Aku sering berkata padamu, bahwa apa yang kita lakukan akan kembali pada diri kita, entah itu baik atau pun buruk. Tapi tentang cinta, apa bisa seperti itu? Bisakah hanya dengan cinta kepada seseorang, maka orang itu pun akan cinta juga kepada kita? Pertanyaan seperti ini bahkan tak bisa dijabarkan oleh ahli matematika sekalipun. Pikirku.
Lihatlah ke dalam mataku beberapa jenak, pandanglah lekat. Apa yang kau lihat? Benarkah kau sudah mengenalku? Apa kau lihat cinta di dalamnya? Tidak kan? Semoga tidak. Aku bukannya tak mau mengakui hadirnya cinta, bukan pula ingin menyamarkannya. Tapi, aku lebih suka untuk menyembunyikannya.
Tahukah? Ada getar yang berbeda saat aku melihat ke dalam matamu, mencoba untuk terus menipu diriku akan rasa yang kumiliki terhadapmu. Meski kau perempuan yang telah begitu terbiasa denganku, tapi rasa itu nyata hadirnya. Selalu kutolak dengan berbagai macam logika. Tapi, selalu aku yang terhempas oleh kata hatiku. Aku jatuh cinta padamu, harus kuakui itu. Apa kau merasakan hal yang sama?
Tatap matamu selalu mampu meluluhkanku, selalu. Mengungkap semua kejujuran dalam hatiku. Tapi, aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya.Aku tak tahu bagaimana mengartikannya. Hanya berharap kau merasakan hal yang sama. Bukankah itu bodoh? Aku bisa saja menyembunyikan rasa ini, darimu. Menipu orang-orang di sekelilingku bahwa aku tak jatuh cinta padamu. Tapi, tak pernah bisa menipu hatiku.
Hanya menunggu waktu saja, sampai aku mengungkap semuanya pada dunia, mengatakan semua isi hatiku padamu. Kemudian mengatakan, "aku mencintaimu".
Siapkah kamu mendengarnya?
- Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar