sembari mencoba menahan agar jantungnya tak berdegup kencang.
“Kenapa Dit? Gak sibuk kok, ada yang bisa
saya bantu?” tanya Dini.
“Mmm… bentar sore jalan yok…”
“Kemana?”
“Ah, nanti tau sendiri… pokoknya ikut
sajalah”
“Oke… jemput di rumah aja ya bentar sore…”
“Siaaapp bosss…!!” jawab Adit sambil
tertawa.
Adit
menarik napas panjang. Lega, tentu saja. Ia akhirnya bisa mengajak Dini untuk
keluar sore nanti. Ke tempat favoritnya menikmati penghujung hari.
***
Sehabis
sholat Ashar, Adit kemudian menuju rumah Dini. Jaraknya tak jauh, hanya butuh
waktu kurang lebih 15-20 menit. Itu sudah masuk hitungan padatnya kendaraan
karena jam pulang kantor. Di perjalanan yang terbayang hanya wajah Dini, meski
tak sampai membuatnya gagal fokus dalam berkendara.
“Haloo…
Din, aku sudah di depan nih”, Adit menelepon Dini sesampainya di depan rumah
Dini. Ia tak langsung masuk karena pintu pagarnya terkunci.
“Ooh… iya,
wait a minute ya Dit…”, sahut Dini.
Tak lama
kemudian Dini pun keluar dari rumahnya. Dengan kaos berwarna putih dan jins.
Lengkap dengan kacamata dan rambutnya yang ia biarkan terurai sampai punggung.
Berhasil membuat Adit terpaku dalam detik yang seolah melambat.
Tiga bulan telah berlalu sejak perkenalan mereka. Komunikasi
keduanya pun cukup intens. Sering jalan berdua. Meski begitu, Adit masih
seringkali tersenyum sendiri di kamarnya ketika mengingat awal pertemuannya
dengan Dini. Perempuan berkacamata, berwajah oriental dengan rambut terurai
sampai punggung yang terjebak di bawah hujan bersamanya saat malam pergantian
tahun. Sepertinya ada rasa yang berbeda dirasakan Adit ketika bersama Dini.
Yah, tiga bulan terakhir hari-harinya memang dipenuhi oleh Dini, smsnya,
telponnya, curhatnya, dan masih banyak lagi. Entahlah, tapi dia tak mau
terburu-buru mengartikan apa yang dia rasa. Yang dia tahu, dia merasa bahagia
jika ada Dini di dekatnya. Bahkan jika sehari saja tak ada kabar dari Dini, dia
mulai panik dan berpikiran yang tidak-tidak. Rasa khawatirnya memang terkadang
berlebihan, apalagi pada orang yang dia sayangi. Yah, dia memang menyayangi
Dini, tapi ia tak mau menyebut itu cinta. Baginya, terdapat perbedaan mendasar
antara cinta dan sayang, begitu juga dengan sebuah kata suka.
Adit
telah begitu terbiasa dengan keberadaan Dini, hingga ia lupa akan hari dimana
dia belum mengenal Dini. Dini selalu mampu mencipta jejak di hatinya dengan
segala tingkahnya yang kadang konyol, dengan gelak tawanya dan tentu saja
senyumnya. Adit memang suka melihat Dini tersenyum kemudian menatap jauh ke
dalam matanya menembus lensa yang menutupi mata indahnya. Manis sekali. Dan
sekali lagi mereka terlibat percakapan dalam diam.
“Sudahlah, kita memang tak pernah
ada. Ya, antara kita berdua memang tak pernah ada apa-apa kan?” ucap Adit pada
perempuan di sampingnya yang masih tersedu.
“Iya, tapi kan kita sudah lama
jalan bersama. Apa memang kamu tak menganggapku apa-apa?” tanya perempuan itu
dengan wajah yang sembap.
***
Namanya Dini, perempuan yang
dikenal Adit secara tak sengaja dipenghujung tahun lalu. Saat momen pergantian
tahun di Pantai Losari. Salah satu tempat teramai di kota Makassar pada saat
malam pergantian tahun. Mereka bertemu ketika hujan menderas beberapa saat
setelah detik, menit, jam, tanggal, bulan dan tahun tak lagi menunjukkan angka
yang sama. Mereka tak sengaja bertemu ketika sama-sama mencari tempat untuk
berteduh. Di keramaian orang yang berlarian, di bawah hujan yang menderas
mereka bertemu, tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut keduanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact