Tiga bulan telah berlalu sejak perkenalan mereka. Komunikasi
keduanya pun cukup intens. Sering jalan berdua. Meski begitu, Adit masih
seringkali tersenyum sendiri di kamarnya ketika mengingat awal pertemuannya
dengan Dini. Perempuan berkacamata, berwajah oriental dengan rambut terurai
sampai punggung yang terjebak di bawah hujan bersamanya saat malam pergantian
tahun. Sepertinya ada rasa yang berbeda dirasakan Adit ketika bersama Dini.
Yah, tiga bulan terakhir hari-harinya memang dipenuhi oleh Dini, smsnya,
telponnya, curhatnya, dan masih banyak lagi. Entahlah, tapi dia tak mau
terburu-buru mengartikan apa yang dia rasa. Yang dia tahu, dia merasa bahagia
jika ada Dini di dekatnya. Bahkan jika sehari saja tak ada kabar dari Dini, dia
mulai panik dan berpikiran yang tidak-tidak. Rasa khawatirnya memang terkadang
berlebihan, apalagi pada orang yang dia sayangi. Yah, dia memang menyayangi
Dini, tapi ia tak mau menyebut itu cinta. Baginya, terdapat perbedaan mendasar
antara cinta dan sayang, begitu juga dengan sebuah kata suka.
Adit
telah begitu terbiasa dengan keberadaan Dini, hingga ia lupa akan hari dimana
dia belum mengenal Dini. Dini selalu mampu mencipta jejak di hatinya dengan
segala tingkahnya yang kadang konyol, dengan gelak tawanya dan tentu saja
senyumnya. Adit memang suka melihat Dini tersenyum kemudian menatap jauh ke
dalam matanya menembus lensa yang menutupi mata indahnya. Manis sekali. Dan
sekali lagi mereka terlibat percakapan dalam diam.
***
10
April 2011, ketika perlahan musim hujan mulai beranjak. Adit merasa perlu untuk
menyatakan rasanya pada Dini. Yah, rasa sayang yang begitu nyata dan sudah
sangat sulit untuk ia ingkari. Dan, entah kenapa hari itu menjadi hari teraneh
yang ia rasakan. Begitu sulitnya untuk sekedar menelepon Dini, padahal
hari-hari sebelumnya semua biasa saja. Ia begitu mudahnya mengambil handphone
dan kemudian menelepon Dini. Ah, urusan rasa memang selalu sulit untuk
dilogikakan.bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar