Oke, seminggu telah berlalu dari hari sidang komisi proposalku yang memberiku pelajaran yang amat berharga. Sejenak lupakan dulu masalah tentang skripsi itu. Karena, saat ini aku ingin bercerita lagi tentangmu. Ya, kamu. Bukan yang lain. Aku yakin kamu tahu jika yang kumaksud adalah dirimu. Haha... (mulai gila lagi saya...).
Kemarin... (maksud saya kemarinnya lagi... lagi-lagi kemarin, kenapa gak ditulis memang sih kemarin?)
Aku berjalan kaki ke kampus, entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi itu tak penting, aku menikmatinya. Berjalan kaki ke kampus yang entah jaraknya berapa tapi hanya membutuhkan waktu tempuh 30 menit jikalau hujan dan 20 menit kalau tak hujan.
Nah untuk yang pertama kalinya aku ke kampus dengan memakai payung besar berwarna pelangi (jadi ingat puisi waktu SD, walau hujan.. aku tetap pergi ke sekolah.. haha...).
Diperjalanan menuju kampus terdapatlah pelajaran yang berharga yang kudapatkan (kok jadi kayak nge-dongeng ya.. tapi.. sudahlah...). Maksud diriku seperti ini, yah dalam perjalanan sambil jalan kaki itu aku tersadar akan beberapa hal, seperti mulai menghormati hak pejalan kaki di kala hujan. Bayangkan jikalau kita naik motor terus ada air yang tergenang di pinggir jalan kemudian kita melaju kencang di atas air itu dan di saat bersamaan ada seorang pejalan kaki disitu... huh, yakin deh, pasti bakalan disumpahin yang jelek-jelek. Tapi, kemarin aku tak melakukannya, selain karena memang beruntung tak ada air yang menyiprat padaku. Hanya hampir saja. Sudahlah, tak penting membahas perjalananku. Dirimu masih lebih penting untuk kuceritakan sebelum aku tidur malam ini.
Baiklah, kita mulai tentangmu...
Beberapa hari terakhir aku jarang melihatmu, jujur aku merasakan kerinduan yang tak terdefinisikan, sulit diungkapkan hanya dengan beberapa potong kalimat. Intinya, aku merindukanmu. Itu saja. Kemarin, (maksudnya 2 hari yang lalu) aku ke kampus untuk mengincar tanda tangan pembimbing II-ku di berita acara sidang komisi proposalku, selain itu juga untuk bertemu dengan teman yang aku mintai tolong mencarikan software untuk penelitianku. Selain itu, aku tetap menyimpan asa untuk bisa melihatmu. Yah, hanya melihatmu saja. Itu cukup. Hingga sore menjelang, tak ada tanda-tanda bahwa pembimbingku akan datang. Yang kudapatkan hari itu hanya software dan beberapa tutorialnya dari teman.
Nah, disaat jenuhku mulai mendatangi di jelang sore itu. Aku menghabiskan waktu bermain PES 2013 di laptop seorang junior yang lagi nganggur di sekretariat himpunan (tempat nongkrong favoritku.. HIMABIO) selagi menanti hujan reda. Tak berapa lama, disaat sedang asyiknya main PES, tak sengaja aku menoleh ke pintu ketika ada suara perempuan memanggil. Aku tahu, itu bukan suaramu. Karena aku begitu hafal dengan suaramu yang khas. Tapi, aku melihatmu di belakang perempuan itu. Dengan pakaian berwarna merah bergaris hitam yang mungkin sudah melekat dipikiranku. Yah, aku melihatmu. Akhirnya. Sejenak aku merasa tak berada di bumi. Kamu mampu mengalihkanku. Yah, masih kamu. Aku seolah melihat bidadari yang turus selepas hujan. Dan, itu kamu.
Sekian dulu ceritaku tentangmu, lain kali kulanjutkan lagi. Karena aku yakin, cerita tentangmu tak akan pernah habis.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar