Setiap temu pasti selalu menyisakan cerita, terkadang juga meninggalkan cinta.
Kita baru saja bertemu beberapa bulan lalu. Terjebak dalam kekakuan yang mungkin memang seharusnya ada di setiap pertemuan. Aku mengamatimu, mengikuti setiap gerik tingkahmu saat kita bersama. Mendengarkanmu menghabiskan cerita, tentang apa saja. Sesekali aku melihat ke dalam matamu, tanpa kau sadari tentunya. Ya, kamu berbeda dari orang-orang yang yang pernah kukenal dan kutemui sebelumnya. Kamu seperti memiliki daya tarik tersendiri meski tak kutahu apa itu.
Ah, baru saja aku berpikir tentangmu. Kurasa ada rasa yang berbeda di tiap pertemuan kita. Aku jatuh cinta padamu? Hahaha... terlalu cepat untuk menjatuhkan vonis itu padaku. Aku bahkan orang yang tak mudah jatuh cinta. Apalagi kita belum saling mengenal lebih jauh. Pun, aku tak pernah tahu apa yang kamu rasakan. Mungkin biasa saja. Ini urusan hati yang kupikir tak perlu orang lain tahu. Karena, menurutku hal seperti ini tak perlu diterjemahkan, cukup dinikmati saja keberadaannya.
Jikapun nanti aku jatuh cinta padamu, haruskah bersambut? Apa aku harus memilikimu? Aku bahkan hanya ingin menyimpannya sendiri. Egois memang. Tapi, seperti itulah aku menikmatinya. Mungkin saja aku terlalu takut untuk sakit lagi seperti yang sudah-sudah. Cinta itu selalu persoalan waktu, tak cukup hanya dengan kata 'aku cinta padamu'. Selama ini aku terbiasa sendiri, menerjemahkan cinta dengan kamusku sendiri.
Aku bahkan percaya, bahwa cinta itu bisa saja datang karena kita sudah begitu terbiasa bersama. Menghabiskan banyak waktu bersama. Tak perlu diucap, cukup dirasakan hadirnya. Karena cinta, selalu punya cara untuk menyatukan dua hati. Jika hatiku telah memilihmu, yakinlah akan selalu ada waktu untukmu. Biarkan saja kita terbiasa.
- Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
Keren banget!
Wangun =))
Posting Komentar