"Dit... hujan...", kata Dini memecah diam yang sedari tadi menemani mereka.
"Iya... semoga gak deras ya Din, kamu pegangan ya..." kata Adit yang mulai menambah kecepatan motornya.
"Hati-hati ya Dit..."
Hujan seolah tahu, kapan harus membuat mereka berhenti. Mungkin memberi kesempatan pada mereka untuk mengatakan apa yang ada dalam hati mereka masing-masing yang sedari tadi tertahan. Beberapa menit kemudian rintik hujan yang tadinya kecil perlahan menjadi butiran-butiran yang lebih besar. Menderas.
"Dini, hujannya tambah deras ini, kita berteduh saja dulu ya...". Adit pun kemudian mencari tempat yang bisa mereka singgahi agar tak kehujanan. Mereka pun akhirnya berhenti di sebuah bengkel yang sudah tutup yang bisa mereka singgahi untuk berteduh. Hujan pun semakin deras, tak tanggung-tanggung. Udara pun semakin dingin menusuk. Dan entah kenapa mereka lagi-lagi terjebak dalam diam yang menambah dingin suasana. Meski sesekali mereka saling melirik satu sama lain dan kemudian tersenyum, atau terkadang mereka saling menertawai. Entah apa arti tawa itu.
*****
Hujan, terima kasih untuk malam ini. Kau menambah jejak waktuku berada di dekatnya. Di samping perempuan berkacamata ini, yang sudah menempati hampir seluruh ruang hatiku. Hujan, apa maumu? Apa kau ingin aku mengungkapkan saja padanya? hingga kau menumpahkan derasmu pada kami agar kami berhenti? Ataukah hanya ingin aku mengukir kenangan dengannya dalam pelukan dinginmu? Inikah yang semesta inginkan? Ah, maaf jika tanyaku terlalu banyak. Hanya saja aku masih belum mengerti akan apa yang sedang diputarkan oleh roda waktu padaku.
Dini, aku tak tahu perasaan aneh macam apa ini. Mungkin hujan sedang menertawaiku atas kebisuanku di dekatmu. Lelaki macam apa aku ini? bahkan untuk apa yang aku rasakan denganmu tak mampu kuucap. Bibir ini terlalu beku, lidahku pun kelu. Hanya membiarkan waktu berlalu begitu saja. Ah, Dini... apa harus kukatakan semuanya, tak mampukah kamu membaca dari gerikku? Kupikir semua perempuan itu peka atas apa yang terjadi di sekitarnya, apa kamu tak begitu peka? ataukah sengaja mendiamkanku agar aku mengatakannya padamu? Apakah setiap rasa itu harus diungkapkan? Aku memang tak begitu mampu membaca arti dari gerikmu. Apa kamu juga punya rasa yang sama padaku? Dini, hujan, dan semesta... sekali lagi maaf jika tanyaku terlalu banyak.
'Dini..."
"iya..."
"Mmm... anuu.. itu.. apa ya.." Adit mulai lagi terjebak dalam waktu yang mungkin tak seharusnya ada.
"Kenapa Dit?" tanya Dini melihat tingkah aneh laki-laki yang ada di sampingnya itu, yang mulai lagi mengucapkan kata-kata tak jelas. "Adit... ada apa?" tanya Dini sekali lagi sambil mengernyitkan dahinya.
"Ah.. itu... sepertinya hujan tambah deras, kayaknya masih lama berhentinya. Gimana kalo kita pulang sekarang saja?"
"Tapi kan... hujannya deras... mau hujan-hujanan?" tanya Dini memastikan.
"Gak, aku ada jas hujan, kamu pake aja biar gak terlalu basah. Aku kan pake jaket, lagian suka kok hujan-hujanan." kata Adit sambil tertawa.
"Serius?"
"Iya..., gimana? mau?"
"Mmm.. baiklah... tapi beneran kamu gak apa-apa kalo gak pake jas hujan? Nanti sakit loh..."
Selama ada kamu di sampingku, aku akan baik-baik saja kok Din...
"Iya, gak apa-apa... gak usah khawatir gitulah..."
"Ya sudah... kita berangkat, tapi hati-hati loh ya... jangan balap-balap..."
"Oke, siap..."
Mereka pun akhirnya berangkat dibawah guyuran hujan yang dingin. Hujan yang kedua kalinya menyertai mereka. Entah apa maksud semesta dengan hujannya.
*****
Adit... apa boleh aku memelukmu? Aku tahu kamu pasti kedinginan. Hujan ini kembali mengingatkanku saat kita pertama kali bertemu dulu. Apa kamu ingat? Semoga saja. Ternyata waktu bergulir tak terasa ya...
Adit... aku ingin kamu tahu, jika...
*bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar