Selasa, 14 Januari 2014

Sebenarnya...

Setelah mengalami pergolakan batin yang cukup lama, akhirnya ia memberanikan diri untuk menelpon Dini.
       “Haloo... Dini? Hari ini sibuk gak?” tanya Adit sembari mencoba menahan agar jantungnya tak berdegup kencang.
       “Kenapa Dit? Gak sibuk kok, ada yang bisa saya bantu?” tanya Dini.
       “Mmm… bentar sore jalan yok…”
       “Kemana?”
       “Ah, nanti tau sendiri… pokoknya ikut sajalah”
       “Oke… jemput di rumah aja ya bentar sore…”
       “Siaaapp bosss…!!” jawab Adit sambil tertawa.

Adit menarik napas panjang. Lega, tentu saja. Ia akhirnya bisa mengajak Dini untuk keluar sore nanti. Ke tempat favoritnya menikmati penghujung hari.
***
Sehabis sholat Ashar, Adit kemudian menuju rumah Dini. Jaraknya tak jauh, hanya butuh waktu kurang lebih 15-20 menit. Itu sudah masuk hitungan padatnya kendaraan karena jam pulang kantor. Di perjalanan yang terbayang hanya wajah Dini, meski tak sampai membuatnya gagal fokus dalam berkendara.

“Haloo… Din, aku sudah di depan nih”, Adit menelepon Dini sesampainya di depan rumah Dini. Ia tak langsung masuk karena pintu pagarnya terkunci.

“Ooh… iya, wait a minute ya Dit…”, sahut Dini.

Tak lama kemudian Dini pun keluar dari rumahnya. Dengan kaos berwarna putih dan jins. Lengkap dengan kacamata dan rambutnya yang ia biarkan terurai sampai punggung. Berhasil membuat Adit terpaku dalam detik yang seolah melambat.



“Heii… jadi, mau kemana kita?”, tanya Dini sambil tersenyum.
“Ada lah… pokoknya ikut saja…” jawab Adit singkat seraya menyodorkan helm pada Dini.

Mereka kemudian berangkat ke suatu tempat. Tempat yang disukai Adit namun masih menjadi misteri bagi Dini. Di atas roda dua itu mereka berbincang ringan, mulai dari mengkritik kemacetan, parkir liar, dan masih banyak lagi yang mereka lalui selama perjalanan. Butuh waktu sekitar 30 menit lebih hingga sampai di tempat yang dituju. Pasir. Desir angin. Debur ombak. Yah, pantai. Disitulah mereka tiba.

Sepertinya tempat yang sempurna bagi Adit untuk berbicara tentang apa yang dia rasakan. Sempurna karena orang yang bersamanya adalah Dini. Sempurna karena adanya langit senja. Sempurna dengan horisonnya. Perempuan berkacamata itu sepertinya betul-betul mampu menyihir Adit. Sesempurna itu dimatanya.

“Pantai?”, tanya Dini seraya mengernyitkan alisnya.
“Yap”
“Kenapa pantai?”

Adit hanya tersenyum dan kemudian berjalan mendekati Tugu Layar yang ada di tepi pantai itu. Dini mengikutinya, mungkin dengan segala tanya yang ada dipikirannya. Adit kemudian duduk di dekat Tugu Layar itu menghadap ke horison. Menanti matahari yang tak lama lagi akan tampak menyentuh garis horisontal yang mempertemukan langit dan laut.

“Din… duduk sini…”, kata Adit meminta Dini untuk duduk di sampingnya.

Dini tanpa tanya lagi akhirnya duduk di samping Adit. Juga menghadap horison. Menikmati belaian lembut angin senja. Merdunya debur ombak yang menjadi nyanyian alam. Cukup menenangkannya.

“Din…”, sapa Adit dengan lembut. Dini hanya menoleh padanya, tanpa jawab di bibirnya. Dan kemudian tersenyum.
                
Dini… sebenarnya…


bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar

 
;