Sepanjang perjalanan pulang dari tempat tadi mereka hanya diam. Sesekali Adit menoleh ke kiri dan kanan jalan untuk mencari sebuah mesjid karena ia hendak sholat maghrib. Beberapa saat kemudian akhirnya ia menemukan sebuah mesjid dan kemudian berhenti disana.
"Din... tunggu disini bentar ya... aku sholat maghrib dulu," kata Adit dan kemudian berlalu meninggalkan Dini di halaman mesjid tempat ia memarkir motornya. Ia tak perlu menunggu Dini mengiyakan apa yang ia katakan. Karena itu sudah tersirat dari senyuman perempuan berkacamata itu.
*****
Dini hanya tersenyum di halaman mesjid sembari pandangannya terus mengikuti Adit yang kemudian masuk ke dalam mesjid. Ia kemudian menatap langit yang menampakkan bintang, memang terasa berbeda ketika di tengah kota dimana bintang tak tampak karena terlalu banyaknya cahaya lampu. Dini menikmati harinya meski merasa ada yang sesuatu yang berbeda dengan Adit hari ini. Mungkin ia terlalu peka akan adanya perubahan di sekitarnya atau orang-orang yang dekat dengannya. Meski perubahan itu hanya sedikit.
Adit... entah apa yang harus kuucap. Aku bahagia hari ini, terima kasih untuk senja yang kau kenalkan padaku. Dit, seandainya kau tahu ada rasa berbeda yang kurasa hari ini. Kurasa ada yang berbeda denganmu, apa yang ingin kau katakan? mungkinkah ini rasa yang sama? Ah, sudahlah... aku tak ingin berandai akan hadirnya sebuah rasa. Biar saja waktu yang menjawab semuanya. Adit, aku merasa bahagia ketika berada di sampingmu. Aku bisa merasa lebih tenang. Entah.
Dan kemudian semuanya hanya tinggal menunggu waktu. Entah kapan saat yang tepat itu. Mereka lebih menikmati diam dalam kebersamaan mereka. Adit yang lebih memilih diam karena ia begitu nyaman di samping Dini, dan Dini yang lebih memilih menunggu karena ia merasa bahagia di samping Adit. Yah, masih rahasia Tuhan lah akan apa yang terjadi esok maupun di detik setelahnya.
"Sudah sholatnya?" tanya Dini pada Adit yang terlihat datang menghampirinya. Dan hanya disambut anggukan dari Adit. Dia tersenyum, entah kenapa. Dia hanya merasa laki-laki yang sekarang di depannya nampak berbeda. Ada aura berbeda yang dia rasakan pada Adit, laki-laki yang ia temani sejak sore tadi. Dini merasa ingin mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin sebuah tanya lebih tepatnya, kenapa Adit mengajaknya sore tadi untuk menemaninya.
"Mm... Dit..."
"Yaa... kenapa Din?"
"Pelan-pelan saja ya bawa motornya..."
*bersambung...
Adit... entah apa yang harus kuucap. Aku bahagia hari ini, terima kasih untuk senja yang kau kenalkan padaku. Dit, seandainya kau tahu ada rasa berbeda yang kurasa hari ini. Kurasa ada yang berbeda denganmu, apa yang ingin kau katakan? mungkinkah ini rasa yang sama? Ah, sudahlah... aku tak ingin berandai akan hadirnya sebuah rasa. Biar saja waktu yang menjawab semuanya. Adit, aku merasa bahagia ketika berada di sampingmu. Aku bisa merasa lebih tenang. Entah.
Dan kemudian semuanya hanya tinggal menunggu waktu. Entah kapan saat yang tepat itu. Mereka lebih menikmati diam dalam kebersamaan mereka. Adit yang lebih memilih diam karena ia begitu nyaman di samping Dini, dan Dini yang lebih memilih menunggu karena ia merasa bahagia di samping Adit. Yah, masih rahasia Tuhan lah akan apa yang terjadi esok maupun di detik setelahnya.
"Sudah sholatnya?" tanya Dini pada Adit yang terlihat datang menghampirinya. Dan hanya disambut anggukan dari Adit. Dia tersenyum, entah kenapa. Dia hanya merasa laki-laki yang sekarang di depannya nampak berbeda. Ada aura berbeda yang dia rasakan pada Adit, laki-laki yang ia temani sejak sore tadi. Dini merasa ingin mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin sebuah tanya lebih tepatnya, kenapa Adit mengajaknya sore tadi untuk menemaninya.
"Mm... Dit..."
"Yaa... kenapa Din?"
"Pelan-pelan saja ya bawa motornya..."
*bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar