Aku terdiam dalam waktu yang lama. Sudah hampir sejam berlalu, kita berdua hanya ada dalam kebisuan di tepi pantai ini. Tempat yang menjadi saksi kemesraan kita di waktu lalu mungkin juga saksi atas dosa-dosa yang kita lakukan. Tempat ini sangatlah indah saat tiba waktunya matahari terbenam di horison. Sekarang seolah menjadi tempat yang begitu menyiksaku. Tersiksa atas kenangan indah yang sekarang coba kuabaikan saat kau masih di sampingku. Apa benar kau ada di sampingku? Atau itu hanyalah ragamu saja? Sedang hatimu entah kemana perginya. Tak lagi kutemukan.
Lihatlah, sebentar lagi matahari akan terbenam. Aku meyakini ini adalah hari terakhir yang kusempatkan berdua denganmu di tempat ini. Tak usah ada harap akan waktuku di esok hari. Karena aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku denganmu. Tak guna lagi untuk dipertahankan, tak guna lagi diperbaiki. Piring yang pecah saja tak akan bisa kembali utuh sepenuhnya. Apalagi hati.
Tak perlu lagi memanggilku dengan kata sayang, apalagi cinta. Aku bukan kekasihmu lagi. Aku muak dengan semua kebohonganmu, dengan tipu dayamu, dengan semua kepalsuan yang kau tampakkan. Aku bersyukur, bahwa Tuhan masih menyadarkanku tentangmu yang sebenarnya sebelum aku melangkah terlalu jauh denganmu.
Tentang janjimu, usahlah kau tepati. Aku tak lagi butuh. Dulu kau berjanji ingin menikah denganku, membina rumah tangga denganku. Tapi semua itu palsu. Persetan dengan semua itu. Kau mau tahu kenapa? Karena akhirnya aku tahu kau pun mengatakan hal yang sama pada banyak kekasihmu yang lain. Ya, aku tahu semuanya. Aku tahu dari beberapa kekasihmu yang lain.
Pada akhirnya aku sadar. Hubungan kita tak akan pernah berhasil. Aku memilih bertobat atas dosa-dosa yang pernah kulakukan denganmu. Kenapa? Karena kita makhluk sesama jenis.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar