Aku tak tahu ada angin apa yang berhembus padamu hingga kemudian sore tadi tiba-tiba saja aku menerima pesan singkat darimu. Yah, sepuluh hari setelah kita berbalas sms. Waktu yang kurasa cukup lama. Dan lagi, ini adalah yang kedua kalinya kamu memulai momen itu. Apa mungkin kamu merindukanku? Ah, kurasa tidak. Tapi, kenapa? Apa mungkin kamu tak terbiasa tanpa ada pesan singkat dariku meski hanya sebatas guyonan? Maaf, bukannya aku tak merindukanmu. Tapi aku hanya berusaha membiasakan diri tanpamu. Itu pun setelah hampir tiga bulan berlalu sejak kepergianmu dari sini.
Entah apa hubungannya dengan hujan. Selalu, dan masih saja. Sore tadi pun hujan seketika menderas. Sepertinya hujan pun tahu jika aku merindukanmu. Hanya saja aku mungkin terjebak dalam ego yang membuatku harus bertahan tanpa menyapamu lebih dulu. Asal kamu tahu aku sangat merindukanmu.
Hari ini, tak ada senja yang memerah. Ia kembali direnggut oleh hujan. Dan, kamu bilang disitu pun begitu. Jika boleh berandai, ada satu hal yang kuinginkan. Yaitu, sebuah kata rindu darimu untukku. Tapi, mungkin itu tak akan pernah terjadi. Yah, aku menginginkannya meski pun itu dalam batas candaan darimu. Disini masih terasa berbeda tanpamu.
Semoga saja pesan singkat darimu sore tadi menunjukkan bahwa kamu pun merindukanku. Hah, terlalu bodoh jika aku berpikir demikian. Aku bukanlah siapa-siapa untukmu. Jadi, untuk apa merindukanku? Miris, terkadang diriku pun menertawaiku yang masih saja bertahan pada rasa yang abstrak ini. Bahkan rasa yang cenderung absurd.
Aku lelah. Bukan lelah menyimpan rasa ini untukmu. Tapi, aku merasa lelah akan rindu yang senantiasa menemaniku. Dan tentu saja rindu itu masih akanmu. Jika pun nanti ada waktu yang memihakku untuk bertemu denganmu. Maukah kamu mengucap rindu untukku? Ah, tapi semuanya mustahil. Bahkan waktu sekali pun enggan memihak padaku.
Terkadang aku berpikir, apakah kamu juga ingin bertemu denganku? jika jawabmu iya, aku akan melakukannya. Menemuimu dengan jumlah lukisan rindu yang tak terhitung. Jika jawabmu iya, bersediakah menungguku untuk waktu itu? setidaknya sampai purnama ketigabelas berlalu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
kakak adry,, hhihi kayaknya saya pengen ngobrol empat mata soal "kamu" itu,, penasaranka,, kalaupun ini fiksi,,siapa kah sosok "kamu" yang jadi inspirasi ya ? :D
ahahaha.. nantilah kapan2.. :D
Posting Komentar