Setelah mengalami pergolakan batin yang cukup lama, akhirnya
ia memberanikan diri untuk menelpon Dini.
“Haloo... Dini? Hari ini sibuk gak?”
tanya Adit sembari mencoba menahan agar jantungnya tak berdegup kencang.
“Kenapa Dit? Gak sibuk kok, ada yang bisa
saya bantu?” tanya Dini.
“Mmm… bentar sore jalan yok…”
“Kemana?”
“Ah, nanti tau sendiri… pokoknya ikut
sajalah”
“Oke… jemput di rumah aja ya bentar sore…”
“Siaaapp bosss…!!” jawab Adit sambil
tertawa.
Adit
menarik napas panjang. Lega, tentu saja. Ia akhirnya bisa mengajak Dini untuk
keluar sore nanti. Ke tempat favoritnya menikmati penghujung hari.
***
Sehabis
sholat Ashar, Adit kemudian menuju rumah Dini. Jaraknya tak jauh, hanya butuh
waktu kurang lebih 15-20 menit. Itu sudah masuk hitungan padatnya kendaraan
karena jam pulang kantor. Di perjalanan yang terbayang hanya wajah Dini, meski
tak sampai membuatnya gagal fokus dalam berkendara.
“Haloo…
Din, aku sudah di depan nih”, Adit menelepon Dini sesampainya di depan rumah
Dini. Ia tak langsung masuk karena pintu pagarnya terkunci.
“Ooh… iya,
wait a minute ya Dit…”, sahut Dini.
Tak lama
kemudian Dini pun keluar dari rumahnya. Dengan kaos berwarna putih dan jins.
Lengkap dengan kacamata dan rambutnya yang ia biarkan terurai sampai punggung.
Berhasil membuat Adit terpaku dalam detik yang seolah melambat.
“Heii…
jadi, mau kemana kita?”, tanya Dini sambil tersenyum.
“Ada
lah… pokoknya ikut saja…” jawab Adit singkat seraya menyodorkan helm pada Dini.
Mereka
kemudian berangkat ke suatu tempat. Tempat yang disukai Adit namun masih
menjadi misteri bagi Dini. Di atas roda dua itu mereka berbincang ringan, mulai
dari mengkritik kemacetan, parkir liar, dan masih banyak lagi yang mereka lalui
selama perjalanan. Butuh waktu sekitar 30 menit lebih hingga sampai di tempat
yang dituju. Pasir. Desir angin. Debur ombak. Yah, pantai. Disitulah mereka
tiba.
Sepertinya
tempat yang sempurna bagi Adit untuk berbicara tentang apa yang dia rasakan. Sempurna
karena orang yang bersamanya adalah Dini. Sempurna karena adanya langit senja.
Sempurna dengan horisonnya. Perempuan berkacamata itu sepertinya betul-betul
mampu menyihir Adit. Sesempurna itu dimatanya.
“Pantai?”,
tanya Dini seraya mengernyitkan alisnya.
“Yap”
“Kenapa
pantai?”
Adit hanya
tersenyum dan kemudian berjalan mendekati Tugu Layar yang ada di tepi pantai
itu. Dini mengikutinya, mungkin dengan segala tanya yang ada dipikirannya. Adit
kemudian duduk di dekat Tugu Layar itu menghadap ke horison. Menanti matahari
yang tak lama lagi akan tampak menyentuh garis horisontal yang mempertemukan
langit dan laut.
“Din…
duduk sini…”, kata Adit meminta Dini untuk duduk di sampingnya.
Dini
tanpa tanya lagi akhirnya duduk di samping Adit. Juga menghadap horison.
Menikmati belaian lembut angin senja. Merdunya debur ombak yang menjadi
nyanyian alam. Cukup menenangkannya.
“Din…”,
sapa Adit dengan lembut. Dini hanya menoleh padanya, tanpa jawab di bibirnya.
Dan kemudian tersenyum.
Dini… sebenarnya…
bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar