Sabtu, 13 Desember 2014

Aku dan Hujan

December rain. Yah, Desember yang penuh hujan. Menyingkap beberapa kenangan di waktu lalu, beberapa hanya singgah kemudian pergi lagi tetapi ada sebagian kecil yang memilih untuk tinggal. Mungkin saja 'dipilih' untuk tinggal. Hujan sepertinya tak pernah kehabisan cerita, entah itu tentangmu, tentangnya, tentang mereka, bahkan tentang aku sendiri. Terkadang aku dengan sengaja menyelinap diam-diam dalam beberapa kenangan itu, tapi untung saja tidak terlarut. Aku masih bisa menahan diri. 

Dulu, ketika hujan turun, aku biasa iseng dengan mencoba menghitung butiran-butirannya. Hah, hal yang mustahil. Atau terkadang aku membayangkan wajahmu yang tampak tersenyum padaku dalam derasnya hujan. Tapi, itu dulu. Sekarang aku cukup menikmati hujan dengan segelas teh. Yah, segelas bukan secangkir berteman dengan beberapa keping biskuit. Namun, pernah sekali waktu ketika hujan menderas aku membuat segelas teh, setelah tehnya jadi, hujannya tiba-tiba berhenti. Tetap saja aku menikmati tehnya, namun ketika tehnya telah habis, hujannya kemudian kembali menderas. Ah, mungkin hujannya cemburu pada segelas teh. Mungkin ia tak ingin diabaikan hanya karena segelas teh yang bisa kubuat setiap saat.

Perihal hujan dengan banyak ceritanya bersama orang-orang yang pernah dekat denganku. Sebenarnya ingin kutinggalkan saja di Desember bersama dengan deras hujan yang hampir datang setiap harinya. Mungkin hujan kali ini memberiku kesempatan untuk menghanyutkan semuanya, semua kenangan tentang mereka. Tentang perempuan bermata sipit itu, tentang seorang yang kusebut 'perempuan hujan' karena setiap bersamanya selalu saja turun hujan. Tentangnya yang coba hujan yakinkan padaku akan hadirnya. Dan, ahh... sudahlah. Semua hanya cerita. Semua hanya kenangan yang tempatnya ada di belakang. Tidak untuk menjadi masa depan. Tapi, tak salah jika sesekali menoleh ke belakang, tapi bukan untuk kembali. 

Esok, ketika mentari kembali menyapa dengan lembut sinarnya semua akan tetap baik-baik saja. Dan akan selalu baik-baik saja. Tak ada yang berubah. Aku pun tak berubah, masih sama. Untuk hal prinsipil. Mengenai masa depan, setiap kita punya rencana masing-masing, tapi tetap saja posisi kita sebagai perencana. Sedang Tuhan, adalah yang menentukan yang terbaik untuk kita semua. Jika ingin mendapatkan yang terbaik, berusahalah memantaskan diri untuk mendapatkannya. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;