Minggu, 12 Januari 2014

Haruskah?

Tiga bulan telah berlalu sejak perkenalan mereka. Komunikasi keduanya pun cukup intens. Sering jalan berdua. Meski begitu, Adit masih seringkali tersenyum sendiri di kamarnya ketika mengingat awal pertemuannya dengan Dini. Perempuan berkacamata, berwajah oriental dengan rambut terurai sampai punggung yang terjebak di bawah hujan bersamanya saat malam pergantian tahun. Sepertinya ada rasa yang berbeda dirasakan Adit ketika bersama Dini. Yah, tiga bulan terakhir hari-harinya memang dipenuhi oleh Dini, smsnya, telponnya, curhatnya, dan masih banyak lagi. Entahlah, tapi dia tak mau terburu-buru mengartikan apa yang dia rasa. Yang dia tahu, dia merasa bahagia jika ada Dini di dekatnya. Bahkan jika sehari saja tak ada kabar dari Dini, dia mulai panik dan berpikiran yang tidak-tidak. Rasa khawatirnya memang terkadang berlebihan, apalagi pada orang yang dia sayangi. Yah, dia memang menyayangi Dini, tapi ia tak mau menyebut itu cinta. Baginya, terdapat perbedaan mendasar antara cinta dan sayang, begitu juga dengan sebuah kata suka.

Adit telah begitu terbiasa dengan keberadaan Dini, hingga ia lupa akan hari dimana dia belum mengenal Dini. Dini selalu mampu mencipta jejak di hatinya dengan segala tingkahnya yang kadang konyol, dengan gelak tawanya dan tentu saja senyumnya. Adit memang suka melihat Dini tersenyum kemudian menatap jauh ke dalam matanya menembus lensa yang menutupi mata indahnya. Manis sekali. Dan sekali lagi mereka terlibat percakapan dalam diam.

***
10 April 2011, ketika perlahan musim hujan mulai beranjak. Adit merasa perlu untuk menyatakan rasanya pada Dini. Yah, rasa sayang yang begitu nyata dan sudah sangat sulit untuk ia ingkari. Dan, entah kenapa hari itu menjadi hari teraneh yang ia rasakan. Begitu sulitnya untuk sekedar menelepon Dini, padahal hari-hari sebelumnya semua biasa saja. Ia begitu mudahnya mengambil handphone dan kemudian menelepon Dini. Ah, urusan rasa memang selalu sulit untuk dilogikakan.


bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar

 
;