“Sudahlah, kita memang tak pernah
ada. Ya, antara kita berdua memang tak pernah ada apa-apa kan?” ucap Adit pada
perempuan di sampingnya yang masih tersedu.
“Iya, tapi kan kita sudah lama
jalan bersama. Apa memang kamu tak menganggapku apa-apa?” tanya perempuan itu
dengan wajah yang sembap.
***
Namanya Dini, perempuan yang
dikenal Adit secara tak sengaja dipenghujung tahun lalu. Saat momen pergantian
tahun di Pantai Losari. Salah satu tempat teramai di kota Makassar pada saat
malam pergantian tahun. Mereka bertemu ketika hujan menderas beberapa saat
setelah detik, menit, jam, tanggal, bulan dan tahun tak lagi menunjukkan angka
yang sama. Mereka tak sengaja bertemu ketika sama-sama mencari tempat untuk
berteduh. Di keramaian orang yang berlarian, di bawah hujan yang menderas
mereka bertemu, tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut keduanya.
Sepertinya takdir Tuhanlah yang
mempertemukan mereka malam itu. Karena tak ada tempat berteduh yang mereka
dapatkan. Akhirnya mereka mencoba menikmati hujan dimalam yang cukup dingin itu
sambil melihat sisa-sisa kembang api yang masih mencoba menerobos hujan. Dan
mereka masih saja terlibat percakapan dalam diam.
“Kenalkan, saya Adit, nama kamu
siapa?”, tanya Adit memulai percakapan.
“Dini”, jawab perempuan itu singkat.
“Ooh… Dini? Nama lengkap? Dini
hari?”, tanya Adit mulai mengoceh. Mencoba membuat suasana lebih akrab dibawah
hujan yang mulai reda.
“Bukan, namaku Andini”, jawab
perempuan berwajah oriental dan berkacamata itu dengan sedikit tersenyum.
“Sendiri?”, tanya Adit.
“Tidak”, jawab Dini sambil
menggeleng.
“Trus? Sama siapa?”, tanya Adit
lagi sambil melihat-lihat sekelilingnya.
“Sama kamu, dan itu juga banyak
orang”, jawab Dini sambil menunjuk orang-orang yang ada di sekitar mereka yang
juga kebasahan.
“Hahaha… bisa iseng juga ya
ternyata…”, kata Adit sambil tertawa.
Suasana malam itu menjadi lebih
hangat meski telah diguyur hujan. Mereka berdua pun berbincang hangat seolah
orang yang sudah lama kenal. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa mereka sadari
bahwa sudah sejam ternyata mereka berdua berada di tahun yang baru. Yah, waktu
telah menunjukkan pukul 01.10 dan angin malam mulai menusuk-nusuk apalagi
dengan pakaian yang basah.
“Dini, rumahnya dimana? Belum mau
pulang?” tanya Adit.
“Saya tinggal di PK 7, kalo kamu
Dit?”
“Saya di Pettarani, kamu
pulangnya naik apa?”
“Naik angkot lah, kamu?”
“Naik angkot juga, males bawa
motor. Taulah gimana macetnya Makassar kalo malam tahun baru gini…” jawab Adit.
“Ohh… kalo begitu barengan aja
pulangnya, sudah mau pulang kan? Atau masih mau tinggal disini?” tanya Dini.
“Sudah, pulang sajalah… ntar saya
turunnya setelah flyover saja” jawab Adit.
“Okelah”
“Eh, Din… boleh minta nomer
hapenya gak?”
“Boleh kok…” jawab Dini
tersenyum.
bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar