Selasa, 31 Desember 2013

Tersadar

Aku tersadar ketika mencoba membuka mata dan melihat nuansa putih memenuhi ruangan tempatku berbaring. Pandanganku masih kabur dan perlahan sekelilingku mulai tampak jelas. Kakiku masih terasa sakit jika digerakkan dan kemudian menyadari bahwa kakiku terbalut perban. Mungkin patah. Dan sepertinya memang patah. Kepalaku pun masih terasa sakit dan ternyata juga berbalut perban. Hah, ada apa denganku? Kulihat dipinggir ranjang tempatku berbaring ada seseorang yang kukenal. Sepertinya ia nampak lelah sekali. Yah, dia mamaku. Tertidur di samping tempatku terbaring. Aku menghela napas panjang dan lagi melihat benda aneh di tangan kananku. Seperti jarum yang tertusuk menembus kulit hingga pembuluh darahku kemudian disambungkan dengan selang plastik dan sebuah kantung berisi cairan yang menggantung di tiang dekat kepalaku. Aku diinfus ternyata. Dan ini pertama kali seumur hidupku.

Apa yang terjadi padaku? Aku hanya mengingat terakhir ada bunyi klakson yang cukup keras, setelah itu aku kemudian terbangun di tempat ini. Ruang putih dan bau obat-obatan yang tak pernah kusuka. Kulihat jam dinding yang irama detiknya begitu teratur. Masih menunjukkan angka tujuh. Entah itu pukul tujuh malam atau pagi. Dan entah berapa lama aku terbaring disini. Aku mau pulang, dan berbaring saja dikamarku. Menikmati hujan atau cahaya mentari dari balik jendela. Yah, aku ingin pulang.
            “Ma…, bangun Ma…” kucoba membangunkan mamaku yang sedang tertidur di sampingku.
            “Mmm… iya… kamu sudah sadar nak…”, dengan mengucek matanya.
            “Saya ini kenapa Ma? Kenapa ada disini?”
            “Kamu kecelakaan nak, 3 hari yang lalu…”
            “3 hari? Jadi saya sudah terbaring disini selama 3 hari?”
            “Iya nak…” jawabnya lembut dan tersenyum meski masih sangat tampak bekas air mata di pipinya.

        Ah… kenapa bisa seperti ini. Kenapa harus berada di tempat ini. Kenapa aku harus selalu merepotkan. Dan masih banyak lagi pertanyaan kenapa.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;