Kamis, 16 Januari 2014

Dia Sempurna

Dini… sebenarnya… aku mengajakmu kesini bukan tanpa alasan. Aku ingin membicarakan sesuatu hal padamu. Ini penting bagiku, entah menurutmu. Kalaupun menurutmu tak penting. Maka lupakan sajalah apa yang aku katakan. Din…, entah kapan aku merasa seperti ini. Hidupku seolah ada yang berubak sejak mengenalmu. Ya, di malam tahun baru itu. Sejak pertama kali kita bertemu, hujan-hujanan… aku bahagia Din, apalagi sekarang kamu ada di sampingku. Din…, aku tak tahu harus menyebut apa tentang rasa yang kumiliki terhadapmu. Aku merasakannya beberapa minggu terakhir. Din, aku sayang padamu. Entah, harus kusebut apa, inikah yang orang berani menyebutnya cinta? Atau mungkin hanya sebatas rasa suka atau mungkin juga hanya kagum? Aku bingung harus menyebutnya apa Din…

Oke, aku harus bisa mengatakan seperti itu pada Dini. Detak jantung Adit semakin tak beraturan. Sesekali ia menghela nafas panjang. Menatap jauh ke horison. Mencoba menenangkan perasaannya sebelum mengatakan itu semua pada Dini.


"Dini..."
"Ya..." sahut Dini seraya tersenyum.
"Sunset-nya bagus ya" kata Adit. Dini hanya mengangguk pelan. Tersenyum kecil sambil sesekali menghela nafas panjang. Dini menikmati desir angin pantai yang menerpa wajahnya. Sedangkan Adit hanya memandanginya. Memandangi wajah Dini yang teduh diterpa cahaya matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Adit hanya terdiam. Tuhan, dia sempurna.

"Dit, kamu sering kesini ya?"
"Mmm... kalo dibilang sering, gak juga sih. Tapi, ya kadang-kadang kesini. Kalo lagi suntuk, lagi bosan. Yah, sekedar menikmati senja disini."
"Ohh..., buang galau disini ya?" tanya Dini seraya melirik pada Adit.
"Hmm.... mungkin juga, hahaha... tapi gak harus nunggu galau kok baru kesini lagi."
"Haha... iya juga sih" kata Dini sambil tersenyum kecil dan kemudian mengalihkan lagi pandangnya ke tempat matahari segera terbenam.

Tak banyak percakapan pada saat itu. Sepertinya diam merupakan percakapan terindah bagi keduanya. Menikmati saat-saat siang yang menyambut malam. Menikmati saat-saat dimana bulan segera menggantikan matahari memberikan cahaya pada malam. 

Mata Adit masih lekat memandangi Dini. Menikmati setiap detik berada di samping perempuan yang mampu membuatnya terdiam. Perempuan berkacamata itu. Perempuan yang setiap hari mengisi pikirannya. Bahkan, mungkin juga telah mengisi seluruh ruang di hatinya. Perempuan itu, perempuan yang dikenalnya dibawah hujan beberapa bulan yang lalu.

Sepertinya menit berlalu begitu cepat. Hingga matahari benar-benar terbenam dan hanya menyisakan senja yang memerah. Adit belum mengatakan tentang apa yang ia rasakan pada Dini. Rasa yang semakin hari semakin nyata. Rasa tak ingin kehilangan akan sosok perempuan berkacamata itu. Adit ingin mengatakannya sebelum hari benar-benar gelap dan mereka harus meninggalkan tempat itu.

Aku harus mengatakannya. Aku harus. Harus bisa. Kesempatan seperti ini tak akan selalu datang dua kali. Apa susahnya mengatakan itu pada Dini, lagipula dia juga akan mengerti kok. Adit berusaha mengendalikan perasaannya. Baiklah, katakan sekarang.

"Adit..." tiba-tiba Dini menyebut namanya. Membuyarkan segala apa yang ada dipikirannya.
"Eh... iya, knapa Din?"
"Pulang yok... sudah mulai gelap ini" kata Dini.
"Ohh... iya... ya... yok. Takutnya saya juga gak dapet waktu magrib". Adit mengiyakan untuk segera beranjak dari tempat itu. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;