Wajah Dio memerah, sangat tampak kemarahan di wajahnya. Namun ia masih menahannya. Perasaannya campur aduk. Ia masih begitu menyayangi Ditha. Di satu sisi, ego masih begitu menguasainya.
"Sudahlah, aku hanya ingin minta maaf. Aku tahu aku salah. Ini tak semestinya terjadi," kata Dio.
"Iya... tapi... ahhh, kamu memang tak pernah berubah. Masih saja seperti itu," ucap Ditha dengan suara yang bergetar. Ia menangis, tersedu. Memang sulit untuk mengerti laki-laki seperti Dio, apalagi membuatnya mengerti. Laki-laki pencemburu itu.
"Berubah? berubah seperti apa? Kemarin aku melihatmu jalan dengan Kai, temanku sendiri. Untuk apa? Kamu kemana? Apa aku tak selalu ada untukmu? Apa itu tak cukup?" kata Dio mencecarnya. Kemarahannya meledak.
"Tapi, apa harus marah-marah begini? Kenapa kamu tak bisa berubah? Sifat cemburumu itu berlebihan, aku tak ada apa-apa dengan Kai. Kupikir kamu telah mengerti tentangku. Ternyata aku salah, aku salah menganggapmu sebagai orang yang terbaik untuk mendampingiku," kata Ditha sambil terisak. Air matanya sudah tak dapat ia tahan lagi. Jatuh dan mengalir deras di pipinya. Sedang Dio masih saja membatu. Menatap jauh pada horison dan matahri yang sebentar lagi akan terbenam.
"Dit, ditha... kamu tahu aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Cemburuku karena aku hanya sangat takut kehilanganmu," kata Dio dengan nada yang mulai merendah. Ia tak pernah bisa melihat perempuan menangis. Apalagi perempuan yang sangat ia sayangi.
"Sudah, Dit... maafkan aku, aku akan berubah. Aku akan berusaha untuk tak menjadi pencemburu lagi."
"Dio, maafkan aku juga, aku kemarin tak memberi tahumu waktu aku jalan dengan Kai hanya karena ini," kata Ditha seraya menyodorkan sebuah syal berwarna biru hitam pada Dio. "Selamat ulang tahun, Dio."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar