Adit... apa boleh aku memelukmu? Aku tahu kamu pasti kedinginan. Hujan ini kembali mengingatkanku saat kita pertama kali bertemu dulu. Apa kamu ingat? Semoga saja. Ternyata waktu bergulir tak terasa ya...
Adit... aku ingin kamu tahu, jika aku tak akan pernah melupakan malam itu, malam dimana pertama kali kita bertemu di bawah hujan di malam pergantian tahun. Bagiku, itu akan kutulis dalam kisah tentang perjalanan hidupku. Asal kamu tahu, sekarang pun ada rasa yang berbeda kurasakan terhadapmu. Entah kenapa aku selalu ingin ada untukmu, kapan pun itu. Apa kamu merasakannya? Semoga.
Malam semakin dingin meski matahari baru saja terbenam tiga jam yang lalu. Tapi, entah kenapa ada kehangatan tak terperi yang terbawa oleh hujan. Dan seperti itulah yang dirasakan Adit dan Dini dibawah guyuran hujan yang kedua kalinya bagi mereka. Hujan yang selalu meninggalkan cerita, merekam jejak, dan mencipta kenangan.
Hujan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan usai ketika mereka hampir tiba di rumah Dini. Hujannya awet meski tanpa tanpa bahan pengawet sekalipun. Hujannya setia menumpahkan air pada mereka yang mungkin memiliki rasa yang sama. Rasa yang sangat sulit terungkap, meski bagi sebagian orang itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tapi selalu, Adit itu pengecualian. Tak selalu sama dengan kebanyakan orang. Dia unik. Mungkin juga aneh.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Dini. Dini kemudian turun dari motor dan bergegas membuka pagar rumahnya.
"Adit, ayo masuk dulu. Hujannya masih deras itu..." kata Dini pada Adit yang masih berada di atas motornya. Jelas Adit tampak menggigil menahan dingin. Basah kuyup oleh hujan yang ia nikmati.
"Gak usah Din, lagian ini sudah jam berapa... aku juga mau langsung balik kok"
"Masuk dulu lah, bentar aja, aku bikinin teh hangat, kamu pasti kedinginan kan?" ujar Dini membujuk.
"Masih tahan kok dengan dingin yang begini, gak enak kalo aku masuk jam segini, apa kata orang nanti".
"Hmm... baiklah, tapi ini jas hujannya gimana?" tanya Dini seraya mulai melepaskan jas hujan Adit yang ia kenakan.
"Simpan dulu lah, besok pagi saja aku ambil, lagian besok kan libur. Sekalian teh hangatnya besok pagi saja... hahaha..." jawab Adit sambil tertawa.
"Serius gak mau pake jas hujan?" tanya Dini memastikan.
"Iya, lagian ini kan juga sudah basah."
"Okelah, hati-hati di jalan... jangan lupa kabarin kalo sudah nyampe rumah."
"Oke, siap bos..." kata Adit sambil tersenyum. "Ya sudah, aku balik dulu yah..." kata Adit dan kemudian berlalu pergi di tengah hujan yang masih setia menemaninya.
Malam semakin dingin meski matahari baru saja terbenam tiga jam yang lalu. Tapi, entah kenapa ada kehangatan tak terperi yang terbawa oleh hujan. Dan seperti itulah yang dirasakan Adit dan Dini dibawah guyuran hujan yang kedua kalinya bagi mereka. Hujan yang selalu meninggalkan cerita, merekam jejak, dan mencipta kenangan.
Hujan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan usai ketika mereka hampir tiba di rumah Dini. Hujannya awet meski tanpa tanpa bahan pengawet sekalipun. Hujannya setia menumpahkan air pada mereka yang mungkin memiliki rasa yang sama. Rasa yang sangat sulit terungkap, meski bagi sebagian orang itu adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tapi selalu, Adit itu pengecualian. Tak selalu sama dengan kebanyakan orang. Dia unik. Mungkin juga aneh.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Dini. Dini kemudian turun dari motor dan bergegas membuka pagar rumahnya.
"Adit, ayo masuk dulu. Hujannya masih deras itu..." kata Dini pada Adit yang masih berada di atas motornya. Jelas Adit tampak menggigil menahan dingin. Basah kuyup oleh hujan yang ia nikmati.
"Gak usah Din, lagian ini sudah jam berapa... aku juga mau langsung balik kok"
"Masuk dulu lah, bentar aja, aku bikinin teh hangat, kamu pasti kedinginan kan?" ujar Dini membujuk.
"Masih tahan kok dengan dingin yang begini, gak enak kalo aku masuk jam segini, apa kata orang nanti".
"Hmm... baiklah, tapi ini jas hujannya gimana?" tanya Dini seraya mulai melepaskan jas hujan Adit yang ia kenakan.
"Simpan dulu lah, besok pagi saja aku ambil, lagian besok kan libur. Sekalian teh hangatnya besok pagi saja... hahaha..." jawab Adit sambil tertawa.
"Serius gak mau pake jas hujan?" tanya Dini memastikan.
"Iya, lagian ini kan juga sudah basah."
"Okelah, hati-hati di jalan... jangan lupa kabarin kalo sudah nyampe rumah."
"Oke, siap bos..." kata Adit sambil tersenyum. "Ya sudah, aku balik dulu yah..." kata Adit dan kemudian berlalu pergi di tengah hujan yang masih setia menemaninya.
*****

0 komentar:
Posting Komentar