Aku tak pernah berpikir akan tiba pada hari ini. Ya, dua bulan sejak kamu pergi. Dan ternyata aku belum juga bisa melupakanmu. Aku pikir tak butuh waktu hingga dua bulan untuk melupakanmu. Tapi ternyata aku salah. Sampai hari ini usahaku untuk melupakanmu masih saja tak menuai hasil. Entah kapan berujung. Sampai hari ini, ternyata masih kamu yang duduk manis dipikiranku, dan masih jadi yang terpenting dalam hatiku. Mungkin bagimu ini terdengar berlebihan, tapi memang beginilah adanya. Seandainya kamu ada disampingku saat ini, pasti kamu bisa menebak apa yang akan kulakukan. Ya, aku akan bercerita banyak tentang hujan, rindu dan kenangan dalam diamku. Karena semua itu tak bisa terucap mudah dari lidahku.
Dua bulan seharusnya waktu yang lebih dari cukup untuk melepaskan rasaku. Perasaan terhadapmu yang sebenarnya tak pernah punya hubungan apa-apa denganku. Tapi, sekali lagi aku salah, aku kalah. Sosokmu masih saja berdiam dengan manisnya di pikiranku. Pun dalam hatiku. Mungkin karena sampai hari ini, belum pernah kulihat senyum yang mampu membuatku terdiam dalam detik yang mempunyai jeda. Belum pernah kudengar suara yang bisa membuatku duduk diam dan mendengarnya berceloteh tentang apapun yang seketika menjadi menarik. Ah, aku bodoh.
Ingin kukatakan padamu bahwa melupakan tak pernah mudah begitu pun dengan mengikhlaskan. Semuanya hanya begitu mudah diucap dan didengar tanpa mudah melakukannya. Kamu tahu apa yang kurasakan sekarang? Aku sedang dihajar rindu dan kenangan tentangmu. Dan semuanya lebih terasa lebih kuat ketika hujan menderas.
Dulu, aku mengenalmu dalam waktu yang begitu singkat. Dan tak butuh waktu lama untuk dekat denganmu. Tapi terlalu cepat jika dikatakan aku jatuh cinta padamu. Semuanya kubiarkan begitu saja berlalu. Pikirku, mungkin hanya ketertarikan sesaat. Tapi, aku lagi-lagi salah. Aku ternyata jatuh cinta padamu, bahkan sampai hari ini. Sampai jelang empat tahun sejak kita berkenalan. Aku tak pernah mengerti apa yang terjadi padaku. Aku yang tak mudah tertarik pada seseorang dengan mudahnya terjatuh dalam setiap tingkahmu. Kamu begitu berbeda dari yang lain. Dulu, sekarang, dan mungkin nanti.
Aku tak tahu apa yang sedang kamu lakukan sekarang. Apa kabarmu? sedang apa? apa masih sama seperti dulu yang kukenal? Aku yakin, kamu masih sama. Perasaan itu yang kemudian meluapkan rindu untuk bertemu dalam dunia yang nyata. Memaksa untuk memangkas jarak agar tak lagi jauh. Ya, aku ingin ada didekatmu. Di sampingmu. Di hadapmu. Untuk mendiamkanku.
Aku tak ingat kapan terakhir kita bertemu. Mungkin lebih tepat jika dikatakan aku tak ingin mengingatnya. Karena aku tak mau itu menjadi yang terakhir. Aku masih ingin bertemu denganmu. Duduk di sampingmu dan bercerita tentang banyak hal. Bisa aku meminta sesuatu padamu? Bisa? Bantu aku agar melupakan dan mengikhlaskanmu menjadi lebih mudah.
Sebenarnya ada satu hal yang sering mengusikku. Aku tak pernah tahu tentang perasaanmu padaku. Semoga saja tak ada. Dan sepertinya aku tak perlu tahu tentang itu. Cukuplah rasaku ini aku yang tahu, dan cukup rasamu kamu simpan sendiri. Tak perlu menemukan apa yang kita rasakan.
Aku benci jika harus mengakui ini. Aku memang sering merindukanmu. Terlebih ketika awan kembali meranggaskan titik-titik air menuju permukaan tanah. Aku bisa melupakanmu, tapi dengan syarat; hujan tak pernah turun lagi. Pikirkan caranya, karena hujan disini tak pernah mengenal teru-teru bozu.
Apakah kamu akan kembali? Iya? Kapan? Atau mungkin aku yang harus menyusulmu? Mungkin tidak.

0 komentar:
Posting Komentar