Bahkan aku tak sadar, dan aku tak pernah tahu sejak kapan jatuh cinta padamu. Perkenalan kita berlangsung cepat. Tiga bulan lalu. Tak ada uluran tangan, hanya senyum yang terurai. Pertemuan tanpa sengaja dan kita tak pernah bertemu sebelumnya. Tahukah apa yang dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta? Ya, ia tak pernah bisa memilih diksi yang tepat untuk mengungkap perasaannya. Hanya berdiam dengan puluhan, bahkan mungkin ratusan balon kata seperti yang ada dalam komik. Ingin memecah balonnya agar semua kata terburai, berhambur, tapi takut menjadikan suasana menjadi lebih diam. Lebih dingin. Menyisihkan dingin yang diantarkan oleh hujan yang menderas di tengah malam.
Padahal itu hanya sejumput ragu dalam benakku. Tapi lebih memilih berdiam dan berlaku seolah tak ada apa-apa. Menikmati setiap percakapan dengan balon kataku. Bermonolog dalam diam. Seolah-olah.
Kamu tak pernah tahu, setiap kali di sampingmu aku lebih sibuk menata detak jantungku daripada memikirkan apa yang harus kuucap padamu. Lucu, mungkin. Tapi, masih dalam batas kewajaran daripada harus memilih menjadi gila. Menjadi gila atas hal-hal yang tak perlu kupahami. Hanya merasa.
Aku hanya tahu satu hal, merapal doa pada Tuhanku. Meyakinkan diri atas cinta yang hanya kumiliki. Sembari menikmati rekaman suaramu yang berisik di kepalaku sejak tadi. Hei, kapan kita bersepakat? Maksudku, kapan hati kita akan sepakat?
Kamu. Berkacamata. Rambut terurai hingga di bawah bahu. Berwajah oriental. Sosok imajinatif. Huhh!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar