Aku tersadar ketika mencoba membuka
mata dan melihat nuansa putih memenuhi ruangan tempatku berbaring. Pandanganku
masih kabur dan perlahan sekelilingku mulai tampak jelas. Kakiku masih terasa
sakit jika digerakkan dan kemudian menyadari bahwa kakiku terbalut perban.
Mungkin patah. Dan sepertinya memang patah. Kepalaku pun masih terasa sakit dan
ternyata juga berbalut perban. Hah, ada apa denganku? Kulihat dipinggir ranjang
tempatku berbaring ada seseorang yang kukenal. Sepertinya ia nampak lelah
sekali. Yah, dia mamaku. Tertidur di samping tempatku terbaring. Aku menghela
napas panjang dan lagi melihat benda aneh di tangan kananku. Seperti jarum yang
tertusuk menembus kulit hingga pembuluh darahku kemudian disambungkan dengan
selang plastik dan sebuah kantung berisi cairan yang menggantung di tiang dekat
kepalaku. Aku diinfus ternyata. Dan ini pertama kali seumur hidupku.
Apa
yang terjadi padaku? Aku hanya mengingat terakhir ada bunyi klakson yang cukup
keras, setelah itu aku kemudian terbangun di tempat ini. Ruang putih dan bau
obat-obatan yang tak pernah kusuka. Kulihat jam dinding yang irama detiknya
begitu teratur. Masih menunjukkan angka tujuh. Entah itu pukul tujuh malam atau
pagi. Dan entah berapa lama aku terbaring disini. Aku mau pulang, dan berbaring
saja dikamarku. Menikmati hujan atau cahaya mentari dari balik jendela. Yah,
aku ingin pulang.
“Ma…,
bangun Ma…” kucoba membangunkan mamaku yang sedang tertidur di sampingku.
“Mmm…
iya… kamu sudah sadar nak…”, dengan mengucek matanya.
“Saya
ini kenapa Ma? Kenapa ada disini?”
“Kamu
kecelakaan nak, 3 hari yang lalu…”
“3
hari? Jadi saya sudah terbaring disini selama 3 hari?”
“Iya
nak…” jawabnya lembut dan tersenyum meski masih sangat tampak bekas air mata di
pipinya.
Ah…
kenapa bisa seperti ini. Kenapa harus berada di tempat ini. Kenapa aku harus
selalu merepotkan. Dan masih banyak lagi pertanyaan kenapa.

0 komentar:
Posting Komentar